Gerung, Mediajurnalindonesia.id- Setiap pagi, ratusan siswa memasuki gerbang MAN Lombok Barat dengan senyum dan harapan baru. Namun, di balik riuh tawa yang memenuhi halaman madrasah, ada satu hal yang terus dijaga oleh para pendidik: memastikan tak ada satu pun peserta didik yang pulang membawa luka yang tak kasat mata.

Luka itu bukan akibat terjatuh di lapangan atau tersandung di lorong sekolah, melainkan luka batin yang lahir dari ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga perundungan yang perlahan meruntuhkan rasa percaya diri seorang anak.

Berangkat dari kesadaran bahwa bullying merupakan ancaman serius bagi masa depan generasi muda, MAN Lombok Barat memilih mengambil langkah nyata. Bukan sekadar memasang slogan “Stop Bullying” atau menyampaikan imbauan saat upacara, madrasah ini membangun sistem perlindungan yang terstruktur melalui pembentukan Satgas Anti Bullying dan Program Wali Asuh.

Dua program tersebut menjadi fondasi baru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan penuh kepedulian.

Satgas Anti Bullying berada di bawah koordinasi Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan bersama guru Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai pelaksana utama. Di bawah arahan langsung Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., satgas ini juga melibatkan peserta didik sebagai duta perubahan budaya madrasah, sehingga upaya pencegahan dilakukan secara kolaboratif.

Menurut H. Kemas Burhan, persoalan bullying sering kali dianggap remeh karena dibungkus sebagai candaan. Padahal, dampaknya dapat membekas jauh lebih lama daripada luka fisik.

“Bullying sering dianggap hanya candaan biasa. Padahal, bagi korban, satu kalimat ejekan bisa membekas bertahun-tahun. Ada anak yang kehilangan rasa percaya diri, enggan masuk sekolah, bahkan takut bertemu teman-temannya. Karena itu, kami ingin memastikan MAN Lombok Barat benar-benar menjadi tempat yang aman untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi. Tidak boleh ada satu pun peserta didik yang merasa sendirian menghadapi masalahnya,” ujar H. Kemas Burhan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/7/2026).

Baginya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor atau deretan prestasi akademik.

“Kami tidak ingin hanya melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi miskin empati. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan maknanya. Madrasah harus melahirkan generasi yang menghargai perbedaan, menjaga lisan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Karena itu, perang melawan bullying bukan sekadar program kesiswaan, melainkan gerakan seluruh warga madrasah.”

Komitmen tersebut diperkuat melalui Program Wali Asuh, sebuah pendekatan yang menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping kehidupan peserta didik.

Berbeda dengan wali kelas yang berfokus pada administrasi pembelajaran, setiap guru dalam program ini dipercaya membimbing sekitar 20 siswa dari berbagai kelas. Hubungan yang dibangun tidak berhenti di ruang belajar, melainkan berkembang menjadi komunikasi yang hangat layaknya orang tua kedua.

Melalui pendekatan ini, guru diharapkan mengenal karakter, potensi, hingga persoalan yang dihadapi setiap anak didiknya.

Program tersebut lahir dari keyakinan bahwa banyak persoalan remaja sebenarnya dapat dicegah apabila mereka memiliki orang dewasa yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.

“Kami ingin setiap anak memiliki satu guru yang benar-benar mengenalnya. Guru yang tahu ketika wajahnya berubah murung, ketika semangat belajarnya menurun, ketika sering absen, atau ketika menyimpan persoalan yang bahkan belum sempat ia ceritakan kepada orang tuanya. Dengan jumlah sekitar dua puluh anak asuh, komunikasi akan lebih hangat. Inilah pendidikan berbasis kepedulian,” kata H. Kemas Burhan.

Ia menegaskan, tugas wali asuh bukan mencari kesalahan siswa, melainkan mendampingi mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

“Kadang yang dibutuhkan anak bukan nasihat panjang, tetapi seseorang yang mau mendengar. Jika kedekatan emosional itu terbangun, maka bullying, kenakalan remaja, hingga berbagai persoalan lainnya akan lebih mudah dicegah.”

Sementara itu, Satgas Anti Bullying menjadi garda terdepan dalam menerima laporan, melakukan pendampingan, memberikan edukasi, hingga menyelesaikan setiap persoalan secara profesional dan berkeadilan.

Pendekatan yang diambil tidak semata-mata berorientasi pada pemberian sanksi kepada pelaku, tetapi juga pembinaan dan pemulihan hubungan antarpeserta didik. Sebab, dalam sejumlah kasus, pelaku perundungan juga memerlukan pendampingan agar memahami dampak dari perilakunya.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Muhsan, S.Pd., menegaskan bahwa kehadiran satgas bukan untuk menciptakan rasa takut di lingkungan sekolah.

“Satgas ini bukan polisi madrasah. Kami ingin menjadi sahabat siswa. Mereka harus merasa nyaman melapor ketika melihat atau mengalami bullying. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula persoalan dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.”

Selain menangani kasus secara langsung, guru BK yang tergabung dalam satgas juga melakukan pemetaan terhadap potensi perundungan, termasuk cyber bullying yang kini semakin marak terjadi melalui media sosial.

Meski berlangsung di luar lingkungan sekolah, dampaknya tetap dirasakan peserta didik ketika kembali ke madrasah.

Melalui sosialisasi, konseling, pendidikan karakter, dan pendampingan wali asuh yang dilakukan secara berkelanjutan, MAN Lombok Barat berharap budaya saling menghormati tumbuh bukan karena takut terhadap hukuman, melainkan lahir dari kesadaran dan empati.

Bagi MAN Lombok Barat, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang banyaknya piala yang dipajang di lemari prestasi atau tingginya nilai akademik para siswa.

Keberhasilan sejati adalah ketika setiap anak datang ke sekolah tanpa rasa takut, belajar dengan penuh semangat, lalu pulang membawa senyum, rasa percaya diri, dan keyakinan bahwa dirinya dihargai.

Melalui Satgas Anti Bullying dan Program Wali Asuh, MAN Lombok Barat mengirimkan pesan yang tegas sekaligus menyejukkan: tidak ada ruang bagi perundungan, tetapi selalu ada ruang untuk pembinaan, kepedulian, dan kasih sayang.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan semata mencerdaskan akal, melainkan juga menjaga hati. Saat setiap anak merasa aman, didengar, dan dicintai, di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya hadir.(Red***)