Jakarta, Mediajurnalindonesia.id-Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi kampus negeri pertama di kawasan Indonesia Timur yang menerima kehadiran Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tersebut dinilai sebagai terobosan penting dalam mendukung program peningkatan gizi nasional sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.(7/5/26)
Ketua Dewan Pengawas Sahabat Awak Media Pertanian Indonesia (SAMPI), Jerry Roger, menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi.
“Program Makan Bergizi Gratis sangat memberikan manfaat. Yang paling utama tentu masyarakat mendapatkan makanan bergizi secara gratis. Selain itu, program ini juga membantu penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah,” ujarnya.
Menurut Jerry Roger, kehadiran Badan Gizi Nasional meski masih relatif baru, telah mampu memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku usaha lokal seperti pedagang bahan pangan, peternak ayam petelur, hingga petani beras.
Sementara itu, Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) angkatan tahun 2010, MOCH. ACHSAN RUMI, SH, M.Kn, menilai keterlibatan UNHAS dalam program MBG memiliki nilai strategis karena tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan makanan, tetapi juga menjadi pusat riset dan pengembangan gizi berbasis kampus.
“Hadirnya program MBG di Universitas Hasanuddin cukup menarik karena perannya bukan hanya sebagai tempat dapur makanan, tetapi juga sebagai pusat riset dan pengembangan gizi berbasis kampus. UNHAS bahkan disebut sebagai kampus pertama di Indonesia yang memiliki dapur MBG atau SPPG sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan perguruan tinggi dalam program tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian masyarakat secara langsung.
Menurutnya, sejumlah dampak positif dari program tersebut antara lain:
* Kampus dapat mengawasi kualitas gizi secara ilmiah, bukan sekadar mendistribusikan makanan.
* Mahasiswa dan dosen dari berbagai disiplin ilmu seperti gizi, kedokteran, pertanian, hingga teknologi pangan dapat terlibat langsung.
* Program MBG berpotensi menjadi “laboratorium hidup” untuk penelitian ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
* Pelibatan petani lokal dan pelaku UMKM dalam penyediaan bahan pangan diyakini mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar Makassar dan Sulawesi Selatan.
Langkah Universitas Hasanuddin ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya di Indonesia dalam mendukung program nasional peningkatan kualitas gizi masyarakat serta penguatan ekonomi berbasis kerakyatan.(Daeng Salman).

Tinggalkan Balasan