Penulis : Ketua Yayasan Darul Hikmah ( Pondok Naga ) Tanak Beak Narmada yang kerap dikenal “Guru Naga”
Tgh. Khalilurrahman , M.Pd.
Lombok Barat,NTB. Mediajurnalindonesia.id- Kami adalah anak-anak pulau yang tumbuh dalam gema azan dan suara rebana. Kami besar di bawah bayang surau, masjid dan pesantren. saudara kami yang lain hidup dibawah lantunan doa dan ibadah dari tutur mulia para Guru, Biksu, maupun Pandita. Kami semua diajarkan menundukkan pandangan, sebelum diajarkan mengangkat kepala.(29 Juli 2025)
Dan sungguh kami, hari ini, terperangah. Tergugu. Tinjot kemelas.
Sebuah lomba dengan judul yang terdengar sangat gagah dan pastinya mendunia : binaraga dihelat di tanah kami, tanah yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Bayangan kami adalah orang-orang yang dengan usaha dan kedisiplinan tinggi memamerkan otot dalam baluran antraksi dan seni. Tapi apa yang kami saksikan bukan kebugaran, bukan prestasi, bukan disiplin melainkan tubuh-tubuh perempuan yang dipertontonkan, diukur, ditatap, dan dinilai seolah nilai manusia hanya sebatas urat dan daging. Berlenggok dalam balutan busana minim dengan sepatu highhill, aroma parfum dan paras jelita seakan juga menjadi bagian dari point penilaian. Kombinasi cantik antara Peragawati dan fhisik nan gagah perkasa.
Kami bertanya : Di mana olahraganya? Sepanjang pemahaman kami, dalam olahraga, ada penampilan kecerdasan atau kegigihan bahkan kekuatan bertahan yang dipertandingkan
Ini bukan sekadar soal cabang olahraga. Apalagi ini adalah ajang Nasional, FORNAS, yang tentu gemanya tidak hanya sebatas Nusantara, namun juga menyelam ke seluruh tubuh media social dunia. Mengapa akhirnya dipersempit menjadi cara kita memandang tubuh perempuan, tentang batas antara kompetisi dan eksploitasi, akhirnya berujung tentang sejauh mana kita rela menjual marwah daerah atas nama sebuah perhelatan.
Kami tahu bahwa binaraga, di panggung internasional, memang menuntut pertunjukan fisik. Dengan aturan dan tata cara tertentu. Tapi NTB bagi kami, bukan hanya sebuah panggung. NTB adalah tanah warisan, NTB adalah wajah pertiwi, tempat para perempuan diagungkan sebagai ibu, bukan eksploitasi dalam sorotan lampu.
Kami coba membaca SOP penilaian binaraga: ada tentang otot, tentang simetri, tentang pose. Tapi tak ada satu pun pasal yang bicara tentang rasa malu, tentang kehormatan, tentang batas aurat. Maka kami bertanya lagi: untuk siapa lomba ini? Untuk siapa tubuh ini dijadikan tontonan? Yang lebih jauh lagi, jika FORNAS 2025 ini adalah Ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional, maka siapakah yang berolahraga, siapakah yang ber rekreasi, dan siapakah yang akan terpuasi?
Disisi lain, kami juga sangat mengapresiasi pemerintah yang telah berusaha menghadirkan kemeriahan dan rasa bangga dalam diri kami. Tidak mudah menghadirkan event skala Nasional, pasti rumit dan sulit dalam persiapan, belum lagi bicara pendanaan, pasti tak murah karena ini adalah prestasi megah. UMKM dan pedagang kecil juga kecipratan, okuvansi hotel terlampui, PAD parkiran kebanjiran, toko oleh oleh dan biro perjalanan tepuk tangan. Pun, jika ada kekurangan, panitia dan siapapun juga pasti akan mengalaminya selama ia adalah manusia.
Karenanya, yakinlah bahwa kami menyampaikan ini bukan dalam kemarahan, tapi dalam cinta. Cinta pada tanah ini. Cinta pada ibu-ibu kami. Cinta pada iman dan adat yang telah menjadikan kami seperti sekarang—tegak, tapi tahu menunduk. Entahlah kalau mungkin ada anggota panitia lokal yang istri atau anaknya menjadi peserta, sudah waktunya mungkin kita berguru padanya.
Sementara untuk event Binaragawati ini, kami menolak segala bentuk pertunjukan tubuh yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Jikapun harus dan merup[akan perintah Negara, maka silahkan SOP nya diatur tersendiri dengan ruang atau penayangan terbatas. Bagi kami kehormatan perempuan bukan untuk dipertandingkan di hadapan khalayak. Kami menyayangkan keputusan panitia dan pemerintah daerah yang membiarkan lomba binaragawati berlangsung tanpa pertimbangan sosial dan moral masyarakat NTB. Kami menilai, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan kegiatan seperti ini agar tidak lagi terjadi benturan antara modernisasi dan budaya, tentunya pula agama.
Kami mendesak agar setiap kegiatan nasional yang diadakan di daerah ini mempertimbangkan sensitivitas budaya dan nilai religius masyarakat. Kami berharap agar tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat tidak tinggal diam. Karena ketika suara nurani dibungkam, maka yang akan bicara nanti adalah penyesalan sejarah. 20 tahun lagi, kalau sempat kita hidup, cucu kita mungkin bertanya dan meminta klarifikasi kita. Apalagi hari hari ini, kita di NTB sedang berusaha menegakkan kepercayaan masyarakat karena banyaknya peristiwa dalam berbagai tingkatan pendidikan yang kebanyakan korbannya adalah perempuan.
Kami bukan anti kemajuan. Tapi kami menolak maju dengan menginjak harga diri sendiri. Kami bukan anti kompetisi, tapi kami menolak lomba yang menjadikan kehormatan sebagai bahan tontonan.
Kami anak-anak NTB. Kami mungkin sederhana, tapi tak rela keyakinan kami dilanggar, budaya kami dipermainkan, dan perempuan kami dijadikan panggung hiasan.
NTB bisa besar. Tapi besar_lah dengan nilai, bukan dengan glamor. NTB Berkibar dengan ilmu, kecerdasan, keindahan alam dan keramahan penduduknya, bukan dengan ilusi yang dipaksakan. NTB akan mendunia, namun bukan berarti seluruh selera dunia dipaksakan kedalam lidah kita.(*)
