
Penulis: Seorang ASN KLU
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu lebih sering kita ajukan ketika berbicara tentang pembangunan Lombok Utara.
Lombok Utara ingin menjadi daerah seperti apa?
Pertanyaan ini penting karena pembangunan daerah tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak jalan yang dibangun, berapa besar pertumbuhan ekonomi yang dicapai atau berapa banyak investasi yang masuk.
Semua itu penting. Namun pada akhirnya pembangunan memiliki tujuan yang lebih sederhana dan lebih manusiawi, yaitu membuat masyarakat hidup lebih baik.
Masyarakat memiliki pekerjaan. Anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik. Keluarga memperoleh penghasilan yang layak. Lingkungan tetap terjaga. Hubungan sosial berlangsung dengan baik. Orang merasa aman. Masyarakat memiliki harapan terhadap masa depan dan merasa kehidupan yang dijalaninya memiliki makna.
Dari sudut pandang itu muncul sebuah gagasan sederhana.
Lombok Utara perlu menjadi daerah yang berkarakter lokal dan berkompetensi global.
Kebudayaan sebagai ruh pembangunan
Selama ini kebudayaan sering ditempatkan sebagai urusan kesenian, adat istiadat atau kegiatan seremonial.
Padahal makna kebudayaan jauh lebih luas.
Kebudayaan adalah cara sebuah masyarakat menjalani kehidupan. Di dalamnya terdapat nilai, kebiasaan, cara bekerja, cara memperlakukan sesama, cara menjaga lingkungan dan cara memandang masa depan.
Karena itu pembangunan yang kehilangan akar budaya berisiko menjadi pembangunan yang tidak memiliki identitas.
Lombok Utara memiliki kekayaan yang tidak semuanya dapat dihitung dengan rupiah. Ada adat, tradisi, kehidupan masyarakat, alam, laut, pertanian, kampung-kampung dengan karakter yang khas serta hubungan sosial yang telah terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Semua itu bukan sekadar warisan masa lalu.
Jika dikelola dengan baik kebudayaan dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan.
Budaya dapat membentuk karakter manusia. Budaya dapat memperkuat solidaritas sosial. Budaya dapat menjadi dasar bagi pengembangan pariwisata. Budaya dapat memperkaya ekonomi kreatif. Budaya dapat memberi identitas pada produk lokal. Bahkan budaya dapat menjadi pembeda ketika berbagai daerah mulai menawarkan produk dan destinasi yang semakin serupa.
Karena itu kebudayaan sebaiknya tidak hanya dilestarikan.
Kebudayaan perlu dihidupkan dalam pembangunan.
Manusia tetap menjadi pusat
Jika kebudayaan adalah ruh pembangunan maka manusia adalah pusatnya.
Pembangunan pendidikan bukan hanya soal meningkatkan angka lama sekolah. Pembangunan kesehatan bukan hanya soal jumlah fasilitas kesehatan. Penciptaan lapangan kerja bukan hanya soal menurunkan angka pengangguran.
Semua itu pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan manusia.
Masyarakat yang sehat memiliki kesempatan untuk bekerja. Masyarakat yang terdidik memiliki kemampuan untuk berkembang. Masyarakat yang memiliki pekerjaan dan penghasilan mempunyai ruang yang lebih besar untuk membangun keluarganya.
Karena itu kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, pendapatan dan berbagai indikator pembangunan lainnya perlu dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan.
Tujuannya bukan sekadar memperbaiki angka.
Tujuannya adalah memperbaiki kehidupan.
KLU memiliki tiga kekuatan ekonomi yang saling berhubungan
Jika berbicara mengenai kekuatan ekonomi Lombok Utara maka pariwisata, pertanian dan perikanan sulit dipisahkan dari karakter daerah.
Pariwisata memiliki alam sebagai kekuatan utama. Namun pariwisata tidak harus berhenti pada pemandangan.
Wisatawan dapat datang untuk mengenal budaya. Mereka dapat menikmati makanan lokal. Mereka dapat melihat kehidupan masyarakat. Mereka dapat mengenal pertanian dan kehidupan nelayan. Mereka dapat memperoleh pengalaman yang tidak ditemukan di tempat lain.
Dengan demikian pariwisata bukan hanya menjual tempat.
Pariwisata menjual pengalaman dan identitas.
Pertanian juga perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar menghasilkan komoditas.
Pertanyaan pentingnya adalah berapa banyak nilai tambah yang dapat diciptakan dari hasil pertanian tersebut.
Produk pertanian dapat diolah. Dapat dikemas. Dapat diberi merek. Dapat masuk ke pasar wisata. Dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan dapat menjadi produk unggulan daerah.
Hal yang sama berlaku untuk perikanan.
Nelayan tidak seharusnya hanya berhenti pada kegiatan menangkap ikan dan menjual hasil tangkapan dalam bentuk bahan mentah.
Ada kebutuhan untuk memperkuat pendaratan ikan, penyimpanan, rantai dingin, pengolahan, pengemasan, pemasaran dan berbagai bentuk produk bernilai tambah.
Dengan demikian manfaat ekonomi tidak berhenti pada saat ikan atau hasil pertanian keluar dari tangan produsen.
