SUMBAWA BARAT, Mediajurnalindonesia.id – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) terus mendorong pengembangan pertanian sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan ketahanan pangan sekaligus mempersiapkan kemandirian ekonomi masyarakat, termasuk dalam menghadapi masa pascatambang.

Manager Partnership Social Impact AMMAN, Anindya Praharsacitta Nirbito, mengatakan bahwa pelaksanaan PPM AMMAN bertumpu pada tiga pilar utama, yakni Human Capital Development (pengembangan sumber daya manusia), Economic Empowerment (pemberdayaan ekonomi), dan Sustainable Tourism (pariwisata berkelanjutan).

Dalam mendukung ketahanan pangan, AMMAN mengembangkan program pertanian organik dengan memberikan pelatihan kepada kelompok tani, termasuk Kelompok Tani Mawar Merah di Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Kelompok tani yang beranggotakan 13 perempuan tersebut mendapat pelatihan pembuatan Mikro Organik Lokal (MOL) dari Aliksa Organik SRI Consultant, mitra AMMAN. Pelatihan ini bertujuan membekali para petani dengan pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai pendukung budidaya pertanian organik.

Anindya Praharsacitta Nirbito, yang akrab disapa Citta, menjelaskan bahwa bahan pembuatan MOL relatif mudah diperoleh. Bahan-bahan tersebut terdiri atas satu kilogram buah maja, dua liter air kelapa, empat liter air cucian beras, dan 300 gram gula merah.

Seluruh bahan dicampur dan diaduk hingga merata, kemudian difermentasi selama 15 hari sebelum digunakan.

Menurut Citta, MOL yang telah difermentasi dapat dimanfaatkan sebagai campuran dalam proses pembuatan kompos maupun untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Untuk campuran kompos, satu liter MOL dicampurkan dengan lima liter air. Sementara untuk aplikasi pada tanaman, satu liter MOL dicampurkan dengan 20 liter air.

“Setelah mendapatkan pelatihan, para anggota kelompok tani mulai menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh. Saat ini, 13 anggota kelompok tersebut mengembangkan lahan pertanian organik dengan luas sekitar 142 are di Desa Tatar,” ujar Citta.(18/10/26)

Ia menilai keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena itu, AMMAN terus memberikan dorongan kepada para petani agar mengembangkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Citta juga mencontohkan pengalaman seorang petani bernama Umar dari Desa Benete. Menurutnya, sebelum menerapkan sistem pertanian organik dengan MOL, lahan seluas satu hektare milik Umar menghasilkan sekitar tiga atau empat ton padi. Setelah menerapkan sistem tersebut, hasil panen dilaporkan meningkat menjadi delapan ton.

Meski demikian, hasil tersebut merupakan pengalaman pada lahan tertentu dan perlu dilihat berdasarkan kondisi lahan, metode budidaya, serta faktor produksi lainnya.

Dari sisi pemasaran, hasil pertanian organik dari petani Desa Tatar, Benete, dan Maluk akan dihimpun melalui koperasi presidium untuk selanjutnya dipasarkan berdasarkan harga yang telah ditentukan. Skema ini diharapkan dapat membantu petani memperoleh akses pasar yang lebih terorganisasi.

Sementara itu, Kepala Desa Tatar, M. Yunus, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada AMMAN serta Aliksa Organik SRI Consultant atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat, khususnya melalui pelatihan pembuatan MOL untuk mendukung pengembangan pertanian organik di desanya.

Menurut Yunus, pertanian organik perlu terus dikembangkan karena mendorong masyarakat lebih memperhatikan kesehatan tanah, kualitas hasil pertanian, dan kelestarian lingkungan.

Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola pertanian yang lebih sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa.

Melalui pengembangan kapasitas petani, pemanfaatan bahan alami, dan penguatan akses pemasaran, program pertanian organik ini diharapkan menjadi salah satu upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat Sumbawa Barat dalam jangka panjang, termasuk sebagai bagian dari persiapan menghadapi masa pascatambang.(*)