Sumbawa Barat.Mediajurnalindonesia.id – Pelatihan reduksi sampah organik menggunakan teknik Tasorta diselenggarakan di Halaman Kantor Kelurahan Bugis, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Selasa (25/11/25)
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta, dengan mayoritas adalah ibu rumah tangga yang selama ini berperan langsung dalam pengelolaan sampah di rumah masing-masing.Pelatihan menghadirkan tiga narasumber utama. yaitu Kepala Dinas Lingkungan Hidup KSB, Aku Nur Rahmadin, S.Pd., M.M.Inov., dengan memberikan gambaran umum kebijakan pengelolaan sampah di Kabupaten Sumbawa Barat.
Materi dilanjutkan oleh Herman Usman, S,P. dari Komunitas Hijau Biru yang menjelaskan prinsip-prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai konsep dasar reduksi sampah.
Sementara itu, Ir. H.Bambang Supriadi, juga dari Komunitas Hijau Biru, memaparkan implementasi teknik Tasorta beserta manfaat dan keunggulannya dalam pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga.

Kegiatan ini didukung Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan
“Sebagai Penanggung Jawab Kegiatan (PIC), Ir. Bambang Supriadi menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari Aksi Bersih Lingkungan FOLU Net Sink 2030, yaitu target Indonesia untuk menjadikan sektor kehutanan dan lahan sebagai penyerap karbon lebih besar dibandingkan emisinya di tahun 2030. Kegiatan ini memperoleh dukungan melalui Layanan Dana Masyarakat BPDLH untuk Lingkungan yang dikelola Kementerian Kehutanan. ‘Layanan dana ini diberikan kepada masyarakat, baik perorangan maupun berkelompok, yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan program kehutanan dan lingkungan. Komunitas Hijau Biru, sebagai NGO yang fokus menangani isu-isu lingkungan, memanfaatkan dukungan tersebut untuk mengajak masyarakat meningkatkan kualitas lingkungan melalui reduksi sampah, khususnya sampah organik di tingkat rumah tangga,” jelasnya.

Lebih lanjut, H.Bambang memaparkan bahwa pelatihan pengolahan sampah organik dengan teknik Tasorta bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Secara umum, pelatihan ini mendorong pengurangan ketergantungan pada sistem kumpul–angkut–buang, sekaligus mendukung target Indonesia Bersih Sampah 2029 serta upaya mitigasi perubahan iklim.
Secara khusus, pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memberikan keterampilan praktis penerapan TASORTA, membiasakan pemilahan sejak dari sumber, mengurangi praktik pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan, serta menghasilkan kompos yang bermanfaat. Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), sekaligus mentransformasi pola pikir masyarakat bahwa sampah organik bukan beban, melainkan sumber daya yang dapat memberi manfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi keluarga.
Lurah Bugis dan Kadis LH KSB Beri Apresiasi
Lurah Bugis, Surya Darmayadi, S.E., M.M.Inov., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama karena Kelurahan Bugis membutuhkan inovasi baru dalam pengelolaan lingkungan. “Sebagai lurah, saya merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini sebab inilah momentum membangun kesadaran kita bersama. Pelatihan ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah di Kelurahan Bugis,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup KSB turut mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi positif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam upaya mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA. Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Kelurahan Bugis dan Komunitas Hijau Biru yang telah menggagas sehingga terlaksananya kegiatan pelatihan ini.
Antusias Peserta Tinggi
Peserta pelatihan mengikuti kegiatan dengan antusias. Ir. Bambang Supriadi memberikan demonstrasi langsung penggunaan Tasorta, mulai dari pembuatan lubang, pemasangan tabung Tasorta, pengisian sampah organik, hingga proses pengomposan sampai menghasilkan kompos siap pakai. Kompos hasil Tasorta juga diperlihatkan agar peserta memahami hasil akhir yang dapat digunakan untuk tanaman. Berbagai manfaat dan keungggulan teknik Tasorta dipaparkannya. Manfaat utama kita bisa menyimpan sampah yang berkontribusi besar dalam reduksi sampah organik menuju TPA Batu Putih.
Sebelumnya Herman Usman memaparkan prinsip 3R dalam pengelolaan sampah mutlak diterapkan guna meningkatkan kualitas lingkungan. Peserta pun sepakat dan berkomitmen untuk segera ditindaklanjuti. Menariknya, sesi diskusi berjalan sangat dinamis dengan banyak pertanyaan dan komentar dari peserta. Salah satunya disampaikan oleh Ibu Ida dari Lingkungan Bugis A. Beliau mengungkapkan, “Kami sudah melakukan pemilahan sampah menggunakan wadah terpilah untuk sampah organik dan anorganik. Namun ketika petugas sampah melakukan pengangkutan, sampah tersebut kembali dicampur menjadi satu. Karena itu, kami akhirnya berhenti melakukan pemilahan.”

Menyikapi berbagai persoalan tersebut, para peserta yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga sepakat untuk membentuk kelompok pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing sebagai langkah awal memperbaiki sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Selain materi dan praktik, panitia juga membagikan tabung Tasorta kepada seluruh peserta untuk dipasang di rumah masing-masing. Bahkan beberapa rumah bahkan langsung melakukan pemasangan Tasorta pada sore harinya. Dengan menerapkan teknik Tasorta, rumah tangga dinilai dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi sampah organik menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta mendukung upaya pelestarian lingkungan di tingkat lokal.
Pelatihan ini juga dirancang dengan konsep “minim sampah”, di mana seluruh konsumsi yang disediakan didominasi oleh bahan organik. Sampah organik yang dihasilkan selama kegiatan langsung dimasukkan ke dalam sistem TASORTA, sehingga pada saat pelatihan berakhir, sampahnya pun telah selesai dikelola. Tidak ada sampah yang berserakan atau tersisa.(Rozak)

Tinggalkan Balasan