
Penulis : Aliya Nurmaulida, Mahasiswi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, NIM : 260402025.
Tulisan ini saya utarakan bukan untuk menasehati siapapun tentang bagaimana seharusnya memilih pasangan, hanya saja sebagai pengingat bagi kita semua terutama bagi diri saya sendiri yang kemudian ingin saya bagikan kepada teman-teman yang mungkin sedang memikirkan hal serupa, sebab kita sebagai manusia yang belajar dari pengalaman dan contoh seringkali sibuk membayangkan sosok pasangan ideal yang ingin kita temui, Terlebih Ketika melihat trend-trend yang banyak sekali mengarah ke pembahasan ini seperti trend manifesting pasangan dari lagu training season di tiktok yang ramai di gunakan untuk menunjukkan kriteria pasangan Impian.
Setelah seringkali trend tersebut seliweran di fyp tiktok, saya justru teringat pada suatu hal bahwa kita begitu mudah yah menyebutkan kualitas seperti apa yang kita inginkan dari seseorang tetapi terkadang lupa melihat kualitas apa yang sedang kita bangun dalam diri sendiri bahkan tanpa benar-benar bertanya apakah kita juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik? lewat trend itu kita bisa melihat begitu banyak harapan orang tentang pasangan ideal. Ada yang ingin seseorang yang bisa memahami perasaannya, ada yang ingin pasangan yang mampu mengendalikan emosi, ada juga yang berharap dipertemukan dengan seseorang yang bisa membimbingnya dalam urusan agama.
Kalau dipikir-pikir, kita mungkin punya harapan yang sama, meskipun nggak join membuat video trend itu. Kita ingin seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, yang mau mendengarkan cerita kita, yang bisa diajak grow up together karena siapa sii yang ngga ingin punya pasangan terbaik. Pastinya kita ingin dicintai dengan tulus, ingin dihargai, dipahami, dan diperlakukan dengan baik.
Kita ingin pasangan yang bukan hanya pandai membuat janji, tetapi juga bisa membuktikannya melalui tindakan (talkless more action) tapi coba kita berfikir dan bertanya kepada diri kita sendiri, ketika menaruh harapan agar mendapatkan pasangan yang paham agama, apakah kita juga sedang berusaha memperbaiki hubungan kita dengan rabb kita? Ketika menginginkan seseorang yang punya emotional intelligence, apakah kita juga sudah belajar mengelola emosi sendiri? Ketika kita berharap mendapatkan pasangan yang setia dan bertanggung jawab, apakah kita juga sudah belajar menjaga kepercayaan dan bertanggung jawab atas tindakan kita? Berkaitan dengan ini saya pernah baca quotes yang bagus sekali “Dear cowo dan cewe, punya standar tinggi dalam memilih pasangan itu hak. Tapi punya kualitas yang sepadan itu tanggung jawab.
Jangan sibuk menuntut pasangan ideal, sementara diri sendiri minim kontribusi. Standar tanpa introspeksi bukan prinsip, tapi ego yang dibungkus kriteria. Sebelum bertanya siapa yang pantas buat kamu, tanyakan dulu kamu pantasnya buat siapa?” DEYMN
Maksud saya disni bukan berarti kita harus menjadi orang yang sempurna, bukan juga berarti kita harus memiliki semua kualitas yang sama persis dengan calon pasangan yang kita dambakan. Tetapi, bukankah akan lebih baik kalau usaha mencari pasangan yang baik berjalan beriringan dengan usaha memperbaiki diri? Sebab, kadang-kadang kita tahu betul seperti apa orang yang ingin kita temui, tetapi belum tentu kita pernah benar-benar memikirkan bagaimana diri kita ketika nanti hidup bersama seseorang, apakah bisa menjadi pasangan yang baik? Pendengar yang baik? Teman berdiskusi yang baik? Kita harus menyadari bahwa hubungan yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin kita dapatkan, tetapi juga tentang apa yang bersedia kita berikan/usahakan (feed back effort).
Dari sini, saya mulai berpikir bahwa memperbaiki diri dalam urusan jodoh bukan sekadar usaha agar terlihat pantas di mata calon pasangan. Ada hal yang lebih penting, yaitu mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan bersama seseorang. Karena pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi juga tentang hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Sebagaimana tujuan pernikahan yang di jelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21. Yaitu Sakinah, mawaddah dan Rahmah.
Nah kalau kita kaitkan dengan ayat tersebut keluarga yang tenteram tentu tidak cukup kita bangun dengan hanya menemukan orang yang sesuai kriteria aja kan? Kita juga perlu belajar menjadi pasangan yang sesuai dengan harapan kita terhadap seseorang, setelah menikah, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, keputusan yang perlu dibicarakan, dan perbedaan yang harus dimusyawarahkan bersama. Bukan berarti kita harus menjadi seseorang yang sempurna. Kita semua masih belajar dan memiliki kekurangan. Kita boleh berharap dicintai oleh seseorang yang berkualitas, tetapi kita juga perlu terus belajar menghadirkan kualitas dalam kehidupan pasangan kita.
Mungkin sebagian dari kita sudah punya gambaran yang cukup jelas dan spesifik tentang bagaimana kriteria yang ingin dijadikan teman hidup. Dan menurut saya, itu nggak salah sama sekali, kita berhak punya standar dalam memilih pasangan. Kita berhak berharap mendapatkan seseorang yang sesuai dengan nilai-nilai diri kita. Karena itu juga bagian dari langkah-langkah kita mengurangi konflik dalam berkeluarga, kan gitu juga yang sedang trend dalam lagu stop the weeding di tiktok “klo belum jadi suami aja sifatnya ga baik jangan berfikir saat jadi suami akan berubah menjadi lebih baik” Stop the weeding!
Kalau kita lihat lebih dalam itu bukan sekedar trend tapi juga pengingat untuk kita lebih hati-hati dalam memilih pasangan hidup, dan sebuah alaram pengingat bagi kita agar berusaha juga menjadi pasangan yang baik dengan menjadi versi terbaik agar kita ngga jadi partner yang buruk bagi pasangan kita.
Yakin ajah, saat kita sudah melakukan yang terbaik untuk diri kita pasti Allah juga hadirkan pasangan yang baik juga, seperti yang Allah janjikan dalam QS. Annur ayat 26. We don’t need to worry about anything teman-teman, Allah maha adil, yang sudah tertakar untuk kita tidak akan pernah tertukar.

Tinggalkan Balasan