Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Utara memfasilitasi Pelatihan Jurnalis Kebencanaan Peduli Bencana yang digelar di Aula Kantor Bupati Lombok Utara, Rabu (24/12/2025).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman jurnalis dalam menyampaikan informasi kebencanaan secara akurat, edukatif, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Utara, M. Zaldi Rahadian, ST, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran media dalam isu kebencanaan. Menurutnya, kesalahan kecil dalam penyampaian informasi bencana dapat berdampak besar di tengah masyarakat.

“Ketika kita berbicara tentang bencana, sedikit saja informasi yang meleset, dampaknya bisa sangat luar biasa. Karena itu, media perlu memahami konsep kebencanaan secara utuh,” ujar Zaldi.

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, kata Zaldi, BPBD menghadirkan narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Zaldi menjelaskan, kondisi kebencanaan saat ini sangat relevan dengan dinamika yang terjadi di Indonesia, sehingga diperlukan informasi yang berbasis data dan analisis ilmiah.

Ia menerangkan, seyogyanya pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan pemaparan materi dari para narasumber di dalam ruangan, sedangkan dua hari berikutnya dilakukan praktik lapangan.

Diharapkan, pada awal pekan berikutnya para peserta sudah mampu menghasilkan tulisan kebencanaan yang komprehensif, mulai dari fase pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana, termasuk aspek rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Jangan hanya menulis soal pascabencana, misalnya rumah yang belum tuntas. Sebelum bencana juga harus diinformasikan, mulai dari wilayah Pemenang sampai Bayan, dengan potensi ancaman sesuai Kajian Penilaian Risiko Bencana (KPRB) yang sudah sangat jelas,” kata Zaldi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Lombok Utara, Sahabudin, M.Si, menjelaskan bahwa secara geografis dan meteorologis, Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi kerawanan bencana, baik bencana alam maupun nonalam. Lombok Utara ini terbuka ke arah laut lepas di sebelah utara dan diapit pegunungan di sebelah selatan.

“Kondisi ini menuntut adanya aksi yang bersifat preventif, mitigatif, hingga penanganan pascabencana. Di sinilah peran jurnalis sangat penting untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui tulisan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam konteks tersebut, jurnalis merupakan mitra strategis pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Kolaborasi yang terjalin melalui diskusi dan komunikasi informal menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman bersama tentang kebencanaan.

Dengan adanya pelatihan ini, Sahabudin berharap jurnalis memiliki wawasan yang lebih luas sehingga mampu menyosialisasikan informasi kebencanaan secara bijak kepada masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh dan Sumatera, yang pemberitaannya memerlukan kepekaan tinggi dalam pemilihan diksi.

“Pilihan kata yang kurang tepat bisa menimbulkan trauma. Alhamdulillah, dengan diksi yang baik dan diperkuat pesan-pesan keagamaan, masyarakat dapat menerima musibah dengan lebih ikhlas dan proses pemulihannya pun lebih cepat,” katanya.

Melalui pelatihan ini, BPBD Lombok Utara berharap terbangun jurnalisme kebencanaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga empatik dan mampu memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana.(Ab)