Gerung, Mediajurnalindonesia.id- Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mulai mengambil langkah konkret menghadapi potensi gejolak harga cabai. Tak hanya mengandalkan operasi pasar dan pemantauan harga, Pemkab Lombok Barat kini mendorong masyarakat untuk memproduksi cabai secara mandiri melalui Gerakan Menanam Cabai.

Gerakan tersebut diluncurkan Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha, saat memimpin Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Aula Suranadi Kantor Bupati Lombok Barat, Kamis (6/8/2026).

Bagi Pemkab Lombok Barat, langkah ini bukan sekadar gerakan bercocok tanam. Produksi cabai dari lingkungan rumah tangga, sekolah, perkantoran hingga desa dipandang sebagai salah satu strategi untuk memperkuat pasokan sekaligus mengantisipasi lonjakan harga yang kerap menjadi pemicu inflasi.

“Kita tidak hanya berbicara soal harga saat ini, tetapi membangun ketahanan pangan agar harga tidak mudah melonjak. Gerakan ini mengajak kita semua menanam cabai di lingkungan masing-masing sehingga pasokan tetap terjaga dan harga dapat dikendalikan,” kata Hj. Nurul Adha.

Gerakan tersebut akan melibatkan lintas sektor, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, TP PKK desa hingga masyarakat. Penanaman pada tahap awal dilakukan menggunakan polybag sehingga dapat diterapkan di berbagai lokasi meski memiliki keterbatasan lahan.

Pemkab Lombok Barat menyiapkan sekitar 2.000 polybag untuk siswa Sekolah Dasar dan 5.000 hingga 7.000 polybag untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Selain diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menekan tekanan inflasi, program tersebut juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga diperkenalkan langsung dengan proses menanam, merawat hingga memanen tanaman pangan.

Menariknya, gerakan tersebut pada tahap awal tidak menggunakan anggaran khusus. Pemerintah daerah memilih mengoptimalkan sumber daya yang tersedia dengan memperkuat kolaborasi antar-OPD, pemerintah desa, sekolah dan masyarakat.

“Kita optimalkan apa yang sudah ada. Yang paling penting adalah bagaimana semua pihak bergerak bersama sehingga program ini tidak berhenti hanya pada saat peluncuran,” ujar Nurul Adha.

Pelaksanaan Gerakan Menanam Cabai akan dimulai dari sejumlah kecamatan yang ditetapkan sebagai lokasi percontohan. Setelah dilakukan evaluasi terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen, program tersebut akan dikembangkan secara lebih luas ke berbagai wilayah di Lombok Barat.

Pemerintah daerah juga meminta agar faktor cuaca dan potensi serangan hama menjadi perhatian sejak awal. Pengawasan dan perawatan tanaman dinilai menjadi kunci agar gerakan tersebut benar-benar menghasilkan produksi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi Pemkab Lombok Barat, keberhasilan gerakan ini tidak hanya diukur dari berapa banyak polybag yang ditanam, tetapi dari seberapa besar kontribusinya dalam menjaga ketersediaan cabai dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pasar.

“Kita berharap gerakan kecil ini mampu memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat serta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di Lombok Barat,” tegasnya.

Rapat koordinasi TPID tersebut turut dihadiri kepala OPD terkait, perwakilan instansi vertikal serta berbagai unsur yang terlibat dalam upaya pengendalian inflasi daerah.

Gerakan Menanam Cabai pun diharapkan menjadi langkah sederhana yang memiliki dampak berkelanjutan: dari polybag di halaman sekolah dan rumah warga, menuju ketahanan pangan dan stabilitas harga di Lombok Barat. (Red)