Penulis : Zubaer Hafiz, Lc.
Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam
Pascasarjana UIN Mataram.

Ada satu fenomena menarik di media sosial yang belakangan menjadi bagian dari keseharian kita: kehidupan pribadi perlahan-lahan berubah menjadi tontonan publik. Melalui Facebook Pro, sebagian pengguna merasa perlu membagikan hampir setiap aktivitasnya. Apa yang dimasak, apa yang dibeli, ke mana pergi, apa yang sedang dipikirkan, hingga urusan keluarga yang semestinya cukup diketahui orang terdekat, semuanya bisa muncul di beranda. Seolah-olah, jika tidak diunggah, aktivitas tersebut belum sepenuhnya menjadi pengalaman.

Membagikan aktivitas sehari-hari tentu bukan sesuatu yang salah. Media sosial memang menyediakan ruang untuk bercerita, berkreasi, membangun pertemanan, bahkan mendapatkan penghasilan. Persoalannya muncul ketika kebiasaan berbagi tidak lagi mengenal batas. Hal-hal yang seharusnya menjadi ranah pribadi justru dipublikasikan tanpa pertimbangan yang matang. Fenomena inilah yang dikenal sebagai oversharing, yaitu membagikan informasi pribadi secara berlebihan, melampaui batas yang wajar atau aman untuk diketahui publik.

Fenomena ini cukup menarik ketika diamati pada sebagian kreator perempuan, termasuk ibu-ibu yang aktif menggunakan Facebook Pro. Ada yang merekam rutinitas rumah tangga dari pagi hingga malam, memperlihatkan situasi di dalam rumah, menceritakan urusan pasangan, mengunggah persoalan keluarga, bahkan membagikan hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan publik. Bukan berarti semua konten semacam itu keliru. Namun, kita patut bertanya: apakah setiap bagian kehidupan memang harus diketahui orang lain?

Pertanyaan tersebut penting karena media sosial sering kali membuat batas antara ruang pribadi dan ruang publik menjadi kabur. Dahulu, seseorang mungkin hanya menceritakan persoalan keluarga kepada sahabat atau kerabat dekat. Kini, cerita yang sama dapat disampaikan kepada ratusan bahkan ribuan pengguna yang tidak dikenal. Perbedaan mendasarnya bukan sekadar jumlah orang yang mendengar, melainkan hilangnya kendali atas informasi setelah dipublikasikan.

Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa tidak semua yang bisa dibagikan berarti perlu dibagikan. Kita mungkin bebas merekam aktivitas di rumah, tetapi kebebasan itu tidak otomatis menjadikan seluruh aktivitas tersebut layak dipertontonkan. Kita boleh menceritakan pengalaman pribadi, tetapi bukan berarti setiap urusan keluarga harus dijadikan konsumsi publik. Ada hal-hal yang justru bernilai karena dijaga, bukan karena diketahui banyak orang.

Budaya oversharing juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupannya sendiri. Aktivitas sehari-hari yang semula dijalani secara alami perlahan-lahan berpotensi dipandang sebagai bahan konten. Pertemuan keluarga bukan lagi sekadar momen kebersamaan, tetapi kesempatan membuat video. Percakapan pribadi menjadi bahan cerita. Bahkan, persoalan sederhana bisa terasa kurang lengkap jika tidak disertai unggahan dan tanggapan warganet. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bertanya apakah media sosial masih menjadi alat untuk mendokumentasikan kehidupan atau justru kehidupan mulai diatur demi memenuhi kebutuhan konten.

Memang, peluang memperoleh penghasilan melalui Facebook Pro dapat menjadi salah satu alasan seseorang rajin membuat konten. Hal itu sah-sah saja. Banyak orang memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan kreativitas dan menambah pendapatan. Namun, keinginan untuk terus aktif dan mendapatkan perhatian seharusnya tidak menghilangkan pertimbangan mengenai privasi. Kreativitas tidak harus dibangun dengan membuka seluruh kehidupan pribadi. Seseorang tetap dapat membuat konten yang menarik melalui pengetahuan, keterampilan, humor, pengalaman yang relevan, atau aktivitas sehari-hari yang tidak merugikan dirinya maupun orang lain.

Masalah privasi menjadi lebih serius ketika konten melibatkan anggota keluarga yang tidak memiliki kendali atas apa yang dipublikasikan. Anak-anak, misalnya, dapat muncul dalam video ketika sedang menangis, mandi, berganti pakaian, atau mengalami situasi yang memalukan. Orang tua mungkin menganggapnya sebagai momen lucu atau kenangan biasa. Akan tetapi, anak belum tentu memahami bahwa gambar dan videonya dapat disimpan, disebarluaskan, atau dilihat kembali oleh orang lain bertahun-tahun kemudian. Karena itu, keputusan orang dewasa untuk mengunggah konten keluarga semestinya mempertimbangkan hak dan martabat setiap orang yang ditampilkan.

Selain itu, semakin banyak informasi pribadi yang dibagikan, semakin besar pula risiko penyalahgunaannya. Informasi mengenai kebiasaan sehari-hari, kondisi rumah, lokasi, hubungan keluarga, atau keadaan ekonomi dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kita tidak perlu menjadi paranoid terhadap media sosial, tetapi kita perlu memahami bahwa ruang digital tidak selalu seaman dan seakrab yang terlihat di layar ponsel.

Di sinilah pentingnya membangun kesadaran tentang batas privasi. Sebelum mengunggah sesuatu, pengguna media sosial sebaiknya membiasakan diri bertanya: apakah informasi ini memang perlu diketahui publik? Apakah unggahan ini melibatkan privasi orang lain? Apakah saya tetap nyaman jika konten ini disimpan atau disebarkan di luar kendali saya? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara berbagi secara wajar dan membuka kehidupan pribadi secara berlebihan.

Kritik terhadap budaya oversharing tentu tidak boleh berubah menjadi upaya menghakimi ibu-ibu yang aktif di media sosial. Perempuan memiliki hak yang sama untuk berkarya, berekspresi, dan mendapatkan penghasilan dari konten digital. Begitu pula, membagikan kehidupan sehari-hari tidak otomatis berarti seseorang telah melanggar privasi. Yang perlu dikritisi adalah anggapan bahwa semua hal harus dibagikan dan bahwa semakin terbuka kehidupan pribadi seseorang, semakin baik pula kontennya.

Pada akhirnya, kemampuan menggunakan media sosial bukan hanya soal menguasai teknologi, memahami algoritma, atau mengumpulkan banyak pengikut. Kemampuan itu juga mencakup kebijaksanaan dalam menentukan batas. Sebab, menjadi kreator yang baik bukan berarti harus menceritakan semuanya kepada semua orang. Ada perbedaan antara kehidupan yang menarik untuk dibagikan dan kehidupan yang seharusnya tetap menjadi milik pribadi.

Kita tidak harus menghilang dari media sosial untuk menjaga privasi. Kita hanya perlu menyadari bahwa tidak semua hal membutuhkan penonton. Tidak semua pengalaman membutuhkan komentar, dan tidak semua urusan keluarga perlu menjadi konsumsi publik. Di tengah budaya digital yang mendorong orang untuk terus tampil, kemampuan menjaga sebagian kehidupan tetap pribadi justru merupakan bentuk kedewasaan. Sebab, pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menunjukkan segalanya kepada dunia.