Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Upaya mewujudkan lingkungan pendidikan keagamaan yang aman dan ramah anak terus dilakukan di Kabupaten Lombok Utara. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) berkolaborasi dengan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar kegiatan Road to Pesantren di Pondok Pesantren Istiqomatul Fallah, Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga, Jumat (30/10/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan santri dan santriwati tersebut difokuskan pada sosialisasi pesantren ramah anak, pencegahan perundungan (bullying), kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren.

Ketua GP Ansor Lombok Utara, M. Yaqub, mengatakan kolaborasi lintas badan otonom dan lembaga Nahdlatul Ulama (NU) tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap perlindungan santri. Menurut dia, menjaga pesantren tidak hanya berarti menjaga nama baik lembaga, tetapi juga mempertahankan marwah, kehormatan, nilai-nilai keilmuan, serta keselamatan seluruh santri.

Ia menegaskan, pesantren harus menjadi ruang pendidikan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah, kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perlindungan hak-hak anak.

“Pesantren tidak boleh memberikan ruang bagi tindakan perundungan, kekerasan, intimidasi, maupun segala bentuk pelecehan dan kejahatan seksual,” ujarnya dalam penyampaian materi.

Yaqub juga mengingatkan bahwa perlindungan terhadap kiai dan santri merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen pesantren. Pengasuh, ustaz dan ustazah, pengurus, santri, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat.

“Menjaga kiai berarti menjaga marwah pesantren, sedangkan menjaga santri berarti menjaga masa depan pesantren,” katanya.

Selain membahas perlindungan santri, kegiatan tersebut juga menjadi momentum refleksi dalam memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda. Kedua momentum itu dinilai relevan untuk mendorong lahirnya generasi santri yang visioner, berkarakter, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan transformasi digital.

Menurut Yaqub, santri masa kini tidak cukup hanya memiliki penguasaan ilmu agama. Mereka juga perlu dibekali literasi digital, kemampuan berpikir kritis, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Sementara itu, Ketua LPBHNU Lombok Utara, Marianto, S.H., menegaskan bahwa pesantren harus menjadi tempat yang memberikan perlindungan menyeluruh bagi para santri. Ia menilai, tidak boleh ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan yang dapat mengancam keselamatan dan masa depan peserta didik.

“Pesantren harus dijaga, santri harus dilindungi, dan kekerasan harus dihentikan,” tegas Marianto.

Ia menambahkan, pesantren yang bermartabat bukan hanya dituntut melahirkan generasi yang alim dan berakhlak, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, humanis, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Melalui kegiatan Road to Pesantren tersebut, LPBHNU bersama GP Ansor, IPNU, dan IPPNU berkomitmen memperkuat edukasi, advokasi, serta pendampingan hukum bagi masyarakat pesantren.

Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran seluruh elemen pesantren mengenai pentingnya perlindungan anak sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan keagamaan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan maupun kekerasan.(D)