Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPD Partai Gerindra NTB, Sudirsah Sujanto.

Mataram, Mediajurnalindonesia.id – Partai Gerindra menempati posisi teratas dalam peta elektabilitas partai politik berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli-3 Agustus 2026. Gerindra memperoleh elektabilitas sebesar 17,5 persen.

Survei yang melibatkan 1.200 responden tersebut menempatkan Gerindra di atas PDI Perjuangan yang memperoleh 12,8 persen. Selanjutnya, Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan 10,4 persen, disusul Partai Demokrat 8,1 persen, PKB 7 persen, dan PAN 5,1 persen.

Meski berada di posisi teratas dalam survei IPO, hasil tersebut belum dapat dijadikan gambaran final mengenai peta politik nasional. Sejumlah survei lain menunjukkan konfigurasi elektabilitas yang berbeda.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli 2026, misalnya, mencatat elektabilitas Gerindra sebesar 16,9 persen, PDI Perjuangan 11,7 persen, dan Golkar 9,6 persen. Sementara itu, survei B-Universe menempatkan PDI Perjuangan di posisi pertama dengan elektabilitas 21,7 persen, sedangkan Gerindra memperoleh 14,5 persen.

Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa preferensi politik masyarakat masih dinamis. Dalam survei SMRC, sekitar 25,9 persen responden bahkan tercatat memilih opsi tidak tahu atau tidak menjawab.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPD Partai Gerindra NTB, Sudirsah Sujanto, meminta kader tidak menjadikan hasil survei sebagai alasan untuk berpuas diri.

Menurut Sudirsah, posisi Gerindra di puncak survei justru harus menjadi pemacu agar mesin partai semakin aktif bekerja. Bagi dia, angka elektabilitas bukan ketok palu bahwa posisi politik Gerindra sudah aman.

“Jadi saya menyampaikan, dengan adanya hasil survei Gerindra teratas, kita jangan berpuas diri dan jangan terlena. Hasil survei itu dinamis, jadi jangan cepat puas. Justru ini harus kita gunakan sebagai pemacu semangat untuk terus bekerja dan tidak cepat puas,” kata Sudirsah.

Ia menekankan pentingnya menerjemahkan tren positif tersebut ke dalam kerja yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Termasuk memastikan program-program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan dan dirasakan manfaatnya.

“Artinya, dengan hasil survei ini kita berharap ada dampak nyata bagi masyarakat. Kita harus memastikan program kerja, khususnya program-program Bapak Presiden, benar-benar berjalan dan dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana jajaran internal Gerindra membaca hasil survei bukan semata sebagai capaian elektoral, melainkan sebagai dorongan untuk memperkuat kerja di lapangan.

Dalam kalkulasi politik, kerja akar rumput atau boots on the ground menjadi penting karena angka survei dapat bergerak seiring perubahan isu dan preferensi pemilih. Terlebih, masih terdapat kelompok swing voters yang belum menentukan pilihan secara permanen.

Sudirsah juga menilai kenaikan elektabilitas Gerindra menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap partai. Namun, ia mengingatkan agar kepercayaan tersebut tidak melahirkan sikap jumawa.

“Dengan naiknya hasil survei ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap Partai Gerindra. Tapi jangan terlena, apalagi sampai sombong,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penekanan bahwa pekerjaan politik Gerindra belum selesai. Capaian survei dapat menjadi modal untuk menjaga momentum, tetapi tetap membutuhkan konsolidasi dan kerja kader untuk mempertahankan kepercayaan publik.

Di sisi lain, perbedaan angka antara IPO, SMRC, dan B-Universe menjadi pengingat bahwa peta elektoral masih cair. Posisi partai dapat berubah mengikuti perkembangan isu, kinerja pemerintahan, popularitas tokoh, maupun respons masyarakat terhadap dinamika politik.

Karena itu, Sudirsah meminta kader melihat survei secara proporsional dan tidak terburu-buru membaca hasilnya sebagai kemenangan.

“Itu saja, hemat saya. Karena pemilihan masih jauh dan hasil survei juga bisa berubah-ubah,” tegasnya.

Dengan demikian, posisi Gerindra di puncak survei IPO menjadi sinyal positif bagi partai, tetapi sekaligus membawa pekerjaan rumah untuk mempertahankan kepercayaan tersebut. Bagi Gerindra NTB, pesan Sudirsah menempatkan capaian survei sebagai bahan bakar konsolidasi, bukan alasan untuk mengendurkan langkah.

Sebab, dalam politik elektoral, angka hari ini belum tentu menjadi angka esok. Yang menentukan pada akhirnya bukan hanya siapa yang unggul dalam survei, tetapi siapa yang mampu menjaga kepercayaan pemilih melalui kerja nyata hingga kontestasi tiba.(D)