Lombok Utara,Mediajurnalindonesia.id– Ketua Panitia Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Lombok Utara (KLU) ke-17, Tresnahadi, angkat bicara terkait insiden anak-anak dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) yang tidak dapat menggunakan sound system saat tampil di Lapangan Umum Tanjung, Rabu (23/7/2025).

Dalam konfrensi pers yang digelar Kamis (24/7/2025), Tresnahadi menjelaskan bahwa kegiatan di lapangan tersebut merupakan pameran pembangunan, potensi daerah, pariwisata, dan gastronomi dalam rangkaian HUT KLU ke-17 dengan sumber anggaran dari Dinas Pariwisata.

“Seluruh kegiatan sudah diatur oleh Event Organizer (EO) yang ditunjuk Dinas Pariwisata selaku pelaksana pameran pembangunan. Rundown acara juga jelas,” ujar Tresnahadi.

Ia mengatakan, panitia sebenarnya telah memberikan waktu kepada LPA untuk tampil pada tanggal 23 Juli, setelah sebelumnya pihak LPA berkoordinasi meminta slot waktu. Namun, kejadian di lapangan di luar perkiraan karena jadwal acara sudah diatur sebaik mungkin sejak hari pembukaan hingga penutupan.

“Saya atas nama ketua panitia meminta maaf kepada seluruh masyarakat Lombok Utara atas kejadian kemarin. Harapannya, polemik ini segera kita akhiri karena hanya miskomunikasi saja,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Denda Dewi, juga menyampaikan permohonan maaf. Menurutnya, insiden tersebut sepenuhnya di luar kendali panitia HUT KLU.

“Saya tidak menduga hal ini terjadi. Dari awal kami sudah wanti-wanti agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ternyata di lapangan berkembang di luar kendali kami, termasuk pihak panitia HUT,” kata Denda.

Ia mengaku telah menerima laporan bahwa kondisi teknis acara aman, namun saat pentas anak berlangsung, sound system tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Kegiatan ini merupakan gawe besar pemda dan menjadi catatan serius bagi Dispar sebagai panitia penyelenggara agar peristiwa serupa tidak terulang. Saya juga memohon maaf kepada LPA atas gagalnya pentas anak-anak tersebut,” ujarnya.

Denda menambahkan, panitia sebenarnya telah mengusulkan pelaksanaan ulang pada hari Sabtu, namun LPA bersikeras agar penampilan tetap digelar di Hari Anak.

“Saya posisinya tidak di KLU, jadi saya hubungi adik-adik EO melalui telepon. Mereka bilang semua aman. Vendor yang kami libatkan sudah termasuk seluruh kegiatan, termasuk pentas ini,” ungkapnya.

Senada, Koordinator Lapangan HUT KLU, Raden Prawangsa, yang mewakili pihak EO, juga mengakui adanya miskomunikasi fatal antara EO dan vendor sound system.

“Ini murni miskomunikasi. Kami memang khusus tanggal 23 itu teman-teman NGO yang meng-handle dari pagi sampai sore. Kami fokus di acara malam hari. Dari pagi sampai siang sound ada, namun tidak tersedia persis di sore hari. Itu yang menyebabkan salah kaprah,” jelas Raden.

Ia menegaskan, kejadian ini bukan karena kelalaian disengaja melainkan murni kesalahan koordinasi.

“Kami menerima penunjukan ini dengan rasa terima kasih dan komitmen penuh. Namun, kejadian ini tetap menjadi tanggung jawab kami secara moral,” tandasnya.

Ia juga turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi timnya.

“Kami EO lokal asli KLU. Saat itu juga, kami sudah memutus kontrak dengan penyedia sound system dan menyiapkan penggantinya di venue,” kata Raden.

Panitia berharap, rangkaian perayaan HUT KLU ke-17 tetap menjadi ajang hiburan dan kegembiraan bagi masyarakat hingga penutupan acara pada 26 Juli mendatang.(Doel)