Mediajurnalindonesia.id-

Penulis : Ahmad Efendi

Ada adagium yang mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang. Paralel dengan adagium tersebut, maka laki- laki sebagai individu yang kodratnya lebih kuat dibandingkan perempuan menjadi dominan dalam membuat sejarah. Dengan demikian laki- laki unggul dalam banyak hal tidak terkecuali pada bidang kepemimpinan.

Padahal kepemimpinan itu tidak jatuh dari langit. Melainkan didapatkan melalui belajar, belajar dan pembiasaan. Oleh sebab itu kedua jenis mahluk laki dan perempuan bisa menjadi pemimpin asalkan mau belajar, belajar dan membiasakan diri. Di sinilah keunggulan komparativ Ummi Rohmi. Ia telah lama belajar kepemimpinan bahkan hidup dalam titik episentrum kepemimpinan itu sendiri.

Pada perjalanannya laki-laki dominan maka sejarah kepemimpinan laki-laki lah yang banyak muncul. Lalu bagaimana dengan adanya sejarah ratu-ratu. Hampir tidak pernah menjadi rujukan yang fair dari masyarakat untuk mencoba kembali melakukan autokritik dalam melihat adanya potensi kempemimpinan perempuan.

Sedangkan dalam sejarah tertuangkan juga pemimpin-pemimpin perempuan seperti Ratu Welhelmina dari Belanda, Ratu Isabella dari Spanyol, Ratu Bilqis dari negara Saba yang ditaklukkan Nabi Sulaiman. Artinya pernah ada pemimpin perempuan, namun tidak menjadi arus utama sehingga laki-laki saja yang dianggap potensial dan mampu. Kalau mau ditarik lagi pada konteks nusantara muncullah kepeloporan (kepemimpinan) perempuan seperi Cut Nya Dhien, Cut Nya Mutia, Laksamana Malahayati dll.

Perubahan Sosial

Dahulu di zaman kolonial hanya kelas tertentu yang bisa mengenyam pendidikan. Tidak semua laki-laki bisa mengakses pendidikan. Apalagi perempuan, sudah pasti sekolah menjadi barang yang tidak bisa dijangkau.

Massa kolonial pun berlalu. Hanya saja untuk masyarakat kembali recovery dari trauma penjajahan tidak bisa dihapus dalam waktu sebentar. Butuh proses panjang. Termasuk bagaimana agar semua anak bangsa mendapatkan pendidikan.

Perlahan tetapi pasti semua bisa bersekolah, Setelah berabad lamanya perempuan didesain bodoh. Dalam kata lain kebodohan masyarakat dipelihara untuk keperluan kolonialisme. Lalu butuh waktu dalam hitungan dasa warsa untuk bisa mencerdaskan kehidupan masyarakat. Belum lagi untuk mencerdaskan kaum hawa.

Dari ilustrasi terdahulu dapat dilihat bagaimana proses perubahan sosial itu terjadi. Ketika faktor atau variable independennya berupa hilangnya kolonialisme maka perlahan-lahan apa yang dilarang pun juga hilang.

Begitulah salah satu proses perubahan sosial itu bekerja. Perlahan, namun pasti. Ada cepat ada yang lambat.

Demikian pula adanya perubahan yang ditiupkan oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagaimana yang disaksikan bersama dewasa ini. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah muncul sebagai variable independen yang mempunyai daya dorong super dahsyat. Ia menjadi percepatan perubahan sosial yang tidak dapat dibendung. Ia hadir bagaikan air bah yang membanjiri kehidupan masyarakat.

Bahkan kehadirannya seperti tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hape android misalnya dapat menemani masyarakat dalam 24 jam dengan terus -menerus tersambung ke seluruh dunia. Masyarakat yang ada di mana pun dapat mengakses informasi dan berkomunikasi kapan pun mereka mau.

Entah itu masyarakat pegununungan, masyarakat pesisir, masyarakat pedalaman, sebahagian besar mendapatkan ketersambungan informasi dan komunikasi dengan seluruh dunia. Dalam kondisi demikian tidak mengherankan akan muncul berbagai kecenderungan baru di dalam masyarakat. Dari yang tadinya serba kaku perlahan menjadi dinamis. Kehadiran fenomena-fenomena baru terlihat wajar, di mana masyarakat tidak lagi mengalami kekagetan berlebih. Masyarakat menjadi “lebih dewasa” dalam melihat berbagai gejala sosial.

