Lombok Timur, Mediajurnalindonesia.id |Dari kawasan lereng Gunung Rinjani, lahir kisah inspiratif tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Sosok perempuan tangguh, Syae’un S.Pd.I, pengelola UMKM sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Rinjani, berhasil mengubah komoditas bawang putih lokal menjadi produk premium Black Garlic yang kini mulai menarik perhatian pasar internasional, Sabtu (13/6/2026).
Dengan semangat pantang menyerah, usaha yang dirintisnya tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Mulai dari kalangan lansia hingga lulusan sarjana kini ikut terlibat dalam pengembangan usaha tersebut. Kisah ini menjadi bukti bahwa dari desa kecil sekalipun dapat lahir produk dengan daya saing global.
Senior Manager Social Impact Amman Mineral International, Aji Suryanto, menjelaskan bahwa visi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN adalah menciptakan komunitas di wilayah operasional yang memiliki ekosistem sosial budaya dinamis sehingga mampu melahirkan berbagai peluang bagi masyarakat untuk berkembang.
“Program ini dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni Human Capital Development (Pengembangan Sumber Daya Manusia), Economic Empowerment (Pemberdayaan Ekonomi), dan Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan),” jelas Aji.
Ia mengungkapkan, saat ini AMMAN membina sebanyak 40 pelaku UMKM di kawasan kaki Gunung Rinjani, Sembalun dan Jerowaru, masing-masing 20 UMKM di setiap kecamatan.
Program pendampingan tersebut dikenal dengan nama Gumi Seri ( Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau) yang mulai berjalan sejak tahun 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan pariwisata kerakyatan di dua kawasan strategis pariwisata Lombok Timur.
“Di Jerowaru potensi wisata utamanya adalah wisata pantai, sementara di Sembalun sektor unggulannya wisata pegunungan. Karena itu kami mensinergikan program pemberdayaan ekonomi dengan potensi pariwisata yang berkembang di dua wilayah tersebut,” ujarnya.

Di Kecamatan Sembalun sendiri, lanjut Aji, proses seleksi dilakukan secara ketat. Dari total 161 UMKM yang terdata, dipilih 60 UMKM terbaik, kemudian AMMAN melakukan pendampingan intensif kepada 40 UMKM terpilih, masing-masing 20 di Sembalun dan 20 di Jerowaru.
Tidak hanya fokus pada pelaku usaha, melalui Program Gumi Seri, AMMAN juga memberikan pelatihan kepada 20 pemuda dan pemudi dari dua kecamatan tersebut untuk menjadi fasilitator pendamping UMKM.
“Mereka sengaja kami latih agar mampu memberikan materi pendampingan kepada para pelaku usaha, terutama dalam strategi pemasaran dan pengembangan usaha,” tambahnya.
Sementara itu, Syae’un S.Pd.I selaku pelaku UMKM binaan AMMAN mengaku sangat merasakan dampak positif dari program pendampingan yang diterimanya, khususnya dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran.
“Sebelum mendapatkan pendampingan dari AMMAN, omzet usaha kami hanya sekitar Rp10 juta per bulan. Setelah mendapatkan pembinaan, omzet meningkat menjadi Rp20 hingga Rp25 juta per bulan, dengan konsumen mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan produk Black Garlic juga melibatkan petani bawang putih lokal sebagai upaya meningkatkan nilai jual komoditas pertanian yang sebelumnya memiliki harga relatif rendah di pasaran.
“Melalui usaha ini kami ingin menghidupkan kembali ekonomi petani bawang putih sekaligus memberdayakan perempuan agar lebih mandiri secara ekonomi,” tutupnya.
Program ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara dunia usaha dan masyarakat mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, sekaligus mengangkat potensi desa menuju pasar global.(Rozak)

Tinggalkan Balasan