Mediajurnalindonesia.id-Penulis : Ahmada Efendi
Selain mytologi Dewi Anjani ada juga mytologi Putri Mandalika yang hidup di masyarakat Lombok. Kedua perempuan tersebut adalah berstatus orang- orang dengan strata sosial atas. Kedua nya diceritakan sebagai putri raja.
Jika Dewi Anjani menguasai Gunung Rinjani maka Putri Mandalika seorang putri yang mengorbankan dirinya untuk semua pihak yang hendak memperebutkannya. Putri Mandalika sosok putri heroik yang rela mati demi mencegah pertikaian di antara para pangeran yang hendak mempersunting dirinya. Menceburkan diri ke laut lalu menjelma sebagai cacing laut yang disebut nyalè.
Dari dua mytologi terdahulu dapat didapatkan i’tibar atau pembelajaran yang sangat berharga. Bahwa nenek moyang masyarakat Sasak di satu sisi menempatkan perempuan sebagai subyek dan di sisi satunya lagi menempatkan perempuan sebagai obyek. Mytologi Dewi Anjani menempatkan perempuan sebagai subyek sedangkan mytologi Putri Mandalika menempatkan posisi perempuan sebagai obyek.
Artinya jauh sebelum masyarakat dunia membicarakan gender dan jenis kelamin nenek moyang masyarakat sudah cukup tercerahkan. Bagi nenek moyang masyarkat Sasak dengan pandangan yang menempatkan posisi jenis kelamin (perempuan) sebagai subyek dan obyek di satu sisi merupakan keterbukaan bagi adanya dinamika di masyarakat di mana perempuan bisa menjadi tokoh ( pemimpin) dan di sisi lain bisa juga menjadi yang dipimpin (sebagamana kasus kebanyakan).
Dari dua mytologi terdahulu juga memperlihatkan nenek moyang suku Sasak telah menerima istilah gender. Nenek moyang suku Sasak secara tidak langsung telah menganggap peran dan tanggung jawab jenis kelamin sebagai rekonstruksi sosial dan kebudayaan merupakan hal yang wajar-wajar saja. Jenis kelamin perempuan yang di wakili oleh Dewi Anjani menempatkan posisi gender sebagai seorang pemimpin (ratu). Sedangkan pada posisi Putri Mandalika lebih memperlihatkan gender sebagai pada kasus lumrah di mana perempuan lebih cenderung mengalah sebagai seorang mahluk lemah, seolah tidak mempunyai kemandirian untuk menentukan pilihan hidupnya.
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa nenek moyang masyarakat Sasak secara tidak langsung bukanlah masyarakat gagap wacana gender dan jenis kelamin, melainkan sudah dianggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Lalu ketika ada isu pengarus utamaan gender di tataran masyarakat global masyarakat Sasak seolah-olah menganggapnya itu adalah isu (wacana) baru. Masyarakat Sasak khsusunya seolah-olah baru lahir kemarin sore dan tergagap dalam irama tabuh isu gender. Padahal dalam lokal wisdomnya masyarakat Sasak sudah ada dinuilkan wacana gender dan jenis kelamin dari keberadaan dua mytologi yang diuraikan di atas.
Keberadaan masyarakat Sasak yang menganggap wacana gender dan jenis kelamin sebgai sebuah isu (wacana) baru tentu tidak lepas dari potongan sejarah seperti adanya penjajahan berlarut-larut yang dialami masyarakat Sasak. Bagaimana pun masyarakat Sasak mempunyai potongan episode kelam sebagai suku bangsa yang pernah diduduki oleh dua imperialisme sekaligus. Setelah lepas dari penguasa Karang Asem 150-an tahun lalu dikuasai oleh penjajah Belanda ratusan tahun pula. Lengkap sudah derita materil dan immateril, derita lahir dan bathin suku bangsa Sasak dari dua penjajahan.
Dua kekuatan yang telah berpengaruh besar bagi kesulitan masyarakat Sasak untuk segera dapat mengenali identitas (kesejatian diri mereka). Dalam pada itu wajarlah kemudian masyarakat Sasak sangat berwarna patriarki sebagai salah satu warna tebal dalam peradaban mereka. Patriarki yang sangat sulit melahirkan pemimpin-pemimpin baru apalagi pemimpin itu tidak biasanya berjenis kelamin perempuan. Padahal jika diselami dari kisah Dewi Anjani dan Putri Mandalika menempatkan perempuan sebagai pemimpin dan kaula merupakan hal biasa saja di mana hal demikian berjalan sesuai dengan tuntutan dinamika yang ada pada sebuah titik ruang dan waktu tertentu.
Oleh karenanya ketika Ummi Rohmi hendak datang sebagai salah seorang pemimpin maka yang demikian itu adalah hal yang wajar-wajar saja, sesuai dengan kondisi ruang dan waktu yang telah mempergilirkan orang-orang untuk membuat sejarah. Keberterimaan terhadap kepemimpinan perempuan (Ummi Rohmi) adalah bagian dari identitas asli suku Sasak. Keberterimaan terhadap kepemimpinan perempuan (Ummi Rohmi) bukanlah wacana baru melainkan bisa dilacak lewat genologi mytologi yang sudah diwariskan nenek moyang masyarkat Sasak lewat Dewi Anjani sejak sekian lama.
