Oleh: Abdulkadir Jaelani
Ada satu pelajaran keras dari Lombok Utara yang tidak boleh dihapus dari ingatan: ketika sumber air daratan hendak ditarik keluar dari ruang hidup petani, yang terbakar bukan hanya pipa, tetapi juga rasa keadilan masyarakat.
Peristiwa itu pernah terjadi di Kayangan. Sekitar seribu petani dan pemuda dari berbagai desa di Kecamatan Kayangan bergerak menuju lokasi proyek perpipaan Air Bersih Lokok Lempanas. Mereka datang dari kantong-kantong pertanian yang selama ini bergantung pada sistem irigasi Santong: Santong, Sesait, Pendua, Kayangan, Dangiang, Gumantar, Selengen, Salut, dan wilayah sekitarnya. Sebagian sebelumnya bahkan telah berkumpul di Sesait untuk merundingkan sikap, sebelum akhirnya kemarahan itu meledak di lapangan. Berita saat itu mencatat massa mendatangi lokasi proyek di Senjajak, lalu membakar pipa air dan bak penampungan yang belum selesai dikerjakan.
Mengapa petani semarah itu?
Karena bagi mereka, air Lokok Lempanas bukan sekadar angka debit. Air itu adalah sawah, subak, musim tanam, panen, dan dapur keluarga. Air itu menghidupi areal pertanian Kayangan yang sangat luas. Daerah Irigasi Santong disebut mengairi lebih dari 2.000 hektare persawahan yang dikelola petani se-Kecamatan Kayangan. Ketika debit mulai menyusut, sementara proyek perpipaan tetap berjalan, kecemasan petani berubah menjadi perlawanan.
Di sinilah masalah air menjadi sangat sensitif. Bagi masyarakat daratan, mata air bukan cadangan kosong yang bisa dipindahkan begitu saja untuk kepentingan lain. Ia sudah lebih dulu menjadi bagian dari kehidupan desa-desa pertanian. Maka, ketika muncul dugaan atau kekhawatiran bahwa air dari daratan akan dibawa untuk melayani kawasan wisata, masyarakat merasa masa depan mereka sedang dialirkan keluar melalui pipa.
Pelajaran ini sangat relevan untuk Gili Tramena. Kebutuhan air di kawasan wisata itu memang besar dan harus dipenuhi. Masyarakat lokal Gili berhak mendapatkan pelayanan air bersih yang layak. Dunia pariwisata juga tidak mungkin berjalan tanpa air. Tetapi kebutuhan itu tidak boleh dijawab dengan cara yang membuka luka baru di daratan Lombok.
Memaksakan air dari daratan untuk Tramena berarti berhadapan dengan risiko ganda. Secara teknis, jaringan panjang dan pipa bawah laut membutuhkan biaya besar, perawatan rumit, dan rentan gangguan. Secara sosial, sumber air daratan akan selalu diperebutkan antara kebutuhan rumah tangga, pertanian, irigasi, dan pariwisata. Jika salah kelola, pemerintah akan terlihat seolah-olah mengutamakan kawasan wisata dengan mengorbankan petani.
Karena itulah pengolahan air laut menjadi air bersih, menjadi pilihan paling masuk akal. Gili adalah pulau kecil yang dikelilingi laut. Maka sumber air bakunya seharusnya berasal dari laut, bukan dari mata air daratan yang sudah menjadi sandaran hidup petani. Dengan desalinasi, Tramena dapat membangun kemandirian air tanpa membebani Santong, Sesait, Kayangan, Dangiang, Gumantar, Selengen, Salut, Pendua, maupun desa-desa lain di daratan.
Arah kebijakan ini sebenarnya juga pernah ditegaskan dalam pemberitaan tahun 2017. Rencana pengolahan air laut untuk Gili Trawangan disebut sebagai cara agar mata air di daratan Lombok Utara tetap dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakat daratan. Bahkan, saat itu juga disebutkan bahwa pemerintah tidak ingin mengulang kejadian pembakaran pipa di wilayah Sekeper karena masyarakat mengira air dari mata air akan dibawa ke tiga Gili.
Maka, pilihan desalinasi bukan sekadar pilihan teknologi. Ini adalah pilihan untuk mencegah konflik. Pilihan untuk melindungi petani. Pilihan untuk memastikan pariwisata tidak tumbuh dengan mengambil hak hidup masyarakat daratan. Gili harus dilayani, tetapi Kayangan, Gangga, Bayan, Tanjung, dan wilayah daratan lainnya tidak boleh dikorbankan.
Pipa yang pernah terbakar di Kayangan adalah pesan keras: air daratan punya sejarah, punya pemilik sosial, dan punya kehidupan yang bergantung padanya. Karena itu, masa depan layanan air Tramena harus dibangun di atas prinsip yang jelas: Gili mandiri dengan desalinasi, daratan tetap aman untuk rakyat dan pertanian.

Tinggalkan Balasan