Lombok Tengah.mediajurnalindonesia.id.Berangkat dari kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal, Galih Gentar Wardana, pemuda asal Desa Wisata Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, menghadirkan program “Menjerukkan Bonjeruk”. Inovasi tersebut mengantarkannya mewakili Lombok Tengah dalam ajang Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 bidang Seni dan Budaya.

Melalui program ini, Galih berupaya memperkuat identitas Desa Bonjeruk dengan mengangkat kekayaan sejarah, tradisi lisan, dan warisan budaya yang selama ini belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas.

Selama ini, Bonjeruk dikenal dengan kuliner khas seperti cerorot, serabi laklak, dan ayam merangkat. Namun, Galih melihat potensi yang lebih luas, yakni cerita budaya turun-temurun serta peninggalan bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas desa.

Program Menjerukkan Bonjeruk hadir sebagai upaya mendokumentasikan, mempopulerkan, dan melestarikan warisan tersebut agar tetap dikenal oleh generasi muda sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis budaya.

Gagasan ini juga memiliki relevansi dengan perjalanan Kabupaten Lombok Tengah yang akan memperingati Hari Jadi ke-81 pada 15 Oktober 2026. Melalui pengenalan sejarah dan budaya lokal, Galih ingin menunjukkan bahwa kebanggaan terhadap daerah dapat dimulai dari upaya mengenali dan merawat warisan yang dimiliki.

Semangat tersebut sejalan dengan tema Hari Jadi ke-81 Kabupaten Lombok Tengah, “Kerja Nyata, Wujudkan Masmirah”, yang menekankan pentingnya kerja nyata dalam mendorong kemajuan daerah tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai budaya lokal.

“Kegiatan ini bertujuan agar Desa Bonjeruk dapat memperkuat kembali branding desa, sehingga cerita budaya yang diwariskan secara turun-temurun terus berkelanjutan dan selalu diingat,” ujar Galih.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bonjeruk Permai, Usman. Menurutnya, potensi Bonjeruk tidak hanya terletak pada kuliner tradisional, tetapi juga pada sejarah dan cerita budaya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

“Bukan sekadar makanan tradisional yang bisa diangkat di Desa Bonjeruk, melainkan sejarah dan cerita budaya turun-temurun juga bisa diangkat melalui program Menjerukkan Bonjeruk,” ungkap Usman.

Keikutsertaan Galih dalam Pemuda Pelopor NTB 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi budaya Bonjeruk ke tingkat provinsi. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas pemuda dapat tumbuh dari kepedulian terhadap lingkungan, tradisi, dan identitas daerahnya sendiri.

Melalui Menjerukkan Bonjeruk, Galih membawa pesan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan upaya menjaga jati diri daerah agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.(Ftr).