Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Desa Pemenang Barat yang digelar di halaman Kantor Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Selasa (28/7/2026).
Perayaan yang mengusung tema “Gotong Royong Membangun Desa Menuju Masa Depan yang Gemilang” itu berlangsung meriah dengan dihadiri jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Camat Pemenang Suhadman, unsur Muspika Kecamatan Pemenang, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.
Dalam sambutannya, Bupati Najmul menyoroti usia Desa Pemenang Barat yang telah mencapai 70 tahun, jauh lebih tua dibandingkan usia Kabupaten Lombok Utara yang baru menginjak 18 tahun. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi fakta sejarah yang menunjukkan bahwa desa memiliki perjalanan pemerintahan yang panjang sebelum terbentuknya Kabupaten Lombok Utara.
“Alhamdulillahi wa syukrulillah, luar biasa. Ini ibarat anak lebih tua dari bapaknya. Desa Pemenang Barat lahir terlebih dahulu, kemudian baru ada Kabupaten Lombok Utara,” ujar Bupati.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh kepala desa yang pernah memimpin Pemenang Barat. Menurutnya, estafet kepemimpinan yang berjalan dari masa ke masa telah membawa desa tersebut berkembang hingga berstatus sebagai desa mandiri.
Bupati mengatakan, Desa Pemenang Barat memiliki sejarah sebagai wilayah yang dahulu sangat luas dan kemudian melahirkan sejumlah desa baru di Kabupaten Lombok Utara. Dengan usia yang matang, kata Bupati, tata kelola pemerintahan desa kini dinilai semakin baik dan mampu menjadi contoh bagi desa lainnya.
Pada kesempatan itu, Bupati juga mengungkapkan wacana perubahan status sebagian wilayah Desa Pemenang Barat yang berada di kawasan perkotaan menjadi kelurahan. Menurut Bupati, langkah tersebut dimungkinkan apabila kondisi ekonomi dan tata kelola pemerintahan telah memenuhi persyaratan.
“Lurah nantinya tidak dipilih oleh masyarakat, tetapi ditugaskan oleh pemerintah. Jika kondisi keuangan dan ekonominya sudah bagus, insya Allah akan kita jadikan kelurahan agar manfaatnya bisa lebih dirasakan masyarakat secara maksimal,” katanya.
Bupati Najmul menegaskan bahwa kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, tetapi juga dukungan masyarakat. Ia mengajak seluruh warga untuk terus menjaga komunikasi, memperkuat sinergi, dan mensyukuri berbagai capaian pembangunan yang telah diraih.
“Pemenang Barat akan semakin maju jika pemimpinnya baik dan masyarakatnya juga mendukung. Komunikasi yang baik setiap hari adalah kunci. Kami berharap Desa Pemenang Barat dapat menjadi contoh atau role model bagi desa-desa lain di Lombok Utara karena kematangan usia dan tata kelolanya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pemenang Barat, Asmaat, mengingatkan bahwa desa yang dipimpinnya memiliki akar sejarah yang panjang. Sekitar 71 tahun lalu, wilayah tersebut masih berstatus sebagai Kedusunan Pemenang di bawah Distrik Tanjung sebelum berkembang menjadi desa dan mengalami beberapa kali pemekaran wilayah.
“Sebelum ada Pemenang Barat dan Pemenang Timur, kita adalah satu kesatuan. Desa kami memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan desa-desa tetangga karena dulunya berada dalam satu wilayah administratif,” katanya.
Asmaat menjelaskan, terdapat tiga momen penting dalam sejarah pemekaran Desa Pemenang Barat. Desa Gili Indah memisahkan diri pada 1997 pada masa kepemimpinan almarhum Humaidi, disusul Desa Malaka yang menjadi desa definitif pada 1999 di masa kepemimpinan yang sama. Selanjutnya, Desa Menggala resmi menjadi desa definitif pada 2021 setelah melalui proses panjang pada masa kepemimpinan Sukri.
Perayaan HUT ke-70 Desa Pemenang Barat juga menampilkan konsep kearifan lokal yang melibatkan partisipasi masyarakat. Warga secara swadaya, dikoordinasikan oleh para kepala dusun, membawa hasil pertanian dari lahan basah maupun lahan kering untuk dipamerkan dalam empat tiang simbolis sebagai lambang kemakmuran masyarakat.
“Kami memikul empat tiang simbolis yang diisi hasil bumi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Lombok Utara memiliki potensi kemakmuran. Setelah acara selesai, seluruh hasil bumi tersebut akan dibagikan kembali kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah bersama,” ujar Asmaat.
Ia menambahkan, konsep tersebut sengaja diangkat karena selaras dengan tema HUT ke-70 yang menitikberatkan pada semangat gotong royong sebagai kearifan lokal dalam mempercepat pembangunan desa.
Memasuki tahun ketujuh masa kepemimpinannya, Asmaat mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga sekaligus berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Kami menyadari masih jauh dari kata sempurna. Namun dengan semangat gotong royong dan dukungan seluruh elemen masyarakat, kami berkomitmen untuk terus memperbaiki diri serta menyempurnakan pelayanan bagi masyarakat di masa mendatang,” tuturnya.(D)

Tinggalkan Balasan