Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Lombok Utara terus mendorong pengembangan perpustakaan desa sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan meningkatkan budaya literasi.
Salah satu program yang disiapkan adalah kerja sama pemanfaatan koleksi buku antara perpustakaan daerah dan perpustakaan desa melalui sistem peminjaman serta rotasi buku secara berkala.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara, Rusdianto, mengatakan, keberadaan perpustakaan desa membutuhkan pembinaan dan dukungan dari berbagai pihak agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut dia, perpustakaan daerah dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan bacaan dengan meminjamkan koleksi buku untuk dimanfaatkan di perpustakaan desa. Buku-buku tersebut nantinya dapat diputar secara bergantian sehingga koleksi bacaan dapat menjangkau lebih banyak wilayah.
“Jadi, perlu pembinaan dan kerja sama dengan dinas terkait. Buku-buku yang ada di perpustakaan ini bisa dipinjamkan ke perpustakaan desa dengan sistem berputar. Dengan begitu, bisa saling mengisi,” kata Rusdianto kepada media ini, Rabu (4/11/2026).
Saat ini, sejumlah desa telah memiliki perpustakaan, di antaranya Desa Sesaot dan Desa Kayangan. Sementara itu, perpustakaan di Desa Malaka telah tersedia, tetapi belum berjalan secara optimal.
Rusdianto berharap, pengembangan perpustakaan desa tidak hanya mengandalkan dukungan pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai lembaga melalui program kolaborasi.
Salah satu peluang kerja sama yang dapat dikembangkan adalah dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), terutama melalui program perpustakaan terapung maupun penyediaan fasilitas literasi di ruang-ruang pelayanan publik.
Ia mencontohkan, ruang tunggu pelayanan kepolisian, seperti tempat pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), dapat dimanfaatkan sebagai sarana literasi digital. Masyarakat yang sedang mengantre bisa memperoleh informasi dan bahan bacaan melalui televisi digital yang disediakan di lokasi tersebut.
Selain memperluas jaringan perpustakaan desa, Dispusip Lombok Utara juga berencana mengembangkan konsep kafe literasi di lingkungan perpustakaan daerah. Rencana tersebut didukung oleh ketersediaan lahan yang cukup luas.
Di sisi lain, kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah selama ini rata-rata berkisar 10–20 orang per hari. Jumlah tersebut dapat meningkat hingga 50 bahkan 100 orang pada waktu tertentu, terutama ketika ada kunjungan rombongan pelajar dari sekolah-sekolah.
Namun, akses transportasi masih menjadi salah satu kendala bagi sekolah yang berada cukup jauh dari lokasi perpustakaan. Kondisi tersebut membuat kunjungan pelajar sangat bergantung pada kemampuan sekolah menyediakan sarana transportasi.
Karena itu, Dispusip berharap ke depan tersedia kendaraan khusus untuk mendukung mobilitas pengunjung, baik berupa bus antar-jemput maupun mobil perpustakaan keliling.
Dengan dukungan transportasi, pembinaan perpustakaan desa, serta kerja sama lintas lembaga, pengembangan layanan literasi di Lombok Utara diharapkan tidak hanya terpusat di perpustakaan daerah, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.(D)

Tinggalkan Balasan