Mediajurnalindonesia.id-
Penulis : Ahmad Efendi
Beredar video dukungan dari Pak Din Syamsuddin kepada Pak Musyafirin untuk berpasangan dengan Ummi Rohmi di pilgub 2024. Dalam video tersebut Pak Din menyebut tokoh Pak Musyafirin sebagai pimpinan NU untuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), sebagai muballig dan sebagai birokrat yang berhasil membangun KSB. Tentunya dukungan Pak Din kepada Pak Musyafirin bukanlah sembarangan dukungan melainkan sebuah tindakan sosial yang sudah dipertimbangkan matang-matang, sehingga Pak Din menjatuhkan dukungan dan atau rekomendasinya kepada Pak Musyafirin.
Lalu apa pengaruh dukungan Pak Din Syamsuddin untuk elektabilitas Pak Musyafirin ketika berpasangan dengan Ummi Rohmi (Ririn)? Pertanyaan inilah yang akan dijawab selanjutnya .
Dalam hemat penulis, sosok Din Syamsuddin memberikan pengaruh positif guna menaikkan elektabilitas kepada Ririn. Hipotesa ini didasarkan pada adanya budaya paternalis yang masih sangat dominan di masyarakat. Kata seorang tetua di masyarakat masih menjadi hal yang cukup mempunyai posisi tawar. Fenomena demikian dapat dilihat dari berbagai peristiwa sosial di masyarakat. Berbagai macam masalah yang mengemuka dalam kehidupan sehari-hari baik di ranah privat sampai pada ranah yang lebih luas kata tetua hampir dapat dipastikan menjadi rujukan masyarakat untuk mengambil keputusan.
Dalam ranah publik kata tetua dan atau para tetua cenderung menjadi rujukan. Misal dalam pembangunan fasilitas publik seperti madrasah, masjid, surau dan lain sebagainya sudah dipastikan dirapatkan terlebih dahulu melibatkan banyak pihak. Dalam pada itu, kata-kata atau pendapat tetua mau tidak mau menjadi salah satu pertimbangan di dalam mengambil keputusan.
Apalagi dalam hal keputusan politik yang spektrumnya jauh lebih luas. Bisa jadi kata Pak Din dapat menjadi salah satu pertimbangan masyarakat Sumbawa untuk setia bersama barisan Ririn.
Analogi terdahulu bisa jadi berlaku di masyarakat Sumbawa pada konteks tendensi untuk mendengarkan kata-kata orang tua atau yang ditokohkan. Tentu saja ada dinamika dialektika di masyarkat Sumbawa dalam hal ini. Apalagi berkaitan dengan masalah politik yang sudah dipastikan berkait berkelindan dengan masalah-masalah lainnya.
Jika demikian hal berlaku. Lalu apa yang akan menjadi alas pijak bagi masyarkat Sumbawa untuk tetap merujuk pada ajakan Pak Din Syamsuddin? Paling tidak ada dua hal yang dapat dijadikan acuan oleh masyarakat Sumbawa. Pertama, nama besar Pak Din Syamsuddin. Kedua, kekuatan jaringan pondok pesantren yang dipimpin oleh Pak Din Syamsuddin di Sumbawa.
Sebagaimana diketahui bersama Pak Din adalah tokoh nasional. Pernah berada di posisi puncak kepengurusan organisasi Muhammadiyah 2005-2010, dan dari 2010-2015. Sebagai akademisi dan sebagai ketua dewan perdamaian dunia bagi dialog antar peradaban. Belum lagi sebagai mantan ketua MUI pusat dan sederet jabatan mentereng lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Di samping itu Pak Din dikenal sebagai sosok yang memegang teguh komitmen. Termasuk komitmen keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan. Berdiri bersama sama dengan para tokoh lainya dalam rangka memegang teguh komitmen baik di level masyarakat, bangsa dan negara.
