Gerung, Mediajurnalindonesia.id- Nama MAN Lombok Barat kembali berkibar di panggung olahraga nasional. Kali ini, prestasi datang dari arena pencak silat melalui aksi gemilang Haniy, siswi madrasah tersebut yang sukses merebut Juara II Kelas D Remaja Putri pada Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Cemara Sakti Championship 2026.

Kejuaraan yang memperebutkan Piala Rektor Universitas Mataram itu berlangsung di Auditorium M. Yusuf Abu Bakar Universitas Mataram pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026. Kompetisi tersebut diikuti ratusan pesilat dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi salah satu ajang penting bagi atlet muda untuk menguji kemampuan di level nasional.

Bagi Haniy, podium kedua bukan sekadar medali. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa latihan panjang, disiplin, keberanian bertanding, dan mental pantang menyerah mampu mengantarkan seorang pelajar tampil sejajar dengan pesilat-pesilat terbaik dari berbagai daerah.

Turun di Kelas D Remaja Putri, Haniy harus melewati persaingan ketat sejak babak awal. Setiap pertandingan menuntut konsentrasi, stamina, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menjalankan strategi di tengah tekanan pertandingan.

Namun, Haniy mampu menjaga fokus hingga pertandingan terakhir. Performa konsisten yang ditunjukkannya akhirnya mengantarkan siswi MAN Lombok Barat tersebut berdiri di podium kedua dan membawa pulang medali perak tingkat nasional.

Prestasi itu sekaligus menambah panjang daftar torehan prestasi MAN Lombok Barat sepanjang 2026. Madrasah yang mengusung semangat “Madrasah Maju, Bermutu, dan Mendunia” tersebut terus menunjukkan bahwa prestasi siswa tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari arena olahraga, seni, organisasi, hingga berbagai bidang pengembangan bakat lainnya.

Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur dan bangga.

Menurutnya, keberhasilan Haniy merupakan gambaran bahwa proses pendidikan yang dibangun madrasah tidak semata-mata mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, mental juara, serta kemampuan siswa untuk berkembang sesuai potensinya.

“Alhamdulillah, kami bersyukur atas prestasi yang diraih ananda Haniy pada Kejuaraan Nasional Cemara Sakti Championship 2026. Raihan juara ini menunjukkan bahwa siswa MAN Lombok Barat mampu bersaing di tingkat nasional apabila diberikan ruang untuk berkembang dan dibina secara konsisten,” ujar Kemas Burhan, Rabu (5/8/2026).

Ia menegaskan, setiap prestasi siswa merupakan kebanggaan bersama sekaligus menjadi cermin dari proses pendidikan yang berlangsung di madrasah.

“Pendidikan tidak hanya mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang tangguh, berkarakter, bermental juara, serta memiliki sportivitas tinggi,” tegasnya.

Kemas Burhan mengatakan pihaknya akan terus memberikan ruang dan dukungan kepada siswa yang memiliki potensi di berbagai bidang.

Menurutnya, setiap peserta didik memiliki keunggulan masing-masing. Karena itu, madrasah harus mampu menemukan, mengembangkan, dan memberikan panggung bagi potensi tersebut.

“Kami ingin setiap anak menemukan panggungnya masing-masing. Ada yang berprestasi di akademik, seni, olahraga, riset, maupun organisasi. Tugas madrasah adalah membuka jalan, memfasilitasi, dan memberikan motivasi agar mereka berani bermimpi besar,” katanya.

Ia berharap keberhasilan Haniy tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian individu, tetapi menjadi pemantik lahirnya atlet-atlet muda lainnya dari MAN Lombok Barat.

“Kami tidak ingin berhenti pada satu prestasi. Kami ingin budaya berprestasi menjadi karakter seluruh warga madrasah. Setiap kemenangan harus menjadi motivasi untuk terus belajar, terus berlatih, dan terus memperbaiki diri,” ujarnya.

