Lombok Tengah.mediajurnalindonesia.id.Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika kembali menjadi sorotan dalam gelaran MotoGP 2026. Sejumlah insiden kecelakaan yang melibatkan pembalap papan atas terjadi sepanjang akhir pekan Grand Prix Indonesia, memunculkan kembali pertanyaan mengenai aspek keselamatan lintasan, terutama area luar tikungan dan perangkap kerikil (gravel trap).

Sorotan menguat setelah Fabio Quartararo mengalami kecelakaan saat sesi latihan pada Jumat (9/10/2026). Pembalap Yamaha tersebut kehilangan kendali atas motornya dan terjatuh hingga masuk ke area gravel. Insiden itu kembali memicu pembahasan mengenai desain area keselamatan di Mandalika.

Sebelumnya, area gravel sirkuit ini juga mendapat kritik menyusul kecelakaan Marc Marquez pada MotoGP Indonesia 2025. Perhatian tertuju pada perbedaan ketinggian atau semacam undakan antara area aspal di luar lintasan dan perangkap kerikil yang berada setelahnya. Kondisi transisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius ketika pembalap kehilangan kendali dan keluar dari lintasan.

Kecelakaan tidak hanya terjadi dalam sesi latihan. Sprint Race MotoGP Mandalika pada Sabtu (10/10/2026) juga diwarnai insiden pada tikungan pertama. Raul Fernandez dan Marco Bezzecchi terjatuh pada awal balapan, sehingga keduanya kehilangan kesempatan melanjutkan persaingan untuk meraih kemenangan sprint.

Pada sesi latihan sehari sebelumnya, Enea Bastianini juga dilaporkan terjatuh. Rangkaian insiden tersebut membuat perhatian publik kembali tertuju pada karakter lintasan Mandalika, yang menuntut pembalap menjaga keseimbangan motor, ketepatan pengereman, dan kecepatan ketika memasuki tikungan.

Meski demikian, banyaknya kecelakaan dalam satu akhir pekan tidak otomatis membuktikan bahwa desain sirkuit menjadi penyebab utama. Faktor kesalahan pembalap, manuver saat bersaing, kondisi ban, serta karakteristik lintasan perlu diperiksa secara menyeluruh sebelum kesimpulan dapat diambil.

Perangkap kerikil merupakan bagian penting dari sistem keselamatan sirkuit. Area ini dirancang untuk membantu memperlambat kendaraan ketika pembalap keluar dari lintasan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada desain, kedalaman, kondisi permukaan, serta transisi dari aspal menuju gravel.

Karena itu, evaluasi keselamatan Mandalika perlu mencakup pemeriksaan area luar tikungan yang kerap menjadi lokasi kecelakaan. Penyelenggara juga perlu memastikan bahwa pembalap yang terjatuh dapat dievakuasi dengan cepat dan aman oleh petugas marshal serta tim medis.

Insiden yang melibatkan Quartararo kembali memperkuat pentingnya evaluasi tersebut. Namun, diperlukan hasil pemeriksaan teknis untuk menentukan apakah terdapat kekurangan pada fasilitas keselamatan atau kecelakaan terjadi akibat faktor lain.

Di tengah kritik yang berkembang, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyampaikan bahwa Sirkuit Mandalika telah memperoleh homologasi Grade A dari Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM) untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia musim 2026. Pemeriksaan akhir dilakukan pada 8 Oktober 2026.

Status tersebut menunjukkan bahwa sirkuit memenuhi standar homologasi yang berlaku. Meski demikian, sertifikasi bukan alasan untuk menghentikan evaluasi terhadap setiap insiden yang terjadi di lintasan.

Keselamatan olahraga balap harus terus diperiksa melalui data kecelakaan, kondisi fasilitas, dan masukan pembalap maupun tim teknis. Perbaikan juga perlu dilakukan apabila ditemukan risiko yang dapat dikurangi.

MotoGP Mandalika memiliki nilai strategis bagi pariwisata dan citra Indonesia di mata dunia. Namun, keberhasilan penyelenggaraan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penonton mencapai 157.875, dampak ekonomi katanya meningkat, atau kemeriahan balapan.

Aspek keselamatan pembalap harus tetap menjadi prioritas utama, Penyelenggara, pengelola sirkuit, FIM, dan pihak terkait perlu menelaah setiap insiden secara objektif, karena menyangkut nama baik Sirkuit Mandalika dan Indonesia di kancah dunia.(Ftr).