Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id – Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis pesantren resmi diluncurkan di Dapur SPPG Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim, Dusun Geresik, Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, Selasa (12/5/2026). Kehadiran program ini digadang menjadi percontohan nasional pelayanan gizi santri berbasis pesantren.
Peluncuran tersebut dihadiri Kepala Badan Gizi Nasional Dr. Ir. Dadan Hindayana, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, unsur Forkopimcam , Ketua Satgas MG Lobar, Kepala Dinas Kesehatan, Camat Kediri, Ketua Yayasan Nurul Hakim serta para kepala desa dan tokoh pesantren.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut keberadaan SPPG di lingkungan pesantren menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“SPPG di pesantren ini menjadi percontohan yang sangat baik. Santri mendapatkan makan bergizi, pesantren mendapat insentif, dan lahan pesantren bisa dimanfaatkan untuk mendukung rantai pasok pangan,” ujarnya.
Ia juga menilai fasilitas dapur dan sistem pelayanan di SPPG Nurul Hakim telah melampaui standar nasional, terutama dari sisi higienitas dan kualitas layanan makanan.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengungkapkan bahwa pengembangan MBG berbasis pesantren di NTB terus diperluas. Saat ini, sebanyak 13 pesantren di Pulau Lombok telah mendapatkan titik layanan MBG mandiri.
Menurut Iqbal, konsep closed loop ecosystem yang diterapkan pesantren menjadi kekuatan utama program tersebut karena melibatkan jamaah dan masyarakat sekitar dalam penyediaan bahan pangan hingga distribusi.
“Ada uang yang berputar di dalam pesantren. Yang memasok kebutuhan adalah jamaahnya sendiri, yang bekerja juga jamaahnya,” katanya.
Iqbal menegaskan program MBG bukan sekadar agenda jangka pendek, melainkan investasi untuk menciptakan generasi emas Indonesia dalam 10 hingga 25 tahun mendatang.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Ponpes Nurul Hakim, TGH Muharaf Mahfuz, memastikan pihaknya akan mengoperasikan dua dapur SPPG untuk melayani sekitar 5.600 santri dan tenaga pendidik di lingkungan pesantren.
“Dua dapur ini akan sangat membantu kebutuhan gizi santri kami,” ujarnya.
Yayasan juga menyiapkan lahan seluas lebih dari 11 hektar untuk mendukung pengembangan fasilitas program secara berkelanjutan.
Program SPPG berbasis pesantren diharapkan menjadi model nasional pelayanan gizi terpadu yang tidak hanya meningkatkan kesehatan santri, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. (RJ).

Tinggalkan Balasan