Gerung, Mediajurnalindonesia.id – Di tengah kondisi musim kemarau yang menghadirkan tantangan kekeringan di sejumlah wilayah, keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lombok Barat menggelar salat istisqa di halaman madrasah, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT sekaligus momentum pembelajaran keagamaan bagi seluruh warga madrasah, khususnya para siswa.

Pelaksanaan salat istisqa tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan ibadah untuk memohon hujan. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan pesan mendalam tentang pentingnya introspeksi diri, memperbanyak istigfar, memperkuat ketakwaan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan di hadapan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Sejak pagi, keluarga besar MAN Lombok Barat mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kekhusyukan. Para siswa, guru, tenaga kependidikan, serta unsur madrasah lainnya berkumpul di halaman madrasah untuk bersama-sama menunaikan salat sunah yang disyariatkan ketika masyarakat menghadapi kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan.

Suasana tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan di madrasah tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman spiritual yang memberikan pelajaran langsung tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

TGH. Taufikurrahman, S.Pd.I., didaulat menjadi imam sekaligus menyampaikan khutbah salat istisqa. Dalam khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum kekeringan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak istigfar, serta memperbaiki kualitas hubungan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Istigfar Menjadi Pintu Memohon Rahmat Allah

Dalam khutbahnya, TGH. Taufikurrahman menekankan pentingnya istigfar sebagai salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon ampunan dan mengharapkan turunnya rahmat Allah SWT. Menurutnya, istigfar bukan sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan berulang-ulang, melainkan bentuk kesadaran seorang hamba atas keterbatasan dirinya dan kebutuhan mutlaknya terhadap pertolongan Allah.

Di tengah persoalan kekeringan yang dihadapi masyarakat, istigfar menjadi pengingat agar manusia tidak hanya mencari jalan keluar melalui ikhtiar lahiriah, tetapi juga memperkuat ikhtiar batiniah melalui doa, taubat, dan peningkatan ketakwaan.

Pesan tersebut memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, Surah Nuh ayat 10–12, Allah SWT mengisahkan seruan Nabi Nuh AS kepada kaumnya agar memohon ampun kepada-Nya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa istigfar berkaitan dengan harapan memperoleh ampunan, keberkahan, serta karunia Allah, termasuk hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi keluarga besar MAN Lombok Barat. Kekeringan hendaknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan alam, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi diri, memperkuat kepedulian terhadap sesama, dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT.

Istigfar juga memiliki makna yang luas dalam kehidupan seorang muslim. Ia menjadi ikhtiar spiritual ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan, kesulitan, maupun hajat yang ingin disampaikan kepada Allah SWT. Melalui istigfar, seorang hamba mengakui kelemahannya, memohon ampunan, dan menggantungkan harapan kepada Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam konteks pendidikan, pembiasaan istigfar dapat menjadi fondasi pembentukan karakter siswa. Para peserta didik tidak hanya diajarkan untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga dibimbing agar memiliki kerendahan hati, kesabaran, kedisiplinan, dan kesadaran spiritual dalam menjalani kehidupan.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan karakter yang kuat harus dibangun melalui keseimbangan antara ilmu pengetahuan, pembiasaan perilaku baik, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Tahawwul, Simbol Harapan Menuju Keadaan yang Lebih Baik

Salah satu bagian yang menarik dalam khutbah salat istisqa adalah penjelasan mengenai anjuran tahawwul, yakni memindahkan atau membalik posisi selendang, surban, maupun kain yang dikenakan ketika pelaksanaan salat istisqa, sesuai tuntunan yang berlaku.

TGH. Taufikurrahman menjelaskan bahwa tahawwul memiliki makna simbolik yang dapat menjadi pengingat bagi umat Islam tentang harapan akan perubahan keadaan menuju kondisi yang lebih baik.

Perubahan posisi selendang atau surban tersebut bukan sekadar gerakan fisik, melainkan mengandung pesan tentang optimisme dan pengharapan kepada Allah SWT. Melalui simbol itu, jamaah diajak memohon agar Allah berkenan mengubah keadaan yang sedang dihadapi menuju keadaan yang lebih baik.

