Gerung, Lombok Barat. Mediajurnalindonesia.id-
Dalam pertemuan dengan media, Sekretaris Dinas Peternakan Lombok Barat, Muhamad Taufik, bersama Kepala Bidang Peternakan Hirwanto, memaparkan perkembangan signifikan sektor peternakan untuk populasi ternak sapi di Lombok Barat yang mengalami peningkatan hingga 8 % dibandingkan data tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari jumlah sapi, tetapi juga dari jumlah peternak yang kini mencapai lebih dari 112 ribu Kepala Keluarga (KK), menandakan mayoritas masyarakat Lombok Barat berprofesi sebagai peternak. Senin, 5 Mei 2025
Taufik Sapaan akrabnya menjelaskan, jika dibandingkan sejak 2023 hingga 2024, jumlah peternak terus bertambah secara signifikan. Saat ini populasi ternak sapi data tahu 2024 sebnyak 95.205 ekor ternak tercatat di wilayah ini dengan 112.444 KK aktif mengelola peternakan. Tidak hanya sapi, namun berbagai jenis ternak juga mendapatkan perhatian serius dari Dinas Pertanian Kab. Lobar
Untuk mendukung peningkatan produksi, Dinas Petanian Lombok Barat melakukan berbagai program, termasuk penambahan indukan sapi betina melalui pengadaan ratusan ekor yang berasal dari program pemerintah pusat, pemrintah provinsi NTB dan Kabupaten lombok barat Salah satu dukungan utama adalah penyediaan bibit sapi melalui program inseminasi buatan (IB) yang diberikan secara gratis oleh pemerintah pusat. Bibit ini dikenal sebagai STR (Sapi Terbaik Ras), yang disalurkan ke masyarakat tanpa biaya, sebagai upaya memperkuat kualitas dan kuantitas sapi lokal.
Dalam upaya menjaga keaslian dan kemurnian sapi Bali yang merupakan unggulan lokal, pemerintah daerah bersama Dinas Pertanian berupaya mengembalikan dan memperkuat populasi sapi asli tersebut. Hal ini penting mengingat potensi sapi lokal yang besar serta nilai ekonomisnya yang tinggi.
Namun demikian, tantangan terbesar yang dihadapi peternak saat ini adalah fluktuasi harga sapi dan harga daging yang tidak seimbang. Menurut penjelasan Taufik, harga sapi lokal mengalami penurunan, sementara harga daging justru meningkat. Hal ini diduga terkait dengan pasokan ternak dari luar daerah yang masuk dengan harga lebih murah, sehingga menekan harga sapi lokal di pasar Lombok Barat.
Dinas Pertanian Lombok Barat mengaku kesulitan mengendalikan lalu lintas ternak dari daerah lain, terutama karena adanya jalur darat yang sulit diawasi secara ketat. Hal ini menjadi perhatian serius karena selain mengganggu harga pasar, masuknya ternak dari luar juga berpotensi membawa penyakit yang dapat merusak ekosistem peternakan lokal.
Untuk itu, pihak dinas berupaya melakukan pengawasan ketat dan menolak permohonan masuknya ternak luar yang tidak jelas asal-usul dan dampaknya. Perlindungan terhadap peternak lokal menjadi prioritas utama agar usaha mereka tidak terganggu dan kesehatan ternak tetap terjaga.
Sementara itu Hirwanto Kabid Peternakan Lombok Barat menuturkan Ternak yang ada di Lobar berstatus bebas dari beberapa penyakit zonosis . Status bebas ini sangat penting karena menentukan kelayakan dan kepercayaan pasar terhadap produk ternak lokal. Upaya menjaga status ini dilakukan dengan ketat, termasuk pengawasan pergerakan ternak dan penerapan protokol kesehatan hewan yang ketat. (Ramli Mji)
