Surabaya, Mediajurnalindonesia.id – Suara perempuan Jawa Timur akan menggema pada Ruang Dialog dan Serap Aspirasi Perempuan se-Jawa Timur bersama Deputi Inklusi TPN Ganjar-Mahfud dengan kelompok rentan, mahasiswi, dan seluruh civitas akademika lintas kampus Se-Jawa Timur, (Jum’at, 05/01/24).

Acara dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2024 yang bertempat di Auditorium Ki Moh Saleh Lantai 5 gedung F. Universitas Dr. Soetomo, Ruang Dialog 1.000 Perempuan bersama Deputi Inklusi KSP dengan kelompok rentan, mahasiswi, dan seluruh civitas akademika lintas kampus Se-Jawa Timur.

Acara yang bertajuk seminar itu diselenggarakan oleh Jaringan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (JMPI), Generasi Merdeka (GM) dab BEM Universitas Dr. Sutomo Surabaya, serta Deputi Inklusi TPN Ganajar Mahfud yang bertemakan “Dengar Suara 1000 Perempuan Jatim” dihadiri oleh tokoh dan akademisi jawa timur, Opening speech oleh Prof. Dr. Siti Marwiyah, S.H., M.H., dan keynote speaker oleh Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum. Serta para panelis yang hadir yakni Prof. Dr. Atik Krustiyati, S.H., M.S (Guru Besara Ilmu Hukum Univ Surabaya), Evi Ratnasari.,S.PI. (Pembina Generasi Merdaka), Dia Puspitasari.,S.Sosio.,M.Si. (Dosean ilkom untag surabaya, Tartyaningsih, S.Pd., M.Pd. (Pendiri Yayasan Penyandang Disabilitas NAEEMA), IBU Anik (Solidaritas disabilotas surabaya), Aprilia Devi Nur Aini (Wakil Gubernur BEM FISIP UPN 2022) dan moderator acara Rizky Dwijayaanti,S.IP.M.IP (dosen Untag Surabaya).

Dia Puspitasari.,S.Sosio.,M.Si. dalam penyampaiannya optimistis apabila bhineka menjadi tiang utama keharmonisan berbangsa bernegar, dan tidak terjadi diskriminasi kepada siapapun masyarakat Indonesia.

“Takdir kita bangsa Indonesia adalah bhineka, jika itu tidak dilalu maka yang terjadi disharmony pada suasana berbangsa. Maka dari itulah keragaman itu sangatlah menjadi penguat dalam demokrasi sehingga saling bertoleransi satu sama lain agar tidak terjadi diskriminasi, dan perlakuan tidak baik pada orang lain termasuk pada golongan disabilitas, jelasnya.”

Tidak hanya itu perempuan menjabat Ketua Umum Jaringan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (JMPI) itu menyampaikan bahwa dalam memilih sosok pemimpin harus dengan cermat dengan melihat figurnya bukan karena uang atau imbalan.

“Tidak terkecuali masa depan bangsa dan negara memilih pemimpin adalah melihat dengan cerdas, bukan karena iming-iming setuatu apalgi uang. Maka ini adalah peran kita semua sebagai perempuan, terkhusus bagi kaula muda perempuan untuk menjungjung tinggi keadilan dan demokrasi, pungkas bu Dia.”(rb/rsyd/msa).