Gerung, Mediajurnalindonesia.id – Upaya membangun madrasah yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan tidak cukup hanya mengandalkan aturan. Kesadaran harus tumbuh dari seluruh warga madrasah, termasuk dari kalangan siswa sendiri.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender bagi Santri Pondok Pesantren dan Siswa Madrasah yang digelar di Laboratorium Komputer (Labkom) MAN Lombok Barat, Selasa (18/8/2026).
Sebanyak 30 siswa mengikuti kegiatan tersebut. Lima siswa di antaranya telah ditetapkan sebagai Tutor Sebaya, sedangkan 25 siswa lainnya mengikuti sosialisasi sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman tentang kesetaraan, perlindungan anak, serta pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala MAN Lombok Barat H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., Waka Humas Sahimi, S.Pd., M.Pd., Pembina ORSIMA Muhammad Muzakki, S.Pd., serta Direktur Perkumpulan Panca Karsa, Aprilina Itariyani, S.H., bersama tim.
Direktur Perkumpulan Panca Karsa, Aprilina Itariyani, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Training of Trainers (TOT) tingkat kabupaten yang sebelumnya telah dilaksanakan. Dari proses tersebut, sejumlah siswa dipersiapkan menjadi tutor sebaya yang nantinya berperan menyampaikan pesan kesetaraan dan perlindungan dari kekerasan kepada teman-temannya.
Menurut Aprilina, kesetaraan gender tidak semata-mata berbicara mengenai laki-laki dan perempuan. Lebih jauh, isu tersebut berkaitan dengan hak setiap individu untuk dihormati, mendapatkan perlindungan, diperlakukan secara adil, serta memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Melalui kegiatan ini kita ingin menyuarakan kesetaraan gender, perlindungan keluarga, dan keadilan. Kita mengajak seluruh elemen lembaga pendidikan untuk menjadi voice for equality, menjadi suara bagi kesetaraan,” ujar Aprilina.
Ia menegaskan bahwa perubahan tidak mungkin lahir hanya dari segelintir orang. Karena itu, siswa yang telah mengikuti sosialisasi diharapkan menjadi perpanjangan tangan untuk menyebarluaskan pengetahuan tersebut di lingkungan madrasah.
“Dua puluh lima orang yang mengikuti kegiatan ini diharapkan bisa menyuarakan kesetaraan. Karena perubahan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Perlu keterlibatan seluruh elemen,” lanjutnya.
Aprilina juga menekankan bahwa madrasah harus menjadi ruang yang benar-benar aman bagi anak. Menurutnya, sekolah atau madrasah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi siswa untuk tumbuh, membangun karakter, bersosialisasi, dan belajar menghargai sesama.
“Madrasah adalah rumah kedua bagi seluruh siswa. Karena itu, rumah kedua ini harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan perlindungan kepada semua siswa,” tegasnya.
MAN Lombok Barat Perkuat Satgas Antibullying
Komitmen tersebut mendapat respons positif dari Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan. Ia mengatakan sosialisasi penghapusan kekerasan berbasis gender menjadi penguatan terhadap berbagai upaya yang selama ini telah dilakukan madrasah, terutama dalam membangun budaya antibullying.
Menurut H. Kemas, MAN Lombok Barat telah memiliki Satgas Antibullying yang secara berkala melakukan pembinaan dan kampanye kepada siswa.
Pesan untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, menjaga perasaan teman, serta tidak melakukan kekerasan terus disampaikan melalui berbagai kegiatan madrasah, termasuk pembinaan, kegiatan imtaq, dan aktivitas lainnya.
“Keberadaan kegiatan ini menjadi penguatan bagi kegiatan-kegiatan antibullying yang sudah kami lakukan sebelumnya. Di MAN Lombok Barat sudah terbentuk Satgas Antibullying dan secara rutin menyuarakan antibullying melalui kegiatan pembinaan berkala, kegiatan imtaq, dan berbagai kegiatan lainnya,” kata H. Kemas.
