Oleh:

Pimpinan Pondok Naga, Tgh. Khalilurrahman, M.Ag (PonPes Darul Hikmah, Tanak Beak, Narmada).

Setiap akhir tahun, bangsa ini kembali memasuki ruang sosial bernama Natal dan Tahun Baru (NATARU). Momentum ini selalu menghadirkan dua wajah sekaligus: kegembiraan bagi sebagian warga dan kegelisahan bagi sebagian yang lain. Di titik inilah refleksi keagamaan dan kebangsaan menjadi penting, agar perbedaan tidak berubah menjadi jarak, dan euforia tidak menutup nurani.

Bagi pesantren, Nataru bukan ancaman, tetapi ujian kedewasaan. Ujian bagaimana iman dijaga tanpa kehilangan akhlak, dan bagaimana keyakinan ditegaskan tanpa melukai kebersamaan. Pesantren sejak awal berdiri tidak hanya mendidik santri agar taat beragama, tetapi juga matang secara sosial.

Dalam soal akidah, Islam memiliki batas yang terang dan tidak bisa ditawar. Setiap agama memiliki ajaran dan ritual ibadahnya masing-masing. Umat Islam tidak mencampuradukkan keyakinan dengan agama lain, dan prinsip ini diajarkan secara jujur serta bertanggung jawab kepada para santri. Keteguhan iman adalah fondasi utama yang tidak boleh goyah oleh arus apa pun.

Namun, iman yang kokoh tidak pernah melahirkan sikap keras, apalagi permusuhan. Justru dari keyakinan yang kuat tumbuh akhlak yang santun dan menenangkan. Kerukunan umat beragama bukanlah tentang menyamakan keyakinan, melainkan tentang menghormati perbedaan dengan adab dan kesadaran kebangsaan. Di sinilah pesantren menanamkan sikap menahan diri, tidak mudah terpancing provokasi, serta menjaga lisan dan perilaku di ruang publik.

Islam hadir sebagai rahmat, bukan ancaman. Karena itu, dakwah akhlak sering kali jauh lebih efektif daripada retorika keras. Menjaga ketenangan sosial, tidak memproduksi ujaran kebencian, dan menghormati sesama warga bangsa adalah bagian dari ibadah sosial yang kerap luput dari perhatian.

Tahun Baru 2026 juga datang dalam suasana keprihatinan. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh mengingatkan bahwa di tengah hiruk-pikuk perayaan, ada tangis dan duka yang membutuhkan empati. Di saat sebagian masyarakat menikmati libur panjang dan pesta pergantian tahun, ada keluarga-keluarga yang sedang berjuang dengan kehilangan dan ketidakpastian hidup.

Pesantren mengajarkan bahwa iman tidak berhenti di sajadah. Ia harus hadir dalam kepekaan sosial. Doa, solidaritas, dan empati adalah wujud nyata keberagamaan. Menahan diri dari euforia berlebihan di tengah musibah bukanlah sikap anti kebahagiaan, melainkan bentuk adab kemanusiaan dan kedewasaan moral.

Ujian Iman di Ruang Sosial

NATARU 2026 seharusnya tidak hanya menjadi penanda pergantian kalender, tetapi juga cermin untuk bercermin sebagai bangsa. Apakah kita mampu menjaga iman tanpa kehilangan akhlak? Apakah kita bisa merawat kerukunan tanpa mengorbankan keyakinan? Dan yang paling penting, apakah kita masih memiliki kepedulian di saat sesama sedang tertimpa musibah?

Dari pesantren, kami menegaskan sikap yang sederhana namun mendasar: iman harus dijaga dengan kejujuran, kerukunan dirawat dengan kedewasaan, dan kepedulian sosial ditegakkan sebagai bukti keimanan. Di sinilah kualitas keberagamaan diuji bukan di panggung perayaan, tetapi di ruang empati dan solidaritas.

Jika iman melahirkan akhlak, dan akhlak melahirkan kepedulian, maka NATARU 2026 akan menjadi momentum kebangsaan yang bermakna. Bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa bangsa ini hanya akan kuat jika warganya mampu beriman, beradab, dan saling menguatkan.

Semoga Allah SWT melindungi negeri ini, menguatkan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, khususnya di Aceh, dan menuntun kita semua menjadi manusia yang bukan hanya taat beragama, tetapi juga hadir sebagai rahmat bagi sesama. (Ramli Mji)