Mediajurnalindonesia.id-
==================
Oleh: Abah_Rosela

Menuju puncak harus dari tangga pertama. Menuju finish harus dimulai dari langkah pertama. Tidak mengapa kita harus sedikit pelan (karena ada proses) untuk sampai tujuan, yang penting kita tidak diam di tempat semula.

Menuju puncak kemuliaan dari sebuah perjuangan besar tidak ada yang ringan-ringan saja. Nabi Nuh sampai mengeluh. Ibrahim harus dibakar. Harun mengalami gergaji. Yahya pun disembelih. Nabi Isa harus berjalan sendiri. Bahkan Nabi Muhammad diboikot, sampai hendak dibunuh, dan mesti harus hijrah demi cita-cita mulianya.

NTB-1 bagi kita adalah cita-cita mulia dan besar. Ia mulia dan besar karena ikhtiar perjuangan ini berbalut niat ibadah. Ibadah yang diaplikasikan dengan ketulusan untuk mengabdi sepenuh hati, dan melayani rakyat dengan setulus hati, untuk membawa daerah ini menjadi lebih maju dan berdaya saing.

Menuju NTB-1 sama dengan menuju kemenangan. Keinginan untuk meraih kemenangan, sama besarnya dengan keinginan untuk menjalani proses dan menyadari bahwa tidak semua di kanan-kiri jalan bertabur bunga. Artinya, ada halangan, ujian dan cobaan selama ini, kita maklumi.

_Bila berjuang harus waspada_
_Jangan lengah sekejap mata_
_Teguhkan hati rapikan panca_
_Silap mata pecah kepala_

(Sumber; Tambahan Penting WRM: 13).

Wasiat Maulana ini menjadi kompas, dan energi perjuangan. Bila menjelang hari kemenangan ada indikasi keberpihakan “tangan kuasa” kepada calon tertentu, kita tidak boleh goyah dengan semua itu, toh dia bukan penentu. Jelas sekali pesan Maulana.

Perihal terpenting sekarang dalam perjuangan menuju puncak ini, adalah kita tetap mawas diri dan selalu waspada, jangan ada yang lengah-lalai dengan taktik rival, dan mari kita kuatkan hati bahwa ada rida Allah bersama rida ibu (Umi Rauhun yang merestui Umi Rohmi) dalam ikhtiar ini.

Aduh sayang.
_Hendaklah nakku berjiwa teguh_
_Berhati murni berjuang penuh_
_Terus menerus tidak mengeluh_
_AUR DITANAM BETUNG TUMBUH_

(Sumber; Tambahan Penting WRM: 26)

Fokus pada menjalani alur dan syarat perjuangan, maka kemenangan akan dengan sendirinya berpihak di barisan kita, barisan Rohmi-Firin. _Insyaallah._

“Menuju Puncak Kemenangan” menjelang hari pencoblosan, ada langkah paling nyata yang harus kita bangun yakni antara lain:

_Pertama,_ bangun sinergi dan kokohkan kebersamaan. Umi Rohmi selalu mengingatkan bahwa NTB ini terlalu besar sehingga harus dibangun di atas pondasi kebersamaan. Termasuk untuk menggapai kepemimpinan menuju NTB-1.

Karena itu. Jangan ada yang lengah. Jangan ada yang lalai. Jangan pula ada yang pandai menyalahkan teman seperjuangan. Justru mari kita saling rangkul. Seperti pesan Umi Rauhun; mari sampaikan perjuangan ini, silakan saling beritahu perjuangan mulia ini, supaya kita menyongsong kemenangan gemilang.

_Kedua,_ rapikan dan mantapkan ikhtiar. Perkuat dan kawal terus basis masa kita. Masing-masing petugas pada setiap tingkatan mengoptimalkan kerja dan pengawasan.

Bagaimana wakil kita di KPPS-KPPS, Saksi-saksi, dan Pengawal Suara di Dusun, Desa dan Kecamatan hingga di tingkat Kabupaten sampai Provinsi sudah aman dan rapikah? Semoga semua sudah tertata rapi!

Kerja-kerja yang rapi, terukur dan terstruktur harus dimantapkan. Termasuk menjaga ucapan dan sikap menjelang hari kemenangan juga penting menjadi atensi bersama (no black camping), karena hal ini menunjukkan siapa sejatinya kita.

_Tata tertib perlukan ada_
_Tutur bahasa perlu dijaga_
_Akhlak luhur tanda mulia_
_BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA_

(Sumber; Tambahan Penting WRM: 27)

_Ketiga,_ perbanyak doa. Doa bukan hanya bernilai ibadah. Doa juga berarti amunisi. Doa juga bermakna senjata. Doa juga bagian dari energi. Termasuk doa adalah pembangun optimisme menuju kemenangan NTB-1. Sebagai orang beriman kita percaya itu.

Terlebih lagi, bila spektrum doa kita diperbanyak dan diperkuat dengan doa yang sama, bersama-sama, pada waktu yang sama, dan di waktu yang istimewa, serta tempat mulia, maka kemenangan itu terasa semakin dekat dan nyata. _Insyaallah!_

Para Pembesar kita (mungkin) bisa menginisiasi Hiziban Akbar di masing-masing Kabupaten/Kota melalui _live streaming_ bersama dengan titik pusat hiziban di Al-Abrar bersampingan dengan Pusara Maulana Hamzanwadi. Sekadar usul al-Faqir.

Akhirnya. Teriring doa untuk menggapai puncak kemenangan, _”Demi Kebesaran-Mu, ya Allah. Kami mohon ampunan dan rida-Mu. Dalam sujud aku selalu memohon: Mantapkan perjuangan ini. Satukan kami dalam barisan yang satu. Pemenang hanya satu. Ya Allah, menangkan Paslon Nomor Satu. Kuatkan Umi kami menuju NTB Satu.”_ Amiiin!_Wa Allah A’lam!_