Lahir dari Latihan Panjang

Di balik medali perak yang diraih Haniy, terdapat proses latihan yang tidak singkat. Pembina Pencak Silat MAN Lombok Barat, M. Haezan, S.Sos., menyebut keberhasilan tersebut merupakan buah dari kedisiplinan dan kesungguhan Haniy menjalani program latihan.

Menurutnya, Haniy merupakan atlet yang memiliki kemauan belajar tinggi dan konsisten menjalani latihan.

“Prestasi ini bukan sesuatu yang instan. Haniy telah menjalani latihan secara rutin, menjaga disiplin, serta memiliki semangat yang luar biasa untuk terus berkembang. Dalam setiap sesi latihan, ia selalu menunjukkan kesungguhan dan kemauan belajar yang tinggi,” ungkap Haezan.

Ia mengakui persaingan dalam kejuaraan nasional tersebut berlangsung sangat ketat. Para peserta datang dari berbagai daerah dengan membawa pengalaman dan kualitas masing-masing.

Namun, Haniy dinilai mampu menjaga mental bertanding dan tetap fokus terhadap strategi yang telah dipersiapkan.

“Lawan-lawan yang dihadapi merupakan atlet-atlet terbaik dari berbagai provinsi. Namun Haniy mampu menjaga mental bertanding, fokus menjalankan strategi, dan tetap menunjukkan sportivitas sepanjang pertandingan. Kami tentu bangga dengan hasil ini,” katanya.

Haezan juga mengapresiasi dukungan Kepala Madrasah, para guru, orang tua, serta seluruh keluarga besar MAN Lombok Barat yang selama ini ikut memberikan ruang bagi pengembangan prestasi siswa.

“Prestasi ini adalah hasil kerja bersama. Dukungan Kepala Madrasah, guru, orang tua, dan seluruh keluarga besar MAN Lombok Barat menjadi energi besar bagi kami. Mudah-mudahan menjadi awal lahirnya atlet-atlet nasional lainnya dari MAN Lombok Barat,” ujarnya.

Dari Arena Latihan Menuju Podium Nasional

Cemara Sakti Championship 2026 sendiri merupakan kejuaraan pencak silat tingkat nasional yang diselenggarakan UKM Perisai Diri Universitas Mataram dengan dukungan Universitas Mataram dan sejumlah mitra.

Kejuaraan tersebut dirancang sebagai ruang pembinaan dan kompetisi bagi pesilat muda sekaligus menjadi sarana meningkatkan kualitas prestasi pencak silat nasional. Ajang ini juga mempertemukan atlet dari berbagai perguruan dan institusi dalam semangat sportivitas serta persaudaraan.

Panitia menargetkan sekitar 500 atlet dari berbagai daerah mengikuti kejuaraan tersebut dengan mempertandingkan sejumlah kategori, mulai dari pra remaja, remaja, hingga dewasa.

Di tengah besarnya persaingan itu, Haniy mampu membawa nama MAN Lombok Barat ke podium nasional.

Medali perak yang diraihnya menjadi pencapaian penting sekaligus modal untuk melangkah lebih jauh. Bagi Haniy, perjalanan belum selesai. Podium kedua justru menjadi pemacu untuk terus memperbaiki teknik, meningkatkan fisik, memperkuat mental, dan mengejar prestasi yang lebih tinggi pada kompetisi berikutnya.

Bagi MAN Lombok Barat, capaian tersebut juga menjadi pesan bahwa madrasah bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik.

Di balik setiap medali yang diraih para siswanya, terdapat proses panjang yang dibangun dari disiplin, latihan, ketekunan, dukungan keluarga, serta keberanian untuk bermimpi lebih besar.

Haniy telah membuktikannya.

Dari ruang kelas menuju arena pertandingan, dari latihan berulang menuju pertarungan sengit, hingga akhirnya berdiri di podium nasional dengan membawa nama madrasah.

Medali perak itu bukan akhir perjalanan. Ia adalah penanda bahwa dari sebuah madrasah di Lombok Barat, mimpi untuk bersaing di panggung nasional bukan lagi sekadar harapan.(Red*)