MATARAM, Mediajurnalindonesia.id – Penguatan wawasan kebangsaan dan pembauran masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga persatuan serta mencegah potensi konflik sosial di tengah keberagaman. Hal tersebut menjadi materi utama yang disampaikan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Kesbangpoldagri) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada anggota Senkom Mitra Polri Provinsi NTB dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Wawasan Kebangsaan di Hotel Grand Madani, Kota Mataram, Sabtu (31/10/2026).

Materi disampaikan oleh I Made Adi Kertawijaya, S.IP., selaku Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Ekososbud Agama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Provinsi NTB.

Dalam pemaparannya, I Made Adi menegaskan bahwa wawasan kebangsaan bukan sekadar pemahaman teoritis atau hafalan mengenai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Lebih dari itu, wawasan kebangsaan harus tercermin dalam sikap dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, wawasan kebangsaan merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan, kesatuan, kepentingan nasional, serta keutuhan NKRI.

Implementasinya dapat diwujudkan melalui sikap menerima Pancasila sebagai dasar negara, menjunjung tinggi NKRI, menghormati perbedaan, menaati hukum, menolak kekerasan, serta membangun hubungan sosial yang damai dan harmonis.

Salah satu pokok penting yang ditekankan adalah Pancasila sebagai pedoman hidup sekaligus titik temu seluruh anak bangsa di tengah keberagaman suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan golongan.

Pembauran Kebangsaan sebagai Perekat Persatuan

Selain wawasan kebangsaan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pembauran kebangsaan sebagai proses membangun interaksi, hubungan sosial, kerja sama, dan rasa kebersamaan di antara kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Menurut materi yang disampaikan, pembauran bukan berarti menghilangkan budaya lokal ataupun memaksa seseorang meninggalkan identitasnya. Sebaliknya, pembauran justru mendorong masyarakat untuk saling mengenal, memahami, menghormati, dan bekerja sama tanpa kehilangan jati diri masing-masing.

Pembauran kebangsaan dinilai penting untuk mencegah berkembangnya sikap eksklusif, fanatisme kelompok yang berlebihan, prasangka, diskriminasi, hingga potensi konflik sosial.

Selain itu, pembauran juga menjadi sarana membangun kepercayaan antarkelompok, memperkuat solidaritas, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Dalam praktiknya, pembauran dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial seperti gotong royong dan penanggulangan bencana, pengenalan seni dan tradisi antarkelompok, musyawarah yang memberikan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat, serta kegiatan inklusif yang melibatkan perempuan dan penyandang disabilitas.

Waspadai Polarisasi dan Ancaman di Ruang Digital

Made Adi juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa tantangan tersendiri bagi persatuan bangsa. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, polarisasi akibat perbedaan pilihan politik, fanatisme kelompok, serta stereotip terhadap suku, agama, dan budaya dapat memicu keretakan hubungan sosial.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital, membiasakan verifikasi informasi sebelum membagikannya, membangun komunikasi yang sehat, serta mengutamakan dialog dalam menyelesaikan perbedaan.

Kesadaran tersebut penting agar ruang digital tidak menjadi sarana penyebaran kebencian dan permusuhan, melainkan menjadi ruang komunikasi yang produktif dalam memperkuat persatuan.

Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Materi berikutnya menyoroti pentingnya pembinaan karakter dan jati diri bangsa. Karakter bangsa tercermin melalui nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, toleransi, gotong royong, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Sementara itu, jati diri bangsa Indonesia tumbuh dari nilai-nilai Pancasila, sejarah perjuangan, bahasa Indonesia, kebudayaan, dan semangat persatuan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Terdapat sejumlah nilai utama yang perlu terus diperkuat, yakni religius dan toleran, adil dan menghargai martabat manusia, gotong royong dan solidaritas, integritas dan tanggung jawab, serta cinta tanah air.

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman dalam kegiatan pendidikan, tetapi menjadi pedoman nyata dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, dan berbangsa.

Melalui pembekalan ini, anggota Senkom Mitra Polri Provinsi NTB diharapkan semakin memahami bahwa menjaga persatuan merupakan tanggung jawab bersama. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati, toleransi, dan kerja sama.

Dengan wawasan kebangsaan yang kuat, karakter yang berintegritas, serta semangat pembauran yang inklusif, Senkom diharapkan mampu mengambil bagian dalam memperkuat ketahanan sosial dan menjaga kerukunan masyarakat demi terwujudnya NTB yang aman, damai, dan kondusif.(*)