“Melalui simbol tahawwul ini, mudah-mudahan terjadi perpindahan dari musim kemarau menuju musim hujan, dari kesempitan menjadi keluasan, serta dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbahnya.

Makna tersebut memberikan ruang refleksi yang mendalam bagi seluruh jamaah. Dalam kehidupan, perubahan merupakan sesuatu yang senantiasa diharapkan, baik perubahan kondisi alam, keadaan sosial, maupun kualitas pribadi seseorang.

Musim kemarau yang kering diharapkan berganti dengan hujan yang membawa kesejukan dan kehidupan. Kesulitan diharapkan berganti dengan kemudahan. Sementara kekurangan dan keterbatasan diharapkan berubah menjadi keberkahan melalui ikhtiar, doa, dan pertolongan Allah SWT.

Bagi para siswa MAN Lombok Barat, pesan tahawwul dapat dimaknai sebagai ajakan untuk senantiasa memperbaiki diri. Siswa yang sebelumnya kurang disiplin diharapkan menjadi lebih tertib, yang kurang bersemangat dalam belajar menjadi lebih tekun, dan yang belum menunjukkan perilaku terpuji terdorong untuk memperbaiki akhlaknya.

Demikian pula bagi seluruh warga madrasah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan menuju kebaikan membutuhkan kesungguhan, doa, dan tindakan nyata. Harapan kepada Allah SWT harus berjalan beriringan dengan usaha manusia untuk memperbaiki keadaan.

Dengan demikian, pelaksanaan salat istisqa di MAN Lombok Barat menghadirkan dua pesan yang saling melengkapi: permohonan turunnya hujan sebagai kebutuhan kehidupan dan permohonan perubahan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Kepala Madrasah: Salat Istisqa Menjadi Pembelajaran Spiritual bagi Siswa

Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada TGH. Taufikurrahman yang telah meluangkan waktu untuk memimpin pelaksanaan salat istisqa sekaligus menyampaikan khutbah kepada keluarga besar madrasah.

Menurutnya, kehadiran seorang tuan guru dalam kegiatan keagamaan di madrasah merupakan kesempatan berharga bagi para siswa untuk memperoleh nasihat keagamaan secara langsung. Pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Almukarram TGH. Taufikurrahman yang telah meluangkan waktu untuk memimpin pelaksanaan salat istisqa dan menyampaikan khutbah bagi keluarga besar MAN Lombok Barat. Semoga keberkahan senantiasa menyelimuti MAN Lombok Barat dan seluruh keluarga besar madrasah,” ungkap H. Kemas Burhan.

Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran spiritual yang penting bagi para siswa. Madrasah, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk mendidik generasi muda agar tidak hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga memiliki fondasi iman, ketakwaan, dan akhlak yang kuat.

Melalui pelaksanaan salat istisqa, siswa mendapatkan pengalaman langsung tentang bagaimana seorang muslim menyikapi keadaan sulit dengan berdoa, berserah diri kepada Allah SWT, dan tetap melakukan ikhtiar terbaik.

Kepala madrasah berharap pengalaman spiritual semacam ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap persoalan hendaknya dihadapi dengan sikap yang bijaksana. Ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim tidak seharusnya kehilangan harapan, melainkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil terus berusaha mencari jalan keluar.

Ia juga mengajak para guru dan tenaga kependidikan untuk bersama-sama membangun lingkungan madrasah yang religius, nyaman, dan mendukung tumbuhnya karakter positif peserta didik.

Menurutnya, pembelajaran spiritual akan lebih bermakna apabila dilaksanakan secara berkelanjutan. Nilai-nilai yang diperoleh siswa melalui kegiatan keagamaan harus diperkuat dengan pembiasaan positif di lingkungan madrasah, keluarga, dan masyarakat.

