Sumbawa Barat,Mediajurnalindonesia.id – Produk olahan perikanan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat, belum mampu masuk ke pasar industri PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) karena terkendala persyaratan sertifikasi mutu.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat Agus Purnawan, S.Pi,.MM.INOV mengatakan pemenuhan sertifikasi menjadi salah satu tantangan utama dalam mendorong hilirisasi hasil perikanan melalui Program KSB Maju Perikanan.
“Memang sejauh ini hasil perikanan masih sulit masuk ke pasar Amman karena persoalan sertifikasi ini. Ini menjadi tugas yang cukup berat, tetapi kami akan terus berusaha agar produk perikanan KSB bisa memenuhi persyaratan tersebut,” kata Agus, Selasa (4/8).
Menurut dia, sejumlah produk olahan hasil perikanan dari pelaku usaha lokal sebenarnya telah dikembangkan. Namun, produk tersebut belum dapat memasuki pasar perusahaan besar karena harus memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, termasuk memiliki Certificate of Analysis (CoA).
Agus mengatakan kendala lain adalah belum tersedianya laboratorium pengujian mutu produk perikanan di NTB.
Pelaku usaha, kata dia, harus mengirimkan sampel produk ke luar daerah, antara lain Bali dan Surabaya, untuk menjalani pengujian.
“Masalahnya karena laboratorium tempat menguji mutu tidak ada di NTB. Yang terdekat itu di Bali dan ada juga di Surabaya. Biayanya juga tidak sedikit,” ujarnya.
Kondisi itu menyebabkan proses sertifikasi membutuhkan waktu dan biaya lebih besar, terutama bagi pelaku usaha perikanan skala kecil dan menengah.
Padahal, pemerintah daerah melalui Program KSB Maju Perikanan menargetkan hilirisasi hasil perikanan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, baik dari sektor perikanan laut maupun budidaya air tawar.
Dalam jangka panjang, produk hasil hilirisasi tersebut diharapkan dapat masuk dalam rantai pasok kebutuhan industri, termasuk AMMAN sebagai salah satu pasar potensial di KSB.
Sembari mendorong pemenuhan standar industri, Dinas Perikanan KSB saat ini mengoptimalkan pemasaran produk perikanan di pasar lokal.
Agus menyebut peluang pasar lokal masih terbuka karena kebutuhan ikan di KSB belum sepenuhnya dipenuhi produksi daerah.
“Untuk saat ini produk masih dipasarkan di pasar lokal karena kita juga masih kekurangan pasokan ikan. Kebanyakan kebutuhan ikan di KSB masih datang dari luar daerah,” katanya.
Ia berharap ketersediaan fasilitas pengujian mutu di NTB dapat segera diperkuat sehingga pelaku usaha tidak perlu mengirimkan sampel ke luar daerah.
Menurut Agus, keberadaan laboratorium pengujian di daerah akan membantu menekan biaya dan mempercepat proses sertifikasi, sekaligus membuka peluang produk perikanan KSB memasuki pasar industri.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat tetap mendorong penguatan sektor perikanan dari hulu hingga hilir melalui peningkatan produksi, pengolahan, standardisasi, dan perluasan akses pasar.(*)

Tinggalkan Balasan