Semarang, Mediajurnalindonesia.id – Semarang mempunyai beberapa potensi seni baik itu kesenian maupun adat istiadat seperti macapat gagrak Semarangan yang menjadi WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) tingkat nasional, ada juga Dugderan, Manten Kaji dan lainnya yang juga masuk adat istiadat Kota Semarang. Hingga saat ini ada 17 Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional. Setiap tahun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengangkat ciri khas Kota Semarang untuk diusulkan menjadi WBTB tingkat nasional sehingga Semarang tidak ketinggalan dengan daerah-daerah lain yang mempunyai ciri khas-ciri khas yang perlu dilestarikan, perlu dikembangkan, perlu dikenalkan pada generasi muda.

Sarosa S. Sn. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kota Semarang mengatakan jadi Dinas Kebudayaan Kota Semarang mempunyai tugas setelah ditetapkannya macapat gagrak semarangan sebagai WBTB maka setiap tahun diadakan lomba nembang macapat gagrak semarangan. Bagaimana mengenalkan Kota Semarang juga punya ciri khas. Daerah lain punya macapat gagrak setempat, namun secara umum Semarang punya ciri khas sendiri yaitu gagrak semarangan. Mungkin daerah lain juga memakai gagrak semarangan. Dari sini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang mengadakan lomba nembang macapat gagrak Semarangan.

“Jadi setiap tahun diadakan lomba macapat gagrak semarangan untuk umum. Dan itu sudah dilaksanakan beberapa kali,” kata Sarosa S.Sn Kabid kebudayaan Dinas Kebudayaan Kota Semarang

“Untuk pelatihan macapat gagrak semarangan bisa dilakukan di sanggar-sanggar atau sekolahan-sekolahan yang diajarkan oleh guru seni sehingga kedepannya macapat gagrak semarangan bisa lebih dikenal masyarakat luas bahkan tingkat nasional” tambahnya

Kabid kebudayaan menambahkan kalau untuk program latihannya di sanggar atau di sekolah-sekolah diajarkan oleh guru seni dan mungkin di sanggar-sanggar diajarkan macapat gagrak semarangan dikenalkan dengan ciri khas macapat semarangan dengan harapannya macapat semarangan bisa di kenal baik tingkat Kota Semarang bahkan tingkat nasional sehingga masyarakat seluruh khususnya seniman tradisi juga mengenalkan macapat gagrak semarangan yang secara otomatis mengenalkan Kota Semarang mempunyai kekayaan budaya yang beranekaragam

Bapak Sarosa menjelaskan untuk macapat memang perlu dilakukan pelatihan macapat gaya semarangan. Memang ini tidak mudah karena berbeda sekali dengan macapat daerah lain. Untuk mengadakan pelatihan memang harus kita program dulu seperti kemarin yang pernah mengadakan program pelatihan seni pedalangan dan sekarang Kota semarang mempunyai tempat-tempat pelatihan pedalangan di mana mungkin ada sanggar-sanggar yang tidak mempunyai pelatih atau kurang memadai dinas bisa melakukan pelatihan kepada sanggar-sanggar atau kelompok seni.

“Kalau diperlukan dinas kebudayaan dan pariwisata akan melakukan pelatihan macapat gaya semarangan. Seperti yang sudah dilakukan pelatihan pedalangan’” jelasnya

Soetanto pengurus Paguyuban Budaya Jawi jenggala Manik menjelaskan dengan diakuinya macapat gagrak semarangan sebagai WBTB tentu merupakan suatu kebanggan bagi warga kota Semarang dan kami dari Paguyuban Budaya Jawi Jenggala Manik Sidoarjo siap untuk berkolaborasi dalam pagelaran macapat yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun oleh komunitas atau paguyuban.(msa)