Pada kerangka itulah penulis mau menyampaikan bahwa kepemimpinan perempuan mengalami keberterimaan perlahan-lahan. Walaupun memang gejala kepemimpinan perempuan sudah ada dalam lokus-lokus sejarah masa silam, namun tidak terasa itu mengalami kekaburan atau pun sengaja dikaburkan oleh berbagai dialektika termasuk oleh adanya kekuatan kolonialisme dan dominasi laki-laki.

Perlahan dan lembut saja, masyarakat Indonesia dihadirkan keberadaan Gubernur Jawa Timur seperti Ibu Khafifah Indar Parawansa. Lebih dekat lagi masyarakat NTB kehadiran Bupati perempuan 2 periode diujung timur dengan naiknya Ibu Indah Damayanti Putri.

Semua itu hadir begitu saja. Tidak terlihat adanya kekagetan sosial. Mengalir perlahan dan lembut saja. Masyarakat pun fokus dengan perjuangannya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seperti tidak ada yang berubah padahal jikalau ditelusuri seperti ilustrasi di atas masyarakat memerlukan waktu yang tidak singkat untuk bisa bersikap lentur, dinamis dan dewasa.

Tiada lain itu semua karena baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapatkan informasi dan komunikasi 24 jam tersambung dengan dunia. Kehadiran internet memberikan perlakuan yang sama antara laki dan perempuan untuk belajar dan sekaligus terkoneksi ke seluruh penjuru, sehingga baik laki maupun perempuan dapat belajar, berlatih dan membiasakan diri dalam banyak hal yang sama termasuk di dalam kepemimpinan. Dari sini pula muncul adanya semangat kesetaraan (egalitarian) antara laki-laki dengan perempuan.

Itulah kehebatan jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Ia bisa menjamah tempat-tempat yang paling privasi sekalipun. Masyarakat sambil rebahan dapat berselancar keseluruh dunia. Tersambung dengan aneka warna kehidupan yang perlahan, tetapi pasti akan memberikan pengaruh baru bagi masyarkat untuk bertransformasi.

Ririn Di NTB

Umur NTB sudah cukup tua. Semenjak lahir sebagai daerah berpemerintahan sebagai kepanjangan Jakarta, ia telah melahirkan banyak pemimpin. Semuanya laki-laki.

Dalam waktu sedemikian panjang maka kiranya wajarlah muncul pula kepemimpinan Perempuan. Jikalau hendak memakai neraca keadilan maka sudah pastilah tidak adil jikalau laki-laki saja yang berhak. Apalagi pra syarat dan syarat-syarat kepemimpinan perempuan itu sudah terpenuhi.

Sudah saatnya perempuan dikasi kesempatan dari depan. Bagaimana pun laki-laki sudah memberikannya pelajaran panjang sejak pemerintahan Gubernur NTB pertama.

Dan semesta raya juga dengan sendirinya memberikan jalan untuk Ummi Rohmi muncul ke permukaan. Sinyal-sinyal ini merupakan pertanda baik untuk kemudian ditindak lanjuti agar terwujudlah kepemimpinan Ummi Rohmi yang berpasangan dengan Pak Musyafin.

Bagaimana pun Ummi Rohmi sudah dikenal sebagai pemimpin berawal jauh sebelum ia menjadi wakil gubernur 2018-2023. Hidup di dalam organisasi masyarakat, lengkap dengan dinamika naik turunnya. Lalu menjadi salah satu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Lombok Timur. Dipastikan beliau sudah khatam pembelajaran kepemimpinan dan pemerintahan.

Sedangkan Pak Musyafirin adalah Bupati sukses karena mampu memimpin Sumbawa Barat dalam dua periode. Sebelumnya ia adalah seorang birokrat mumpuni karena sampai pula menduduki kursi Sekretaris daerah (Sekda) Sumbawa Barat. Ia juga Ketua NU dan Muballigh. Dengan demikian pengalaman sebagai Sekda dan sebagai Bupati 2 periode serta sebagai tokoh agama sudah cukup baginya untuk melangkah lebih jauh di area yang lebih luas yaitu di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ummi Rohmi-Musyafirin (Ririn) yang saat ini balihonya tersebar di seluruh NTB. Pasangan Ririn dipastikan sebagai pasangan yang paling mapan setelah Ummi Rohmi diperebutkan oleh banyak bakal calon. Memang pada akhirnya Ummi Rohmi harus memilih karena hidup adalah pilihan juga. Hidup Ririn untuk NTB 2024-2029.

(Pemerhati Sosial -Politik, Staf Pengajar pada Jurusan Sosiologi Agama UIN Mataram. Ketua Komunitas Batur NTB)(Ramli/Mji).