SumbawaBarat.Mediajurnalindonesia.id– Loka Karya Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal Nilai-Nilai Tradisi Sumbawa resmi ditutup pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 21–22 September 2026, tersebut dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat bekerja sama dengan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kamutar Telu Kabupaten Sumbawa Barat.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut melibatkan sebanyak 60 peserta yang terdiri dari perwakilan guru SD, guru SMP, pengawas sekolah, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat, serta perwakilan LATS Kamutar Telu. Loka karya ini menjadi ruang bersama untuk menyusun konsep bahan ajar yang dapat digunakan dalam pelaksanaan muatan lokal di sekolah, khususnya pada jenjang SD dan SMP.
Dalam laporannya, H. Wahidin, S.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyusunan materi semata, tetapi menghasilkan sebuah konsep pelaksanaan pengajaran muatan lokal yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat. Menurutnya, keterlibatan unsur pendidikan dan lembaga adat menjadi penting agar bahan ajar yang disusun memiliki landasan pendidikan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai tradisi Sumbawa.
Sementara itu, Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si. dalam arahannya menyampaikan bahwa gagasan penguatan muatan lokal nilai-nilai tradisi Sumbawa berangkat dari kegelisahan terhadap proses tumbuh kembang anak didik di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks.
“Di zaman kekinian, tantangan kehidupan mereka jauh lebih besar. Tantangan untuk berkembang juga semakin besar. Jauh lebih mudah kita hari ini dibanding mereka. Betapa beratnya tantangan tumbuh kembang di masa ini, karena beragam sekali ujiannya,” ungkap Bupati.
Menurut Bupati, perkembangan zaman juga membawa tantangan terhadap keberlangsungan nilai-nilai adat dan kepribadian lokal. Nilai-nilai yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini berpotensi semakin terkikis dan bahkan menjadi sesuatu yang asing bagi generasi anak-anak.
“Menjadi betapa nilai adat, kepribadian semakin terkikis, semakin tidak terarah, semakin asing di dunia anak-anak hari ini. Di satu sisi tumbuh kembang tetap terjadi, dan di sisi lain nilai kepribadian kita yang kelokalan berbalik menjadi nilai asing bagi kita,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, Bupati menilai perlu dicari pola yang tepat untuk menjadikan nilai-nilai lokal sebagai bagian dari proses pendidikan. Salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan adalah pembelajaran muatan lokal di sekolah.
“Saya berpikir keras untuk bisa membuat bahan ajar yang menunjukkan nilai-nilai kelokalan yang bisa membangun kepribadian,” katanya.
Bupati menjelaskan bahwa nilai-nilai lokal tidak hanya dapat ditemukan dalam bentuk tradisi atau kegiatan adat, tetapi juga tersimpan dalam bahasa dan ungkapan masyarakat Sumbawa. Bahasa lokal, menurutnya, memiliki kandungan nilai yang dapat digunakan untuk mengenalkan sekaligus membentuk karakter peserta didik.
Ia mencontohkan ungkapan “ila” atau “pina ila”yang mengandung standar nilai tentang rasa malu. Nilai tersebut tidak sekadar dipahami sebagai sebuah kata, tetapi dapat menjadi bagian dari pembelajaran mengenai etika, sikap, dan kepribadian.
“Contoh bahasanya, bahasa yang punya nilai yang menunjukkan satu nilai tertentu. Contohnya *ila, pina ila*. Ada standar nilai yang membentuk rasa malu,” jelas Bupati.

Karena itu, Bupati menekankan pentingnya menemukan formula yang tepat dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi bahan ajar. Proses tersebut perlu melibatkan pihak-pihak yang memahami bahasa, adat, budaya, dan pendidikan agar nilai yang terkandung di dalam tradisi dapat dirumuskan menjadi materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.
“Untuk mengetahui itu bagaimana caranya, melalui bahasa-bahasa lokal yang memiliki nilai. Mencari formula yang tepat harus kita serahkan kepada pakarnya, apakah dari sisi bahasa yang memiliki nilai tertentu yang diformulasikan dalam bentuk bahan ajar sehingga menjadi pembelajaran,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan bahwa tantangan terhadap pembentukan kepribadian generasi muda merupakan persoalan yang harus dijawab bersama. Karena itu, keberadaan guru menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan nilai-nilai tersebut dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik.
“Kita ajarkan pelatihan guru-guru muatan lokal, mulai dari pemahaman sampai cara pengajaran,” tegasnya.
Melalui loka karya ini, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berharap tersusun bahan ajar muatan lokal yang tidak hanya memperkenalkan tradisi Sumbawa kepada peserta didik, tetapi juga mampu menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari pembentukan karakter, etika, dan kepribadian generasi muda Sumbawa Barat.
Dengan demikian, muatan lokal diharapkan tidak sekadar menjadi mata pelajaran tambahan, tetapi menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan perkembangan zaman dengan nilai-nilai lokal yang menjadi identitas masyarakat Sumbawa Barat.

Tinggalkan Balasan