Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id – Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik pintar. Di balik nilai akademik, ada karakter, akhlak, kepedulian, dan kemampuan untuk menghargai sesama yang juga harus tumbuh. Semangat itulah yang coba diperkuat MAN Lombok Barat melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Nilai Spiritual dan Nilai Personal dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Sabtu (12/9/2026).
Bertempat di Aula MAN Lombok Barat, kegiatan tersebut mengusung tema “Transformasi Pembelajaran MAN Lombok Barat melalui Implementasi KBC untuk Mewujudkan Madrasah Unggul, Religius, Berprestasi, dan Mendunia.” Bimtek menjadi ruang bagi para guru untuk tidak sekadar memahami KBC sebagai kebijakan kurikulum, tetapi menggali bagaimana nilai-nilai cinta dapat benar-benar hadir dalam proses pembelajaran di ruang kelas.
Kegiatan menghadirkan Pengawas Bina MAN Lombok Barat sekaligus Ketua Pokjawas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. Abdul Hamid, S.Pd.I., M.Pd.I., sebagai narasumber. Para guru mengikuti kegiatan dengan suasana interaktif dan dialogis, disertai diskusi serta refleksi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam mendidik peserta didik.
Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pengawas Bina yang diharapkan mampu memberikan pencerahan sekaligus memperkuat kapasitas guru.
Menurutnya, KBC tidak boleh berhenti sebagai konsep yang tertulis dalam perangkat pembelajaran. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus terlihat dalam sikap guru, cara berkomunikasi dengan siswa, hingga bagaimana proses pembelajaran berlangsung.
“Nilai spiritual dan nilai personal dalam KBC harus kita pahami secara utuh agar dapat kita implementasikan dalam pembelajaran dan kehidupan di madrasah,” ujar H. Kemas Burhan.
Ia menegaskan, madrasah unggul bukan hanya madrasah yang mampu mengumpulkan prestasi akademik. Lebih jauh, keunggulan juga tercermin dari karakter peserta didik, akhlak, kedisiplinan, kepedulian, serta hubungan positif yang terbangun antara guru dan siswa.
“Madrasah unggul tidak hanya diukur dari prestasi akademiknya, tetapi juga dari karakter, akhlak, kedisiplinan, kepedulian, dan kualitas hubungan antarseluruh warga madrasah,” lanjutnya.
Mengawali Bimtek dengan Kontrak dan Pretest
Memasuki sesi utama, Dr. Abdul Hamid tidak langsung membawa peserta pada paparan teori. Bimtek diawali dengan kontrak bersama agar seluruh peserta memiliki komitmen untuk mengikuti kegiatan secara aktif, terbuka dan partisipatif.
Para guru kemudian mengikuti pretest sebagai pemetaan pemahaman awal sebelum memasuki materi utama mengenai nilai spiritual dan nilai personal dalam implementasi KBC.
Dr. Abdul Hamid menjelaskan, nilai spiritual berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sementara nilai personal mencakup kecintaan terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama manusia.
Namun, menurutnya, nilai tersebut tidak cukup hanya diucapkan atau dituliskan dalam perangkat pembelajaran.
“Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar menambahkan kata cinta dalam perangkat pembelajaran. Yang lebih penting adalah bagaimana cinta itu menjadi ruh dalam proses pendidikan,” tegasnya.
Cinta, kata dia, harus tercermin dari hal-hal sederhana yang dilakukan guru setiap hari. Mulai dari cara membuka pembelajaran, berbicara kepada siswa, memberikan tugas, menyikapi kesalahan, memberikan penilaian hingga memberikan apresiasi.
Sebab, siswa tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
“Kalau kita ingin membangun peserta didik yang mencintai Allah, mencintai Rasul, mencintai dirinya, dan mencintai sesamanya, maka guru harus terlebih dahulu menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam dirinya dan dalam praktik pembelajaran,” jelasnya.
Guru Diajak Melihat Siswa sebagai Manusia
Suasana bimtek semakin hidup ketika narasumber menggunakan pendekatan ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konsepsi, dan Aplikasi) melalui diskusi, brainstorming dan pertanyaan pemantik.
Para guru tidak ditempatkan hanya sebagai peserta yang mendengarkan materi. Mereka justru diajak membuka pengalaman masing-masing di ruang kelas, termasuk menghadapi siswa dengan karakter yang berbeda, persoalan kedisiplinan, rendahnya motivasi belajar, perkembangan teknologi, hingga komunikasi antara guru dan peserta didik.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian dijadikan bahan refleksi bersama.
Dr. Abdul Hamid mengingatkan bahwa tidak semua persoalan siswa dapat diselesaikan dengan pendekatan instruktif. Guru perlu memahami latar belakang, karakter dan kondisi peserta didik sebelum menentukan pendekatan.
“Anak-anak kita datang ke madrasah dengan latar belakang, karakter, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, pendekatan kita juga tidak bisa seragam,” katanya.
Menurutnya, KBC mendorong guru melihat peserta didik secara lebih utuh. Mereka bukan sekadar angka dalam daftar nilai, tetapi manusia yang memiliki potensi, perasaan, kebutuhan dan martabat.
Dari Guru, Transformasi Itu Dimulai
Salah seorang peserta bimtek, Lalu Hamidi, SS, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai pola bimtek yang interaktif membuat guru tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melihat kembali praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan.
“Bimtek ini memberikan perspektif baru bagi kami sebagai guru. Selama ini nilai spiritual dan nilai personal sebenarnya sudah kita lakukan dalam pembelajaran, tetapi melalui kegiatan ini kami diajak untuk lebih sadar, terarah, dan sistematis,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan diskusi dan brainstorming juga membuat peserta lebih leluasa menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang ditemui di kelas.
“Kami tidak hanya diberi teori. Kami diajak mengungkapkan pengalaman, berdiskusi, kemudian mencari bagaimana nilai cinta itu dapat benar-benar hadir dalam pembelajaran,” tambahnya.
Bagi MAN Lombok Barat, implementasi KBC diharapkan tidak berhenti pada kegiatan bimtek maupun dokumen administratif. Nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi budaya yang hidup dalam keseharian madrasah.
Guru menjadi penggerak perubahan. Kelas menjadi ruang tumbuh. Dan cinta menjadi ruh yang menghidupkan proses pendidikan.
Dengan penguatan kompetensi sekaligus keteladanan guru, MAN Lombok Barat terus berikhtiar membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga melahirkan generasi beriman, berakhlak, mencintai ilmu, peduli terhadap sesama, adaptif terhadap perubahan, dan siap menghadapi tantangan dunia global.
Sebab transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, perubahan justru dimulai dari cara seorang guru memandang, menyapa, memahami, dan mendidik satu orang siswa di dalam kelas. (Ramli Mji)

Tinggalkan Balasan