Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id- Di tengah kesibukan menjalankan berbagai program pemerintah, Kabupaten Lombok Barat menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap populasi rentan, khususnya lanjut usia (lansia). Melalui Dinas Sosial (Dinsos) dan organisasi Harmoni Sahabat (HARSA) NTB, langkah cepat dan responsif diambil untuk membantu Nenek Keli, seorang lansia berusia 90 tahun yang tinggal di Dusun Jatisela, Gunungsari. Selama tiga tahun terakhir, Nenek Keli mengalami kelumpuhan total dan luput dari bantuan sosial, termasuk akses ke BPJS Kesehatan.

Pada Selasa, 15 Juli 2025, kunjungan langsung dilakukan oleh Kepala Dinsos Lombok Barat, HK Lalu Winengan, bersama Ketua HARSA NTB, Lalu Muhammad Saleh. Kunjungan ini tidak hanya sekadar formalitas; mereka menyaksikan sendiri kondisi Nenek Keli yang terbaring di ruang sempit di rumahnya dan tanpa akses kesehatan yang memadai. Pengalaman tersebut menggugah rasa kemanusiaan mereka.

“Kalau ada lansia seperti ini, tugas pemerintah adalah datang, lihat langsung, dan segera cari solusi,” tegas Lalu Winengan saat berbincang dengan Nenek Keli. Dengan penuh komitmen, ia berjanji akan mempercepat pengurusan BPJS Kesehatan untuk Nenek Keli dan memperkenalkan program pemberian makanan dua kali sehari dari Kementerian Sosial bagi lansia di atas 70 tahun yang hidup sendiri. Program ini sudah membantu 150 lansia di Lombok Barat dan terintegrasi dengan dapur umum Dinsos.

Dalam upaya ini, Dinsos Lobar juga meminta bantuan dari HARSA untuk mengidentifikasi lansia lainnya yang menghadapi kondisi serupa. Dalam kunjungan tersebut, Nenek Keli tidak hanya menerima bantuan makanan dan kebutuhan dasar, tetapi juga kasur baru, pakaian tidur, serta perlengkapan pribadi. Melihat perhatian yang diberikan, Nenek Keli tak kuasa menahan haru, dan air mata bahagia pun menetes dari matanya.

Di samping itu, Dinsos Lobar berencana untuk berkomunikasi dengan Kementerian Kominfo RI guna meningkatkan sosialisasi mengenai gizi yang tepat dan hak-hak lansia. Menurut Winengan, perhatian kepada disabilitas dan lansia seperti ini adalah suatu hal yang perlu terus digerakkan bersama, dan ia mengapresiasi peran aktif HARSA NTB dalam inisiatif tersebut.

Program “Dinsos dan HARSA Menyapa Jompo” semakin memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam menyediakan layanan sosial hingga ke pelosok daerah. Dengan langkah-langkah nyata ini, diharapkan bahwa setiap lansia dan penyandang disabilitas di Lombok Barat mendapatkan perhatian serta hak dasar mereka, yang merupakan bagian dari pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Langkah-langkah yang diambil oleh Dinsos Lobar dan HARSA NTB tidak hanya memberikan harapan baru bagi Nenek Keli tetapi juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat yang paling rentan harus menjadi prioritas utama. Dengan hasrat yang sama, harapan ini harus terus bergulir agar lebih banyak masa depan dilindungi dan dihargai. (Ramli Mji)