Nilai ekonominya perlu terus tumbuh di dalam daerah.
Hilirisasi adalah kunci nilai tambah
Di sinilah hilirisasi menjadi penting.
Daerah yang hanya menjual bahan mentah akan memperoleh nilai ekonomi yang lebih kecil dibanding daerah yang mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.
Pertanian dapat bertemu dengan kuliner dan pariwisata.
Perikanan dapat bertemu dengan industri pengolahan dan pariwisata.
Budaya dapat bertemu dengan ekonomi kreatif dan pariwisata.
Semakin banyak hubungan yang terbentuk antara sektor-sektor tersebut maka semakin besar kemungkinan terbentuknya ekonomi daerah yang saling menguatkan.
Kita tidak hanya berbicara tentang meningkatkan produksi.
Kita berbicara tentang meningkatkan nilai dari setiap potensi yang dimiliki daerah.
Tidak harus menjadi seperti daerah lain
Lombok Utara tidak harus menjadi daerah lain untuk disebut maju.
KLU tidak harus kehilangan karakter lokalnya untuk menjadi modern.
Justru sebaliknya. Karakter lokal dapat menjadi dasar untuk membangun sesuatu yang khas.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengolah kekhasan tersebut dengan pengetahuan, teknologi, tata kelola dan standar yang semakin baik.
Inilah makna dari gagasan:
Berkarakter Lokal, Berkompetensi Global.
Berkarakter lokal berarti tetap berpijak pada budaya, alam, nilai sosial dan identitas masyarakat sendiri.
Berkompetensi global berarti memiliki sumber daya manusia, produk, pelayanan, teknologi dan tata kelola yang mampu memenuhi tuntutan dunia yang terus berubah.
Dengan kata lain KLU tidak perlu memilih antara lokal dan global.
Yang lokal menjadi identitas. Yang global menjadi standar kompetensi.
Bagaimana mengukur keberhasilannya?
Pertumbuhan ekonomi tetap penting.
Kemiskinan tetap harus diturunkan.
Pengangguran perlu dikurangi.
Pendidikan dan kesehatan harus terus diperbaiki.
Produktivitas masyarakat harus meningkat.
Ketimpangan perlu dikendalikan.
Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan.
Apakah masyarakat merasa kehidupannya benar-benar menjadi lebih baik?
Pertanyaan inilah yang membuat gagasan tentang Indeks Kebahagiaan menarik untuk diperhatikan.
Kebahagiaan dalam konteks pembangunan bukan sekadar perasaan senang. Ia berkaitan dengan kepuasan terhadap kehidupan, hubungan sosial, rasa aman, lingkungan, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, keluarga serta makna hidup.
Dengan perspektif seperti ini pembangunan memiliki ukuran yang lebih manusiawi.
Pertumbuhan ekonomi menjadi penting karena memberi kemampuan ekonomi.
Pendidikan menjadi penting karena membuka kesempatan.
Kesehatan menjadi penting karena menentukan kualitas hidup.
Lingkungan menjadi penting karena menentukan keberlanjutan.
Budaya menjadi penting karena memberikan identitas dan rasa memiliki.
Dan seluruhnya pada akhirnya kembali kepada manusia.
Pembangunan yang memiliki arah
Mungkin sudah waktunya pembangunan Lombok Utara tidak hanya dilihat sebagai kumpulan program dari berbagai perangkat daerah.
Pembangunan perlu dilihat sebagai sebuah ekosistem.
Budaya membentuk karakter masyarakat.
Pendidikan dan kesehatan membentuk kualitas manusia.
Pertanian, perikanan dan pariwisata menggerakkan ekonomi.
Hilirisasi menciptakan nilai tambah.
Teknologi dan inovasi meningkatkan kompetensi.
Tata kelola yang baik memastikan seluruh proses berjalan dengan benar.
Kemudian hasil akhirnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi tetapi juga pemerataan, lingkungan yang terjaga, masyarakat yang kondusif dan kualitas hidup yang semakin baik.
Dengan cara pandang seperti itu kita dapat membayangkan sebuah Lombok Utara yang tidak kehilangan dirinya sendiri ketika berkembang.
Daerah yang tetap mengenal akar budayanya tetapi tidak tertinggal dalam teknologi.
Masyarakat yang tetap memegang nilai lokal tetapi mampu bekerja dengan standar global.
Produk yang lahir dari sumber daya lokal tetapi mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pariwisata yang berkembang tanpa menghilangkan karakter masyarakatnya.
Pertanian dan perikanan yang tidak hanya menghasilkan bahan mentah tetapi mampu menciptakan nilai tambah.
Pada akhirnya ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa besar daerah tumbuh.
Yang lebih penting adalah siapa yang tumbuh bersama daerah itu dan bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah pembangunan berlangsung.
Mungkin inilah arah yang layak didiskusikan bersama.
Bukan bagaimana menjadikan Lombok Utara seperti daerah lain.
Tetapi bagaimana menjadikan Lombok Utara menjadi dirinya sendiri dalam versi terbaiknya.
Lombok Utara: Berkarakter Lokal, Berkompetensi Global.

Tinggalkan Balasan