Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id – Gelombang ombak di pesisir Pantai Cemare, Desa Lembar Selatan, berubah menjadi panggung adu cepat puluhan perahu nelayan yang disaksikan ribuan pengunjung, Minggu (26/7/2026). Riuh sorak penonton mengiringi setiap perahu yang berpacu menuju garis finis dalam ajang Lomba Perahu Cemare Eco Fest 2026, sebuah tradisi bahari yang kini dinilai memiliki potensi besar berkembang menjadi agenda wisata unggulan Kabupaten Lombok Barat.

Antusiasme masyarakat yang memadati kawasan wisata Pantai Cemare menjadi bukti bahwa budaya maritim masih memiliki daya tarik yang kuat apabila dikemas secara profesional. Tidak hanya masyarakat sekitar, pengunjung dari berbagai daerah juga hadir untuk menyaksikan perlombaan yang diikuti puluhan nelayan tersebut.

Selain menyuguhkan hiburan rakyat, lomba perahu juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi bahari yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir sekaligus memperkuat identitas budaya Lombok Barat.

Melihat tingginya animo masyarakat, Anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Sekotong–Lembar, H. Beny Basuki, S.T., menilai kegiatan tersebut layak dikembangkan menjadi agenda wisata berskala lebih besar.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Lomba perahu ini bukan hanya perlombaan, tetapi menjadi simbol kebersamaan masyarakat pesisir sekaligus bentuk pelestarian budaya bahari yang sudah diwariskan sejak lama. Kehadiran ribuan masyarakat menunjukkan tradisi lokal masih memiliki daya tarik yang sangat besar apabila dikemas dalam event seperti Cemare Eco Fest. Ke depan tentu kita berharap peserta tidak hanya berasal dari Dusun Cemare, tetapi juga melibatkan nelayan dari berbagai wilayah di Lombok Barat bahkan NTB,” ujarnya.

Menurut Beny, besarnya antusiasme masyarakat menjadi modal kuat bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk menjadikan Lomba Perahu Pantai Cemare sebagai agenda resmi dalam kalender pariwisata daerah.

Ia memastikan DPRD siap memberikan dukungan melalui fungsi penganggaran agar penyelenggaraan kegiatan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Insyaallah tahun depan kami akan mendukung melalui dana aspirasi DPRD dan mendorong agar kegiatan ini masuk dalam kalender event tahunan Kabupaten Lombok Barat. Bahkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB juga mengusulkan agar kegiatan ini berkembang menjadi Festival Bahari tingkat Provinsi. Ini tentu menjadi peluang besar yang harus kita perjuangkan bersama,” katanya.

Beny menilai penyelenggaraan festival bahari tidak hanya berdampak pada promosi wisata, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir melalui efek berganda yang dirasakan pelaku usaha lokal.

Menurutnya, ribuan pengunjung yang hadir membuka peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, penyedia jasa parkir, hingga nelayan yang dapat mempromosikan hasil tangkapan maupun paket wisata bahari.

“Ketika wisatawan datang, ekonomi masyarakat ikut bergerak. UMKM memperoleh pembeli, pedagang kuliner meningkat omzetnya, masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan dari parkir, sementara nelayan dapat memperkenalkan hasil tangkapan maupun potensi wisata bahari. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat apabila kegiatan ini dilaksanakan secara rutin,” jelasnya.

Ia juga menilai Pantai Cemare memiliki keunggulan yang tidak dimiliki destinasi wisata lain di Lombok Barat. Selain panorama matahari terbenam, kawasan tersebut menawarkan wisata mangrove, kuliner pesisir, wahana permainan air seperti banana boat, hingga panorama kapal-kapal yang keluar masuk Pelabuhan Lembar.

“Semua potensi itu merupakan modal besar untuk menjadikan Pantai Cemare sebagai ikon wisata bahari Kabupaten Lombok Barat,” tambahnya.

Di sisi lain, Beny menegaskan pengembangan destinasi wisata tidak akan maksimal tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Karena itu, DPRD akan memperjuangkan pembangunan jembatan permanen sebagai pengganti jembatan kayu yang selama ini menjadi akses utama menuju kawasan Pantai Cemare.

“Insyaallah kami akan memperjuangkan pembangunan fasilitas penunjang melalui APBD maupun dana aspirasi DPRD. Memang kebutuhan anggarannya cukup besar, diperkirakan lebih dari Rp25 miliar. Karena itu kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan agar pembangunan jembatan permanen ini segera terealisasi,” ungkapnya.

Menurut Beny, peluang pembangunan tersebut semakin terbuka karena Desa Lembar Selatan telah diusulkan sebagai lokasi Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Program nasional itu diharapkan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga kelompok masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian kawasan Pantai Cemare.

“Pantai Cemare memiliki potensi yang sangat lengkap. Tinggal bagaimana kita membangun infrastrukturnya, menjaga kelestarian mangrove, serta menghadirkan event-event berkualitas secara berkelanjutan. Jika itu dilakukan, saya optimistis Pantai Cemare mampu menjadi destinasi wisata bahari unggulan yang mengangkat nama Lombok Barat hingga tingkat nasional,” tutupnya. (Ramli Mji)