Sumbawa Barat. Mediajurnalindonesia.id —
Penantian hampir dua dekade itu akhirnya terbayar. Pada Desember 2025, SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat, resmi meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Capaian ini bukan sekadar prestasi dua sekolah, melainkan penanda perubahan cara pandang pendidikan sebagai fondasi pembentukan perilaku ramah lingkungan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. (26/01/2026)
Program Adiwiyata merupakan inisiatif Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang bertujuan mendorong sekolah membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. Program ini tidak hanya menitikberatkan pada kebersihan fisik sekolah, tetapi juga mencakup kebijakan, kebiasaan sehari-hari, serta peran sekolah sebagai agen perubahan lingkungan di sekitarnya.
Keberhasilan SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk tidak dicapai secara instan. Proses panjang tersebut didukung oleh pendampingan yang konsisten, salah satunya melalui keterlibatan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Perusahaan tambang tembaga dan emas ini berperan strategis melalui Program Pengelolaan Sampah di Sekolah (PPSS) serta berbagai kegiatan Clean Up Day yang melibatkan komunitas sekolah dan masyarakat sekitar.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Melalui PPSS, kami ingin membangun kebiasaan baru sejak dini, di mana siswa dan orang tua terbiasa memilah sampah dan menjaga lingkungan, sekaligus membuka peluang pemberdayaan sekolah,” ujar Priyo Pramono, Vice President Policy & Permitting sekaligus Vice President Social Impact AMMAN.
Ia menambahkan, sekolah diharapkan mampu menerapkan prinsip keberlanjutan secara berkelanjutan serta menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Program PPSS saat ini dijalankan di enam sekolah di KSB dengan pendekatan partisipatif. Siswa, guru, dan warga sekolah didorong untuk mengelola sampah secara mandiri melalui pemilahan sejak sumbernya, pengolahan sampah organik, hingga menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar nyata tentang keberlanjutan.
Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi pada pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Secara sosial, kesadaran dan kapasitas warga sekolah meningkat, didukung oleh fasilitas seperti rumah kompos dan sistem pemilahan sampah berbasis sumber. Bahkan, pendekatan ini juga membuka peluang ekonomi bagi sekolah.
“Adiwiyata adalah investasi jangka panjang. Kita tidak hanya menanam pohon di sekolah, tetapi menanam kesadaran di pikiran siswa agar mereka tumbuh menjadi penjaga bumi di masa depan,” ungkap Bambang Supriadi, pemerhati lingkungan sekaligus Founder CV Tamu Baru, mitra pelaksana PPSS.
Salah satu hasil konkret dari program ini adalah POSTA (Pupuk Organik Sekolah Kita), pupuk organik yang dihasilkan dari pengelolaan sampah sekolah. Produk ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga bernilai ekonomi karena dapat dijual untuk menopang operasional rumah kompos serta mendukung kegiatan sekolah lainnya. Konsep ekonomi sirkular ini menjadi kunci keberlanjutan program setelah masa pendampingan berakhir.
Ke depan, capaian SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Sumbawa Barat. Dengan dukungan kebijakan daerah, sekolah berpeluang besar bertransformasi tidak hanya sebagai pusat pendidikan akademik, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya generasi yang lebih peduli dan bijak terhadap lingkungan.(Rozak)

Tinggalkan Balasan