Lombok Barat, Mediajurnalindonesia.id- SMK Negeri 1 Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi dengan menyesuaikan kompetensi keahlian terhadap kebutuhan dunia kerja dan minat peserta didik. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut menerima sebanyak 8 rombongan belajar (rombel) dengan jumlah siswa yang dinilai cukup sesuai dengan target penerimaan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMKN 1 Kuripan, Muhamad Sumarlin, S.P., mengatakan delapan rombel tersebut tersebar pada sejumlah kompetensi keahlian. Hal itu disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, dari delapan rombel tersebut, Teknik Komputer dan Jaringan dan Telekomunikasi (TJKT) menjadi kompetensi dengan jumlah rombel terbanyak, yakni tiga rombel dengan masing-masing 36 siswa.

Sementara itu, Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) mendapat dua rombel, Agribisnis Peternakan dua rombel, dan Agribisnis Pertanian satu rombel.

“Alhamdulillah, untuk tahun ini kita mendapatkan siswa lumayan, hampir sesuai dengan target yang kita inginkan. Ada delapan rombel yang kita dapat untuk tahun pembelajaran 2026/2027,” ujar Muhamad Sumarlin.

Ia mengungkapkan, minat calon peserta didik terhadap jurusan TJKT masih sangat tinggi. Dari sekitar 120 peserta yang memilih TJKT sebagai pilihan pertama, sekolah hanya dapat menampung 108 siswa sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah daerah.

Untuk mengatasi kelebihan peminat tersebut, pihak sekolah melakukan pemetaan berdasarkan nilai dan pilihan kompetensi keahlian peserta didik. Siswa yang tidak tertampung pada pilihan pertama kemudian diarahkan ke pilihan kedua sesuai hasil pemeringkatan akademik.

“Peminat TJKT memang masih sangat besar. Dari sekitar 120 peserta, yang bisa kita terima sesuai kuota hanya 108 siswa. Selebihnya kita tempatkan sesuai pilihan kedua berdasarkan rangking dan peminatan mereka,” jelasnya.

Selain penerimaan siswa baru, SMKN 1 Kuripan juga melakukan pengembangan kompetensi keahlian untuk menyesuaikan kebutuhan pembelajaran dan dunia usaha maupun dunia industri.

Pada tahun ini, sekolah menambah kompetensi Agribisnis Ternak Ruminansia, yang fokus pada pengelolaan ternak besar seperti sapi dan kambing.

Sebelumnya, kompetensi agribisnis peternakan yang dikembangkan sekolah meliputi agribisnis ternak unggas dan kesehatan hewan.

Pengembangan juga dilakukan pada bidang pertanian. Dari sebelumnya memiliki kompetensi Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Agribisnis Tanaman Perkebunan, kini sekolah menambah kompetensi Lanskap dan Pertamanan.

Menurut Muhamad Sumarlin, pembukaan kompetensi baru tersebut mendapat respons positif dari peserta didik. Setelah melalui proses seleksi dan peminatan, sejumlah siswa kelas XI telah memilih kompetensi baru tersebut.

“Alhamdulillah, melalui seleksi yang dilakukan jurusan dan hasil peminatan siswa, sekarang sudah ada siswa untuk kompetensi keahlian baru yang kita buka,” katanya.

Dari sisi tenaga pendidik dan kependidikan, ia memastikan ketersediaan guru yang sesuai dengan bidang keahlian juga telah mendukung pengembangan kompetensi tersebut.

“Tenaga kependidikan kita sudah cukup. Ketika kita membuka kompetensi baru, semuanya bisa linear dan mengajar sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing,” jelasnya.

Salah satu program unggulan SMKN 1 Kuripan adalah pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa kelas XII. Program tersebut menjadi bagian penting dalam membekali siswa dengan pengalaman langsung di dunia usaha dan dunia industri.

Untuk tahun 2026, siswa kelas XII mulai menjalani rangkaian PKL setelah sebelumnya mengikuti pembekalan dari pihak sekolah dan masing-masing jurusan.

