Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Jawa Timur, Mediajurnalindonesia.id  – Presiden Prabowo Subianto menanggapi dengan santai isu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat menghadiri peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Dalam pernyataannya di hadapan awak media, Prabowo menilai kekhawatiran berlebihan terhadap fluktuasi kurs mata uang tidak perlu dirasakan oleh masyarakat di tingkat pedesaan. Menurutnya, kehidupan sehari-hari warga desa lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok yang diperdagangkan dalam rupiah, bukan transaksi berbasis dolar.

“Orang desa tidak pakai dolar, kok. Mereka urusannya dengan beras, jagung, cabai, bawang. Itu semua dalam rupiah,” ujar Prabowo seperti dilansir dari siaran pers Sekretariat Presiden.

Presiden menambahkan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak hanya diukur dari nilai tukar mata uang, melainkan juga dari kemampuan negara menjamin ketersediaan pangan dan energi bagi rakyatnya. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Prabowo menegaskan bahwa kondisi ketahanan pangan dan energi Indonesia masih dalam posisi aman.

“Kita punya beras cukup, energi juga terjaga. Selama kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, fondasi ekonomi kita tetap kokoh,” tegasnya.

Pernyataan Prabowo ini disampaikan di sela-sela prosesi peresmian Museum Marsinah, sebuah ruang memorial yang dibangun untuk menghormati perjuangan Marsinah, aktivis buruh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada November 2025. Museum yang dibangun tanpa menggunakan dana APBN maupun APBD ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 3,8 miliar dari gotong royong keluarga besar KSPSI.

Sebagai informasi, hingga pertengahan Mei 2026, rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS dan diperdagangkan di kisaran Rp 17.400 per dolar AS. Bank Indonesia dan para ekonom terus memantau perkembangan nilai tukar ini sembari menjalankan strategi stabilisasi melalui koordinasi kebijakan moneter dan fiskal.

Menanggapi dinamika tersebut, Prabowo mengajak seluruh pihak untuk tetap tenang dan fokus pada penguatan produktivitas domestik. “Daripada pusing melihat angka di layar, lebih baik kita kerja keras memproduksi, menanam, dan berkarya. Itu yang bikin negara kuat,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, serta Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.

Peresmian Museum Marsinah juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk kembali menegaskan komitmen terhadap perlindungan hak-hak pekerja dan penguatan ekonomi kerakyatan sebagai pilar ketahanan nasional di tengah gejolak ekonomi global.(Red)