Pak Din tercatat sebagai orang yang memperjuangkan demokrasi, keadilan dan toleransi. Pada saat yang sama tetap teguh dalam prinsip-prinsip keislamannya. Ia adalah sosok religius juga sekaligus sebagai seorang nasionalis tulen. Ia merangkul sekaligus memegang teguh prinsip-prinsip yang diyakininya sebagai ajaran agamanya. Buktinya ia mempersilahkan semua agama boleh masuk mendaftar di pondok pesantrennya. Semua orang boleh masuk di sana asalkan bisa mengikuti pembelajaran dengan menguasai dua bahasa yaitu Bahasa Arab dan Inggris.
Dalam hemat penulis semua rekam jejak yang dimilikinya akan mampu memberikan dampak positif bagi pergerakan Ririn di dalam memenangkan kontestasi politik di 2024 kini.
Kedua, jaringan Pondok pesantren. Din Syamsuddin d samping sebagai tokoh nasional bahkan internasional juga sebagai seorang pimpinan pondok pesantren moderen (PMI) di Sumbawa. Pondok pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Dea Malela sejak 2015/2016 mengadakan pendidikan di jenjang SMP dan SMA.
Pondok pesantren modern internasional (PMI), sesuai namanya memang bertaraf internasional karena santri atau siswanya tidak hanya datang dari masyarakat sekitar melainkan juga datang dari berbagai negara seperti Timur Leste, Thailand, Malaysia, Rusia dan lain-lain. Di tahun 2019 tercatat ada 320 santri yang bisa jadi terus berkembang seiring waktu berjalan.
Jaringan pondok pesantren yang dimiliki Pak Din tentunya juga mempunyai pengaruh positif bagi memperluas sinyal dukungan nya kepada salah seorang putra Sumbawa seperti Dr. Musafirin yang dinyatakan oleh Pak Din sebagai wakil masyarakat pulau Sumbawa untuk menjadi Wakil Gubernur mendampingi Ummi Rohmi di provinsi NTB. Ia meyakini Pak Musafirin akan mampu memberikan kontribusi positif bagi NTB jika terpilih nantinya bersama Ummi Rohmi. Dalam videonya Pak Din tidak saja mengajak masyarakat Sumbawa tetapi juga mengajak masyarkat Dou Mbojo yang berada di Dompu dan Bima. Begitu sepesialnya Pak Musyafirin yang nota bene tokoh NU dan juga Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), sehingga Pak Din seperti tidak ragu-ragu menyebarkan dukungannya.
Pengaruh TGB
Di Lombok sendiri kekuatan TGB masih menjadi harapan bagi kekuatan pasangan Ririn. Kekuatan TGB paling tidak dilihat dari perolehan suaranya kemarin sebagai calon legislatif dari partai Perindo. Belum lagi dikuatkan dengan perolehan suara Rifki Farabi sebagai runer up di pemilihan DPD NTB.
Suara TGB jika dibandingkan dengan suara calon DPR RI lainnya merupakan suara terbanyak. TGB ada tiga digit di angka depan. Sementara DPR RI lainnya ada dua digit di angka depan. Begitu juga suara Farabi yang sudah pasti sangat besar sehingga dijadikan sebagai nomer satu perolehannya dibandingakan dengan suara calon DPD lainnya.
Nah jika nantinya kedua tokoh berpengaruh ini turun gunung memback-up pasangan Ririn tentunya akan menjadi tambahan kekuatan yang power full untuk memenangkan kontestasi. Oleh karenanya bisa jadi Ririn akan menjadi Runer up di pilgub 2024. Apalagi bayang-bayang 10 tahun kepemimpinan TGB dahulu yang dapat dikatakan sukses membangun NTB dapat menjadi daya dorong bagi masyarakat untuk tegak lurus bersama di barisan Ririn.
(Pemerhati sosial- politik, Staf pengajar di Jurusan Sosiologi Agama UIN Mataram, Ketua Komunitas Batur NTB)(Ramli/Mji)