Pembekalan dimulai setelah siswa memasuki tahun ajaran baru pada 13 Juli 2026, sedangkan pemberangkatan peserta PKL dilakukan secara bertahap mulai 20 Juli 2026 bagi siswa yang telah menyelesaikan persyaratan akademiknya.

Lokasi PKL disesuaikan dengan kompetensi masing-masing siswa. Untuk jurusan APHP, misalnya, siswa ditempatkan pada sejumlah industri pengolahan pangan, termasuk industri roti serta berbagai mitra dunia usaha lainnya.

Sementara siswa jurusan peternakan ditempatkan di sejumlah lokasi yang berkaitan dengan peternakan, termasuk mitra usaha, Dinas Pertanian dan fasilitas yang berkaitan dengan kesehatan hewan.

Untuk bidang pertanian, siswa mendapatkan pengalaman di sejumlah perusahaan dan lembaga yang bergerak dalam pembibitan maupun budidaya tanaman. Sedangkan siswa bidang komputer juga ditempatkan pada sejumlah industri yang relevan dengan kompetensi yang mereka pelajari.

“Rata-rata satu industri hanya menerima maksimal sekitar lima siswa. Karena itu kita membutuhkan banyak tempat untuk lokasi kegiatan PKL,” terangnya.

Muhamad Sumarlin mengungkapkan, pelaksanaan PKL tidak hanya memberikan pengalaman kerja kepada siswa, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk langsung memasuki dunia kerja.

Bahkan, sejumlah siswa SMKN 1 Kuripan disebut mendapatkan tawaran bekerja dari perusahaan atau tempat mereka melaksanakan PKL setelah menyelesaikan program tersebut.

“Banyak siswa kita yang setelah selesai PKL sudah diminta untuk bekerja di tempat tersebut. Bahkan ada industri yang meminta tambahan waktu karena melihat kinerja dan prestasi peserta didik kita,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan kerja sama antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra industri yang telah memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sekaligus mengasah keterampilan secara langsung di lapangan.

Selain mengembangkan keterampilan melalui PKL, siswa SMKN 1 Kuripan juga aktif mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi.

Di bidang Palang Merah Remaja (PMR), sejumlah siswa dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan di tingkat Kabupaten Lombok Barat.

Sementara dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi NTB, SMKN 1 Kuripan berhasil meraih Juara III pada bidang Lanskap dan Pertamanan.

Prestasi tersebut dinilai cukup membanggakan mengingat persiapan yang dilakukan relatif singkat.

“Alhamdulillah kita bisa mendapatkan juara tiga di bidang Lanskap dan Pertamanan. Meskipun persiapannya sedikit, kita tetap bisa bersaing dengan beberapa sekolah lainnya,” katanya.

Ke depan, SMKN 1 Kuripan menargetkan agar lulusan tidak hanya berorientasi untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga mampu bekerja dan menciptakan lapangan usaha secara mandiri.

Muhamad Sumarlin mengatakan, hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan SMK yang menekankan penguasaan keterampilan dan kesiapan peserta didik menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha.

“Kami berharap siswa-siswa kami setelah tamat bisa bekerja, tetapi juga mampu berwirausaha sendiri. Dengan kompetensi yang sudah mereka miliki, insyaallah mereka bisa bersaing dan membuka usaha sesuai bidang keahliannya,” ujarnya.

Ia berharap stigma bahwa lulusan SMK menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran dapat ditepis melalui peningkatan kompetensi, pengalaman kerja, dan kemampuan kewirausahaan siswa.

“Jangan sampai lulusan SMK justru menjadi bagian dari pengangguran. Kita sudah membekali mereka dengan keterampilan yang cukup. Kalau mereka ingin berwirausaha, insyaallah setelah tamat dari sini mereka mampu bersaing dengan lulusan sekolah lain,” pungkasnya. (Ramli Mji)