Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Kawasan Malimbu–Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, memiliki potensi bentang alam yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis geologi atau geowisata. Keunikan lanskap perbukitan, batuan, dan pesisir di kawasan tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan alam Lombok Utara melalui pendekatan wisata edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Karang Taruna Pesisir Malaka, Abed Aljabiri Adnan, mendorong agar potensi geologi dan bentang alam Desa Malaka ditelusuri secara lebih serius, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan destinasi wisata baru yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya generasi muda.
Menurut Abed, Desa Malaka tidak hanya memiliki daya tarik wisata pantai dan panorama laut, tetapi juga bentang alam berbatu yang menarik untuk dipelajari dari perspektif sejarah geologi.
“Malaka menyimpan potensi alam yang perlu kita kenali lebih dalam. Kita memiliki lanskap perbukitan dan batuan yang menarik, dan ini harus menjadi perhatian bersama. Jika dikaji secara ilmiah dan dikembangkan secara tepat, kawasan ini berpeluang menjadi destinasi geowisata yang memiliki nilai edukasi sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Abed.
Data Geologi Menunjukkan Lombok Utara Memiliki Formasi Batuan Vulkanik
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Lombok Utara 2023–2027, wilayah Lombok Utara tersusun atas sejumlah formasi batuan dengan rentang umur geologi yang berbeda. Beberapa di antaranya merupakan batuan yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik pada masa lampau.
Dokumen tersebut menjelaskan bahwa Formasi Kalibabak tersusun atas breksi dan lava, dengan perkiraan umur sekitar 1–2 juta tahun berdasarkan pembagian umur yang digunakan dalam dokumen regional tersebut. Sementara itu, Formasi Lekopiko terdiri atas tuf berbatu apung, breksi lahar, dan lava, serta termasuk satuan batuan vulkanik yang tersebar di bagian utara Lombok.
Data tersebut menunjukkan bahwa sejarah geologi Lombok Utara memiliki kaitan erat dengan proses vulkanik yang berlangsung pada masa lampau.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pertambangan dan Lingkungan pada 2023 berjudul Penentuan Lapisan Batuan Bawah Permukaan di Desa Malaka Kabupaten Lombok Utara Menggunakan Metode Geolistrik dilakukan oleh Vista Ayu Lestari, Hiden, dan Suhayat Minardi dari Universitas Mataram.
Penelitian tersebut menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner–Schlumberger untuk mempelajari kondisi bawah permukaan Desa Malaka. Hasilnya menunjukkan adanya lapisan batu pasir, aluvium, material yang mengandung air asin, dan lempung. Penelitian itu juga mengidentifikasi indikasi struktur rekahan dan sesar pada sejumlah lokasi, termasuk Malimbu dan Pandanan.
Meskipun penelitian tersebut relevan untuk memahami kondisi geologi setempat, kajiannya berfokus pada lapisan bawah permukaan dan bukan penetapan keberadaan gunung api purba. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan yang secara khusus mengidentifikasi singkapan batuan dan sejarah vulkanik kawasan Malimbu–Pandanan masih diperlukan.
Abed Aljabiri Adnan menilai bahwa pengembangan geowisata dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas kegiatan ekonomi masyarakat Desa Malaka. Konsep tersebut dapat menggabungkan penjelajahan alam, edukasi geologi, fotografi lanskap, pemanduan wisata, serta pengenalan budaya dan kehidupan masyarakat pesisir.
“Jangan sampai potensi alam yang kita miliki hanya menjadi pemandangan yang dinikmati pengunjung tanpa memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi masyarakat sekitar. Kita ingin pemuda Malaka terlibat langsung, mulai dari menjadi pemandu wisata, mengembangkan jasa fotografi dan videografi, mempromosikan destinasi, hingga membangun usaha lokal,” tegas Abed.
Menurutnya, pengembangan destinasi baru perlu disertai perencanaan yang matang, mulai dari pendataan potensi, penelitian ilmiah, penyediaan informasi bagi pengunjung, hingga penataan kawasan dan pengelolaan sampah.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, pelaku pariwisata, masyarakat, dan organisasi kepemudaan agar pengembangan wisata tidak berjalan sendiri-sendiri.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa potensi wisata harus dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik dan risiko alam setempat. Pemetaan jalur kunjungan, pemeriksaan kestabilan lereng, penentuan titik aman, serta penyediaan informasi keselamatan perlu menjadi bagian dari perencanaan sebelum kegiatan wisata diperluas.
Bagi Karang Taruna Pesisir Malaka, perlindungan bentang alam harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keunikan alam tidak hanya menjadi aset ekonomi, tetapi juga warisan yang perlu dijaga untuk generasi mendatang.
Abed berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memfasilitasi kajian awal mengenai potensi geologi Malimbu–Pandanan, termasuk pelibatan ahli geologi, perguruan tinggi, dan instansi yang memiliki kompetensi dalam pemetaan geologi.
“Gagasan kami sederhana: mari kita kenali potensi Malaka berdasarkan data, kita kembangkan dengan perencanaan yang baik, dan kita pastikan masyarakat menjadi bagian utama dari manfaatnya. Jika hasil penelitian menunjukkan adanya keunikan geologi yang layak diangkat, maka itu bisa menjadi identitas baru yang membanggakan bagi Desa Malaka dan Lombok Utara,” tutup Abed.(Red)

Tinggalkan Balasan