Lombok Timur, Mediajurnalindonesia.id – Kekayaan budaya lokal kembali menjadi kekuatan ekonomi masyarakat di kawasan Sembalun. Melalui inovasi yang memadukan tradisi dengan sektor pariwisata, pelaku usaha muda setempat kini berhasil mengangkat kain tenun khas Sembalun menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus sarana pelestarian budaya daerah.
Salah satunya dilakukan oleh Dwi Ariska yang tidak hanya memproduksi dan menjual berbagai aksesoris berbahan kain tenun tradisional, tetapi juga menghadirkan konsep tour tenun bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat proses pembuatan tenun khas masyarakat Sembalun.
Konsep tersebut menghadirkan pengalaman wisata edukatif, di mana pengunjung tidak hanya membeli produk kerajinan, tetapi juga belajar tentang proses menenun secara langsung. Inovasi ini menjadi jembatan penting antara upaya menjaga warisan budaya leluhur dengan pengembangan ekonomi kreatif yang terus tumbuh di kawasan wisata lereng Gunung Rinjani.
Di balik perkembangan tersebut, terdapat peran generasi muda yang mulai aktif menjaga keberlanjutan tradisi menenun. Hidayatul Aini, yang akrab disapa Ida, salah satu pengurus komunitas Sangka Bira sekaligus penenun muda Sembalun, menceritakan bahwa pada awal perjalanan kelompok mereka, hampir tidak ada anak muda yang tertarik terlibat dalam aktivitas menenun.
Kondisi itu sempat memunculkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu warisan budaya khas Sembalun akibat tidak adanya regenerasi penerus.
“Awalnya tidak ada anak muda seperti saya yang bergabung di kegiatan tenun ini. Dari situ kami khawatir budaya menenun di Sembalun suatu saat bisa hilang karena tidak ada regenerasi,” ujar Ida (13/6/26).
Berangkat dari kekhawatiran tersebut, komunitas Sangka Bira kemudian berinisiatif merekrut sekitar 20 orang yang terdiri dari ibu-ibu, generasi muda, hingga laki-laki agar tradisi menenun tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam proses produksinya, para penenun juga terus mempertahankan teknik tradisional yang ramah lingkungan. Secara otodidak, mereka mempelajari pembuatan pewarna alami untuk benang dengan memanfaatkan berbagai bahan dari alam sekitar.
Beberapa bahan alami yang digunakan di antaranya akar pace, kayu akasia, mauni, kayu nangka, suren, serta berbagai jenis dedaunan seperti bilong dan mint yang menghasilkan warna khas alami pada kain tenun.
Dari proses tersebut, para penenun mampu menghasilkan beragam produk berkualitas seperti kain sarung, syal, tas, hingga selendang yang kini semakin diminati pasar wisata maupun konsumen di luar daerah.
Perkembangan usaha tenun masyarakat Sembalun semakin meningkat setelah mendapatkan pendampingan dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara melalui program pembinaan usaha masyarakat.
Ida mengaku dukungan tersebut memberikan manfaat besar, khususnya dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia dan strategi pemasaran produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur berkat dukungan dari PT AMMAN yang telah membina kami, terutama dalam peningkatan sumber daya manusia dan cara marketing produk,” tuturnya.
Keberhasilan pengembangan tenun khas Sembalun ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pelestarian budaya, keterlibatan generasi muda, dan dukungan dunia usaha mampu menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal, sekaligus menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(zak)

Tinggalkan Balasan