Ia menilai pencegahan kekerasan tidak dapat hanya bertumpu pada aturan maupun pemberian sanksi. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran agar seluruh warga madrasah memahami batas antara bercanda, berinteraksi, dan tindakan yang dapat merendahkan atau melukai orang lain.
Karena itu, pelibatan siswa sebagai Tutor Sebaya dinilai strategis. Siswa memiliki ruang interaksi yang luas dengan teman-temannya sehingga pesan yang disampaikan melalui pendekatan sebaya diharapkan lebih mudah diterima.
Lima Tutor Sebaya Jadi Penggerak
Lima siswa yang ditunjuk sebagai Tutor Sebaya diharapkan tidak sekadar menjadi peserta pelatihan, tetapi benar-benar tampil sebagai agen perubahan di lingkungan MAN Lombok Barat.
Mereka diharapkan mampu mengenali bentuk-bentuk kekerasan, memahami prinsip kesetaraan, serta berani menyampaikan pesan perlindungan kepada teman sebaya.
H. Kemas berharap lima tutor tersebut mampu memberikan dampak positif kepada seluruh siswa MAN Lombok Barat yang jumlahnya mencapai sekitar 820 orang.
“Lima tutor sebaya yang telah ditentukan kami harapkan bisa memberikan bias atau dampak positif dengan menyuarakan kesetaraan kepada sekitar 820-an siswa MAN Lombok Barat,” ujarnya.
Dengan jumlah siswa yang cukup besar, H. Kemas melihat keberadaan tutor sebaya sebagai potensi untuk memperluas gerakan madrasah aman. Pesan tentang kesetaraan dan antikekerasan diharapkan tidak berhenti dalam forum sosialisasi, tetapi bergerak dari satu siswa kepada siswa lainnya.
Terlebih, berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan terkadang bermula dari hal-hal yang dianggap sepele, seperti ejekan, candaan berlebihan, pelabelan, diskriminasi, hingga perundungan yang dilakukan berulang.
Melalui edukasi yang tepat, siswa diharapkan mampu memahami bahwa tidak semua candaan dapat dibenarkan dan tidak semua perilaku dapat dianggap sebagai bagian dari pergaulan.
Panca Karsa Didorong Perkuat Kemitraan
H. Kemas juga menyampaikan apresiasi kepada Perkumpulan Panca Karsa yang telah menjadikan MAN Lombok Barat sebagai salah satu lokus kegiatan.
“Atas nama keluarga besar MAN Lombok Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Direktur dan tim Panca Karsa yang telah memilih madrasah kami sebagai lokus sosialisasi,” katanya.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat berlanjut dalam berbagai program edukasi yang memberikan manfaat langsung bagi siswa.
Bagi MAN Lombok Barat, membangun lingkungan pendidikan yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Guru dan tenaga kependidikan memiliki peran penting, tetapi siswa juga harus diberi ruang untuk menjadi bagian dari solusi.
Sosialisasi di Labkom MAN Lombok Barat tersebut akhirnya bukan sekadar kegiatan penyampaian materi. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa madrasah aman harus dimulai dari keberanian untuk saling menghormati, saling melindungi, dan berani bersuara ketika melihat kekerasan maupun ketidakadilan.
Lima Tutor Sebaya dan 25 siswa yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih luas. Pesan kesetaraan diharapkan tidak berhenti di ruang Labkom, tetapi menyebar ke ruang kelas, organisasi siswa, lingkungan pergaulan, hingga menjadi bagian dari budaya keseharian di MAN Lombok Barat.
Sebab, ketika madrasah benar-benar menjadi rumah kedua, tidak boleh ada siswa yang merasa takut untuk belajar, berprestasi, bersosialisasi, dan tumbuh hanya karena mengalami kekerasan, perundungan, atau diskriminasi. (Ramli Mji)

Tinggalkan Balasan