Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Rumah Budaya Kembang Rampe Samira berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesia Raya menyelenggarakan Pekan Pemajuan Kebudayaan Lombok Utara selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (24–26/7/2026), di Alun-Alun Tioq Tata Tunaq, Kabupaten Lombok Utara. Kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi bagi para pelaku seni budaya sekaligus upaya memperkuat pelestarian warisan budaya daerah.
Ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Samira, Sandi Justita, M.A., mengatakan penyelenggaraan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara komunitas budaya dengan Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesia Raya. Ia mengungkapkan, proposal yang diajukan komunitasnya berhasil lolos dari ribuan proposal yang masuk ke kementerian sehingga Lombok Utara memperoleh kesempatan menggelar agenda kebudayaan tersebut.
“Alhamdulillah kami dipercaya mewakili Lombok Utara. Selama tiga hari ini kita bisa berkumpul bersama dalam sebuah ruang untuk merayakan sekaligus memajukan kebudayaan daerah,” ujarnya saat pembukaan kegiatan.
Sandi menjelaskan, antusiasme komunitas seni untuk terlibat sangat tinggi. Bahkan, sejumlah kelompok seni yang ingin tampil belum dapat diakomodasi karena keterbatasan jadwal pertunjukan.
“Banyak komunitas yang ingin ikut berpartisipasi, namun karena susunan acara sudah penuh, sebagian belum bisa kami libatkan. Insyaallah pada penyelenggaraan tahun berikutnya akan kami hadirkan,” katanya.
Menurut dia, Pekan Pemajuan Kebudayaan menjadi bentuk penghargaan kepada komunitas seni dan budaya yang selama ini konsisten menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan lokal. Kegiatan tersebut juga dipersembahkan sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Kabupaten Lombok Utara.
Pada kesempatan itu, Sandi turut menyampaikan bahwa mulai tahun ini Pemerintah Kabupaten Lombok Utara mencanangkan Bulan Kebudayaan Lombok Utara yang dipusatkan setiap bulan Juli. Gagasan tersebut diinisiasi Bidang Kebudayaan sebagai upaya menjadikan Juli sebagai momentum pelaksanaan berbagai agenda budaya secara terpadu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora), serta Kementerian Kebudayaan yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Subbagian Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Nusa Tenggara Barat, Made Agus Adi Prabawa, menilai Dana Indonesia Raya merupakan bentuk dukungan pemerintah dalam memperkuat ekosistem kebudayaan di daerah.
Menurutnya, pemajuan kebudayaan tidak boleh hanya dipahami dari hasil akhir berupa pertunjukan seni, tetapi juga harus dilihat sebagai proses yang menjaga keberlangsungan ekosistem budaya.
“Ketika pertunjukan seperti Gendang Beleq terus dipentaskan, maka para perajin alat musik, para seniman, hingga pengetahuan yang menyertainya akan tetap hidup. Itulah yang menjadi esensi pemajuan kebudayaan,” katanya.
Ia mencontohkan pelestarian rumah adat di Bayan yang secara berkala diperbarui sebagai bukti bahwa kebudayaan tidak hanya berupa benda, melainkan juga pengetahuan dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Made juga menginformasikan bahwa sejak 13 Maret 2026 Kementerian Kebudayaan telah membentuk Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Barat yang berkantor di Kota Mataram. Kehadiran balai tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi komunitas budaya untuk berdiskusi dan mengembangkan program pelestarian kebudayaan di NTB.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara, Sahabudin, S.Sos., M.SI., mengapresiasi penyelenggaraan Pekan Pemajuan Kebudayaan karena dinilai mampu memperkenalkan sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, berbagai penampilan seni, seperti Gendang Beleq dan pertunjukan budaya lainnya, menjadi media penting untuk mengingatkan masyarakat terhadap identitas budaya yang telah tumbuh sejak lama di Lombok Utara.
“Kegiatan seperti ini menjadi sarana agar anak-anak dan generasi muda semakin mengenal budaya yang hidup di Kabupaten Lombok Utara. Budaya merupakan salah satu pondasi kehidupan masyarakat yang harus terus kita lestarikan di tengah perkembangan zaman dan teknologi yang begitu cepat,” ujarnya.
Sahabudin menambahkan, Lombok Utara memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari nilai-nilai adat, seni pertunjukan, hingga berbagai peninggalan budaya yang tersebar di Kecamatan Bayan, Kayangan, Gangga, Tanjung, dan Pemenang.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan memajukan kebudayaan daerah sebagai bagian dari identitas sekaligus modal pembangunan sosial, ekonomi, dan kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Lombok Utara.
Pekan Pemajuan Kebudayaan Lombok Utara dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan beragam pertunjukan seni tradisional, pameran, serta keterlibatan berbagai komunitas budaya sebagai wujud kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.(D)

Tinggalkan Balasan