Lombok Utara, Mediajurnalindonesia.id – Festival Malaka ke-4 kembali digelar di Pantai Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Kabupaten Lombok Utara ke-18 itu mengangkat potensi budaya bahari sekaligus pariwisata berbasis kearifan lokal.

Festival tersebut dibuka oleh Gubernur NTB yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhamad Ihwan, S.Sos., M.Si. Hadir dalam kegiatan itu Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, Ketua TP PKK Lombok Utara Hj. Rohani Najmul Akhyar, perwakilan Forkopimda Lombok Utara, Camat Pemenang Suhadman, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKAD) Budiawan, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Muhamad Ihwan menyampaikan bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi generasi saat ini untuk mengisi pembangunan.

Ia menggunakan metafora pelayaran untuk menggambarkan semangat tersebut. Menurut dia, manusia tidak selalu dapat menentukan kondisi yang dihadapi, tetapi tetap dapat menentukan arah yang hendak dituju.

“Angin tidak selalu bisa kita atur, tetapi arah layar bisa kita tentukan,” katanya.

Ihwan mengatakan, jika para pahlawan dahulu berjuang mengusir penjajah, generasi saat ini memiliki tugas untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menjaga lingkungan dan tradisi.

Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Utara yang dinilai menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan strategis pengembangan kebudayaan.

Menurut Ihwan, NTB merupakan salah satu dari lima provinsi di Indonesia yang memiliki dinas khusus yang menangani kebudayaan. Keberadaan lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas dan jati diri masyarakat.

“Tanpa jati diri, kita tidak tahu ke mana harus berlayar,” ujarnya.

Ihwan menegaskan Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen mempertahankan identitas Lombok dan Sumbawa sebagai satu kesatuan. Lombok Utara, bersama Kota Tua Ampenan, Bayan, dan Rinjani, disebut sebagai pilar utama pengembangan kebudayaan di wilayah barat NTB.

Ia juga berpesan kepada generasi muda Desa Malaka dan Lombok Utara agar terus belajar dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Menurut dia, generasi muda merupakan penerus kepemimpinan NTB sekaligus penjaga memori kolektif bangsa.

Sementara itu, Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar mengapresiasi Pemerintah Desa Malaka dan panitia yang konsisten menggelar Festival Lomba Perahu Layar selama empat tahun berturut-turut.

Dr. Najmul menilai festival tersebut bukan sekadar perlombaan, melainkan bentuk pelestarian budaya bahari yang sekaligus dapat menjadi strategi pengembangan destinasi wisata.

“Desa Malaka bukan sekadar penunjang pariwisata Gili, tetapi adalah desa wisata itu sendiri,” kata Dr. Najmul.

Menurut dia, kehidupan masyarakat Desa Malaka yang sehari-hari beraktivitas di kawasan pesisir merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Karena itu, Dr. Najmul mendorong agar kegiatan pemerintah juga lebih banyak dilaksanakan di lokasi-lokasi pariwisata. Langkah tersebut dinilai dapat memperkenalkan destinasi wisata secara langsung sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Ia juga mengajak seluruh kepala desa dan Ketua AKAD yang hadir menjadikan Festival Malaka sebagai tolok ukur atau benchmark pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal.

“Apa yang dilakukan Malaka hari ini adalah teladan yang sangat baik,” ujarnya.

Dr. Najmul berharap festival tersebut dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya bagi generasi mendatang.

Kepala Desa Malaka H. Akmaludin Ichwan mengatakan Festival Lomba Perahu Layar telah ditetapkan sebagai agenda tahunan strategis untuk melestarikan budaya bahari sekaligus memperkenalkan Desa Malaka sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Lombok Utara.

“Tujuan kami adalah bagaimana bisa bersama-sama, terutama warga Desa Malaka, melestarikan budaya bahari dan memperkenalkan wilayah kami yang notabene bagian dari tujuan pariwisata Kabupaten Lombok Utara,” katanya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, pemangku kepentingan pariwisata, dan komunitas pemuda yang turut menyukseskan festival tersebut.

Menurut Akmaludin, Festival Malaka tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga tradisional, tetapi juga mencerminkan ketahanan budaya masyarakat pesisir. Dengan kolaborasi lintas sektor, ia berharap festival itu dapat berkembang menjadi ikon pariwisata bahari yang mengangkat kearifan lokal.

Ketua Panitia Festival Malaka, Muhammad Abid Al-Jabiri Adnan, mengatakan festival tahun keempat tersebut juga menjadi ruang bagi pemuda Desa Malaka untuk menunjukkan kontribusi dalam pembangunan daerah.

Ia mendorong generasi muda yang telah menempuh pendidikan di luar daerah untuk kembali dan membangun kampung halaman.

“Generasi muda Malaka harus tetap berakar pada tanah kelahiran meski telah menimba ilmu di luar. Kami kembali setelah bersekolah untuk membangun Malaka dan Lombok Utara agar sumber daya manusia kita bergerak maju,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Abid juga mengusulkan pemekaran Desa Malaka kepada Bupati Lombok Utara. Ia menyebut jumlah penduduk yang telah mencapai lebih dari 10.000 jiwa menjadi salah satu alasan perlunya kajian pemekaran.

Menurut dia, kondisi geografis berupa kontur perbukitan menjadi salah satu kendala aksesibilitas. Pemekaran dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan mobilitas masyarakat dan pelayanan publik.

Selain itu, Abid mendorong pengembangan kawasan pesisir Malaka sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang pariwisata. Upaya tersebut, kata dia, perlu dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas.

Melalui Festival Malaka, masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisi bahari, tetapi juga berupaya menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal secara berkelanjutan.(D)