Istigfar dan Selawat sebagai Pembiasaan Sebelum Pembelajaran

Lebih lanjut, H. Kemas Burhan mendorong agar pembiasaan membaca istigfar dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW dilaksanakan setiap hari sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

Ia berharap tradisi tersebut menjadi bagian dari budaya religius MAN Lombok Barat, sehingga siswa terbiasa mengawali aktivitas menuntut ilmu dengan mengingat Allah SWT, memohon ampunan-Nya, serta menyampaikan selawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

“Kami mendorong agar setiap hari, sebelum pembelajaran dimulai, anak-anak membiasakan diri membaca istigfar dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan pembiasaan ini, Allah memberikan keberkahan dalam proses pembelajaran dan menjadikan seluruh siswa MAN Lombok Barat sebagai generasi yang saleh dan salehah,” tuturnya.

Ajakan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan spiritual tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam diri peserta didik.

Membaca istigfar mengajarkan siswa untuk menyadari kekurangan diri dan berusaha memperbaikinya. Sementara membaca selawat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, yang menjadi teladan utama dalam membangun akhlak mulia, kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Jika pembiasaan tersebut dijalankan dengan kesadaran dan keteladanan, suasana pembelajaran di madrasah diharapkan menjadi semakin kondusif. Siswa tidak hanya datang ke sekolah untuk menerima materi pelajaran, tetapi juga belajar membangun niat yang baik, menghormati guru, menjaga hubungan dengan teman, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya.

Dalam perspektif pendidikan karakter, pembiasaan keagamaan juga dapat menjadi penguat pengendalian diri. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui doa, istigfar, dan selawat diharapkan tercermin dalam perilaku nyata, baik di lingkungan madrasah maupun di luar madrasah.

Karena itu, pesan Kepala MAN Lombok Barat tersebut menjadi ajakan bersama bagi seluruh warga madrasah untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Menumbuhkan Kepedulian, Menguatkan Keimanan

Pelaksanaan salat istisqa di halaman MAN Lombok Barat pada Jumat, 9 Oktober 2026, menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Kekeringan mengingatkan manusia tentang pentingnya air bagi keberlangsungan kehidupan. Air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjaga kesehatan, mendukung kegiatan pertanian, serta menopang berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Karena itu, selain berdoa memohon turunnya hujan, warga madrasah juga dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan, menggunakan air secara bijaksana, dan menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.

Ikhtiar spiritual dan tindakan nyata bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan sebagai bentuk tanggung jawab manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melalui kegiatan ini, MAN Lombok Barat menunjukkan bahwa madrasah dapat menjadi ruang pembelajaran yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan. Halaman madrasah tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya siswa untuk mengikuti kegiatan seremonial, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan iman, penguatan karakter, dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan istigfar, makna tahawwul, serta ajakan membiasakan selawat diharapkan terus hidup dalam keseharian keluarga besar MAN Lombok Barat.

Pada akhirnya, salat istisqa mengajarkan bahwa manusia perlu menyadari keterbatasannya, memperkuat ikhtiar, dan senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah SWT. Doa dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati, sementara usaha memperbaiki diri dan menjaga lingkungan terus dilakukan.

Keluarga besar MAN Lombok Barat pun berharap agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat, mengakhiri kekeringan, serta melimpahkan keberkahan bagi masyarakat Lombok Barat dan sekitarnya.

Lebih dari sekadar memohon perubahan cuaca, kegiatan ini menjadi doa bersama agar seluruh warga madrasah memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik: semakin kuat imannya, semakin luhur akhlaknya, semakin tekun belajarnya, dan semakin besar kepeduliannya terhadap sesama.

Sebab, sebagaimana pesan simbolik tahawwul yang disampaikan dalam khutbah, setiap perubahan yang diharapkan hendaknya dimulai dengan kesadaran, doa, dan kesungguhan untuk memperbaiki diri. Dari kekeringan menuju kesejukan, dari kesempitan menuju keluasan, dan dari keadaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik, dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.(Ramli Mji)