Sidoarjo, Mediajurnalindonesia.id – Pendopo Balai Desa Banjar Kemantren Sidoarjo, di situlah puncak acara Festival Munali Patah 2025 digelar. Desa Banjar Kemantren Sidoarjo tempat bersejarah tinggalnya Alm. cak Munali Patah maestro tari Remo Munalipatah juga pencipta tari Cokronegoro, ia juga yang menginisiasi Udheng Pacul Gowang yang kini menjadi identitas penutup kepala warga Sidoarjo. Semalam peristiwa seni yang meriah dan megah terjadi. Minggu 21 September 2025 adalah puncak acara Festival Munali Patah 2025 digelar. Terselenggara atas kerja sama Dewan Kesenian Sidoarjo, Pemerintah Desa Banjar Kemantren, dan Komunitas Kabut Malam, Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo) juga banyak paguyuban, komunitas yang pendukung lainnya.

Puncak Festival Munali Patah 2025 merupakan rangkaian kegiatan seni untuk menyebarluaskan pengetahuan budaya yang bertolak pada semangat berkesenian mendiang cak Munali Patah. Rangkaian kegiatannya berlangsung 3 hari: tanggal 11 September diadakan workshop penciptaan udeng Pacul Gowang yang dipelopori Dosen Umsida M. Andi Fikri, M.I.Kom. bersama Komunitas Kabut Malam, tanggal 20 September 2025 dan Ziarah Makan Munali Patah dan Diskusi Budaya Munali Patah. Puncaknya tanggal 21 September 2025 penampilan Remo Munali Patan Masal, Penghargaan Seniman Sidoarjo, Ludruk Opera, dan pelbagai penampilan seni anak-anak Sidoarjo.

Bupati Sidoarjo yang ditunggu-tunggu warga tidak jadi hadir pada puncak Festival Munali Patah 2025 sehingga acara dibuka oleh Dr. Tirto Adi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, dalam sambutannya ia berjanji akan meningkatkan anggaran untuk Dekesda “Dewan Kesenian Sidoarjo itu anggarannya tidak banyak, namun kegiatannya sangat banyak, saya berjanji akan mengusulkan peningkatan anggaran yang lebih besar untuk Dekesda”. Joko Susilo, S.Hum., M.Hum. Ketua Program Dekesda menanggapi “Tentu ini menjadi harapan bagi seluruh seniman Sidoarjo, dan masyarakat pemerhati seni, mari kita tunggu harapan itu semoga benar terjadi, jika memang seni budaya masih dianggap penting”.

“Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa budaya menjadi dasar supaya pendidikan membentuk manusia yang berkepribadian dan tidak tercerabut dari akar bangsanya.. Sidoarjo adalah pewaris budaya peradaban besar Kahuripan – Airlangga, akar peradaban megah pertama di Jawa Tumur, Sidoarjo memiliki identitas seni Reog Cemandi, Wayang Porongan, Udheng Pacul Gowang, Remo Munali Patah, dan masih banyak karya seni kreatif anak-anak muda Sidoarjo, jadi sangat layak jika pemerintah menganggarkkan biaya yang pantas untuk pemajuan budaya Sidoarjo” tambah Joko yang juga anggota Pusat Studi Pendidikan dan Budaya Umsida. Apakah ajaran Ki Hadjar ini masih dipatuhi oleh para pemangku pendidikan di Indonesia atau hanya dianggap hembusan angin saja?(msa)