Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id – Program pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar di Halaman Kantor Desa Giri Sasak mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat. Salah satunya disampaikan oleh R. Wijaya, tokoh masyarakat Kecamatan Kuripan, yang menilai program tersebut sebagai terobosan luar biasa dan patut menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Lombok Barat. Kamis, 22/1/2026

R. Wijaya Selaku Tokoh muda yang ada di Kecamatan Kuripan ini menyampaikan bahwa program yang dihadirkan oleh Kepala Desa Giri Sasak merupakan langkah strategis dan inovatif dalam menjemput program dari luar desa.

“Menurut saya, program yang didatangkan oleh Kepala Desa Giri Sasak ini adalah program yang sangat menarik. Mungkin di Kabupaten Lombok Barat hanya beberapa desa yang mampu melakukan hal seperti ini. Kepala desa harus aktif menjemput program, karena sekitar 75 persen peran kepala desa itu berada di luar untuk mencari program, dan 25 persen di dalam desa untuk melayani masyarakat,” ujarnya.

Ketua LPM Desa Jagaraga tersebut juga mengaku bangga atas kinerja Kepala Desa Giri Sasak, Hamdani, dan berharap pola kerja tersebut bisa diikuti oleh desa lain, termasuk di wilayah Jagaraga ke depan.

“Saya sangat bangga dan sangat mengapresiasi Kepala Desa Giri Sasak. Mudah-mudahan ke depan desa-desa lain bisa mengikuti pola ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Giri Sasak, Hamdani, menjelaskan bahwa program pengobatan gratis tersebut merupakan hasil kerja sama dengan perguruan tinggi dari pusat.

“Program ini berasal dari universitas, yaitu Universitas Tarumanagara Nusantara. Tim medisnya sekitar 70 orang. Kami sudah berkomunikasi sejak tahun 2025, dan alhamdulillah baru bisa dilaksanakan pada Januari tahun ini,” jelasnya.

Menurut Hamdani, program tersebut merupakan agenda nasional yang dilaksanakan secara bergilir di berbagai daerah di Indonesia.

“Program ini keliling Indonesia. Tahun ini di NTB, tahun depan rencananya di Sumatera. Tujuannya untuk meringankan beban masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, program ini sangat membantu masyarakat Desa Giri Sasak, terutama warga yang BPJS Kesehatannya tiba-tiba tidak aktif.

“Banyak masyarakat kami yang BPJS-nya mati secara tiba-tiba. Dengan adanya program ini, setidaknya bisa mengobati kekecewaan masyarakat dan membantu mereka mendapatkan layanan kesehatan,” katanya.

Hingga siang hari, tercatat lebih dari 500 warga telah memanfaatkan layanan tersebut, dan diperkirakan jumlahnya akan mencapai sekitar 1.000 orang hingga sore hari. Menariknya, program ini tidak membebani anggaran desa, kabupaten, maupun provinsi.

“Di Provinsi NTB hanya ada enam desa yang mendapatkan program ini. Kami berharap ini bisa menjadi contoh bagi universitas-universitas lain di NTB untuk bersinergi dan menghadirkan program serupa,” pungkas Hamdani.

Terpisah Ketua Panitia Mahasiswa, Melinda Gloria, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Metta Fay ke-31, yang digagas oleh organisasi Dharmayana di bawah naungan Universitas Tarumanagara, (UnTar) Jakarta.

“Metta Day atau Hari Kasih Sayang ini merupakan kegiatan Hari Cinta Kasih, di mana kami melayani masyarakat melalui berbagai bentuk pelayanan gratis, salah satunya pengobatan gratis,” jelas Melinda.

Pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan seperti gula darah, kolesterol, tensi, dan asam urat, pengobatan umum, bedah minor, layanan kesehatan gigi, hingga pembagian kacamata baca gratis.

“Kami juga menyediakan pencabutan gigi, pembersihan karang gigi, serta bedah minor untuk kasus-kasus ringan,” tambahnya.

Selain layanan kesehatan, panitia juga melakukan edukasi kesehatan ke sekolah-sekolah dasar, seperti cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar, serta membagikan alat tulis kepada siswa.

Melinda menyebutkan bahwa kegiatan ini berskala nasional dan telah dilaksanakan di berbagai daerah, seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan.

“Ini sudah tahun ke-31 dan setiap tahun lokasi pelaksanaannya berpindah-pindah. Tahun ini kami berada di Lombok Barat, NTB ” katanya.

Adapun kriteria desa penerima program antara lain memiliki akses layanan kesehatan yang terbatas, kondisi ekonomi masyarakat yang kurang, serta keterbatasan tenaga medis.

“Target kami minimal 400 peserta, tetapi tidak ada batas maksimal. Semua masyarakat boleh hadir tanpa dipungut biaya sepeser pun, dari semua usia dan kalangan,” tegasnya.

Kegiatan ini melibatkan 58 mahasiswa, 12 dokter, terdiri dari satu dokter spesialis bedah, tiga dokter gigi, dan sembilan dokter umum. Seluruh obat-obatan didatangkan langsung dari Jakarta.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya berhenti hari ini, tetapi juga memberikan edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan dan tidak menunggu sakit parah baru berobat,” tutup Melinda. (Ramli Mji)