SumbawaBarat.Mediajurnalindonesia.id- Memahami batas antara bercanda dan perundungan, berani menolak kekerasan, hingga mengetahui tempat mengadu ketika menghadapi persoalan di sekolah menjadi bagian penting dari edukasi yang diterima siswa SMKN 1 Taliwang dalam dialog bersama Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj. Indah Dhamayanti Putri, dalam kegiatan Sosialisasi Kekerasan Fisik dan Seksual serta Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), pada Rabu (21/10).
Dalam dialog tersebut, seorang siswi menjelaskan bahwa perundungan tidak bisa disamakan dengan candaan ketika sudah mengarah pada penghinaan terhadap kondisi fisik seseorang. Menurutnya, bercanda seharusnya menjadi ruang untuk tertawa dan menikmati kebersamaan, bukan menjadikan orang lain sebagai sasaran hinaan.
“Bullying membawa hinaan tentang fisik, warna kulit, bentuk tubuh, tinggi badan. Tapi bercanda itu berbeda, bercanda itu tentang hal lain, tentang tertawa bersama, tentang kebahagiaan bersama,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Bintang Iqbal, siswa kelas XI Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP). Ketika ditanya mengapa perundungan dan kekerasan harus dihentikan, Bintang menjawab dari sudut pandangnya sebagai seorang kakak.
“Saya nggak terima kalau adik saya digituin (di-bully/mengalami kekerasan),” ujarnya, yang disambut tepuk tangan peserta dialog.
Percakapan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman pelajar mengenai pentingnya menghormati sesama dan mencegah kekerasan di lingkungan sekolah. Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, turut menggali langkah-langkah yang dapat dilakukan siswa apabila menemukan kasus perundungan atau kekerasan di sekolah.
Ia mengingatkan pengurus OSIS agar tidak hanya menjalankan edukasi dan kampanye pencegahan, tetapi juga memahami mekanisme penanganan kasus. Siswa perlu berkoordinasi dengan guru bimbingan dan konseling (BK), sementara kerahasiaan identitas pelapor harus dijaga agar korban maupun saksi merasa aman untuk melapor.
“Sebagai Ketua OSIS, selain beberapa program melalui mading dan sosialisasi, ketika kasus itu terjadi di sekolah maka langkah-langkah yang harus dilakukan salah satunya yaitu berkoordinasi dengan guru BP, kemudian menjamin kerahasiaan dari pelapor, sehingga tercipta rasa aman dan nyaman bagi dia,” ujar Indah Dhamayanti Putri.
Dalam dialog tersebut, Wakil Ketua OSIS SMKN 1 Taliwang, Sofia Indriani, menjelaskan bahwa upaya pencegahan perundungan, kekerasan seksual, dan pernikahan dini juga dilakukan melalui program edukasi yang melibatkan siswa.
“Kami di program OSIS itu ada program untuk melakukan edukasi tentang bullying, termasuk kekerasan seksual dan pernikahan dini. Karena di sekolah juga ada organisasi PIK-R, jadi bisa melakukan kerja sama dengan PIK-R untuk melakukan edukasi tersebut,” ujar Sofia saat berdialog dengan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj. Indah Dhamayanti Putri.
Selain melalui kerja sama dengan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), edukasi juga dilakukan melalui poster di majalah dinding sekolah. Upaya tersebut menjadi salah satu cara untuk menyampaikan informasi kepada teman sebaya mengenai pencegahan perundungan dan kekerasan.
Indah Dhamayanti Putri menegaskan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan serta perkawinan anak masih membutuhkan perhatian bersama. Ia mengingatkan bahwa kasus yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan persoalan, karena masih ada korban yang belum berani melapor.

Sementara itu, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hj. Hanipah Musyafirin, S.Pt., M.M.Inov., mengajak para pelajar menjauhi pergaulan yang merugikan, narkoba, minuman keras, perundungan, tawuran, dan segala bentuk kekerasan. Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengatakan tidak terhadap seks bebas, narkoba, dan pernikahan dini.
Hanipah turut mengingatkan peran guru dan orang tua dalam mendampingi anak melalui kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang baik. Dukungan lingkungan terdekat dinilai penting agar remaja memiliki bekal untuk menjaga diri dan menentukan arah masa depannya.
Dialog di SMKN 1 Taliwang tersebut menjadi ruang bagi pemerintah dan pelajar untuk membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari mengenali perundungan hingga memahami langkah yang perlu dilakukan ketika kekerasan terjadi. Melalui kegiatan ini, pelajar juga diajak berperan aktif dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wakil Gubernur NTB bersama Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi NTB di Kabupaten Sumbawa Barat.(*)

Tinggalkan Balasan