Lombok Tengah, Mediajurnalindonesia.id – Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara melakukan studi tiru budidaya ikan nila dengan sistem bioflok ke Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti kelompok pembudidaya ikan air tawar dari lima kecamatan di Lombok Utara. Studi tiru dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pembudidaya dalam mengelola usaha perikanan sekaligus mengenalkan teknologi budidaya yang dinilai dapat menjadi alternatif pengembangan ikan air tawar.

Dalam kunjungan itu, rombongan mempelajari penerapan teknologi bioflok, mulai dari pengelolaan hingga praktik budidaya. Sistem tersebut merupakan metode budidaya ikan yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah organik menjadi flok yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan tambahan.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Tengah, Supril Yadi, menyambut rombongan dari Lombok Utara. Ia membagikan pengalaman salah satu kelompok pembudidaya bioflok di daerahnya yang mulai mengembangkan usaha sejak 2022.

Menurut Supril, kelompok tersebut berkembang secara swadaya melalui ketekunan dan konsistensi para anggotanya tanpa bergantung pada intervensi anggaran fisik pemerintah daerah.

“Bioflok di sini lahir dari nurani dan hobi para anggotanya. Peran dinas selama ini berfokus pada pendampingan intensif melalui petugas penyuluh lapangan. Kunci utamanya adalah motivasi dan konsistensi,” kata Supril.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat kelembagaan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan). Kelompok tersebut, kata dia, tidak boleh hanya dibentuk untuk mendapatkan bantuan, tetapi harus mampu berkembang menjadi kelembagaan usaha yang berkelanjutan dan memiliki daya saing.

Penerapan bioflok di Lombok Tengah, lanjut Supril, juga mulai mendapat respons positif dari pasar. Permintaan ikan hasil budidaya bahkan terus meningkat sehingga kelompok pembudidaya kerap kesulitan memenuhi kebutuhan pembeli.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perikanan DKP3 Lombok Utara, I Putu Heri Suditha, optimistis studi tiru tersebut dapat mendorong pembudidaya di Lombok Utara mengadopsi teknologi bioflok.

“Sebagian besar pembudidaya di Lombok Utara masih mengandalkan kolam konvensional. Karena itu, kami berharap metode bioflok ini dapat segera diadopsi dan dikembangkan sesuai kondisi masing-masing kelompok,” ujar Heri.

Menurut Heri, tujuan kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan teknologi baru, tetapi juga membangun kemandirian kelompok pembudidaya. Pemerintah daerah ingin mendorong kelompok agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.

“Kata kuncinya bukan seberapa banyak bantuan yang datang, tetapi seberapa kuat ikhtiar kelompok untuk memajukan dirinya sendiri. Kami ingin meretas kembali kejayaan budidaya air tawar Lombok Utara,” katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan hasil studi tiru, DKP3 Lombok Utara berencana membentuk jejaring komunikasi melalui WhatsApp Group. Jejaring tersebut akan mempertemukan pembudidaya, pemasar ikan, dan penyedia pakan.

Jejaring itu diharapkan dapat memperkuat akses informasi sekaligus membuka peluang pasar bagi hasil budidaya ikan air tawar. Salah satu peluang yang dibidik ialah pemenuhan kebutuhan ikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), selain mengantisipasi kekurangan pasokan ikan laut pada periode tertentu.

Kunjungan tersebut ditutup dengan komitmen kedua daerah untuk membangun sinergi dan komunikasi berkelanjutan dalam pengembangan perikanan air tawar.(D)