Ruang Menulis
Trending

Model Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara

untuk memenuhi tugas UAS Perilaku Organisasi

Oleh : Nur Rokhman

Mahasiswa Pascasarjana S2 Magister Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswaa Yogyakarta


Mediajurnalindonesia.id – Manusia merupakan salah satu unsur terpenting di dalam suatu organisasi karena merupakan unsur yang mengendalikan organisasi serta mempertahankan dan mengembangkan organisasi dalam menghadapi berbagai tuntutan zaman. Sehingga sumber daya manusia harus diperhatikan, dijaga dan dikembangkan. Kedudukan istimewa sumber daya manusia adalah kemampuannya untuk bertahan dan berkembang secara dinamis dibandingkan dengan sumber-sumber daya lain yang kini semakin berkurang keampuhannya, seperti teknologi produk dan proses produksi.

Kepemimpinan menurut Robbins dan Judge (2016) adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Dalam perspektif manajemen bisnis dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, Pemimpin senantiasa berpegang pada sistem nilai dan selfawareness (kesadaran diri sendiri), ingenuity (kemauan berinovasi), serta courage (keberanian) dalam bekerja dan mengambil keputusan.

Pentingnya dilaksanakan sistem nilai, tercermin dalam peraturan perusahaan yang dijadikan pedoman oleh Pemimpin di suatu perusahaan dalam mengambil kebijakan dan melaksanakan kepemimpinan. Kemudian secara lebih luas sistem nilai tersebut berkembang menjadi budaya organisasi yang pada gilirannya membentuk perilaku individu- individu dan sekaligus menciptakan iklim dan budaya organisasi yang baik.

Kepemimpinan adalah proses memengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan dan bagaimana tugas tersebut dapat dilakukan secara efektif, dan proses memfasilitasi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.

Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Gaya kepemimpinan pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.

Tamansiswa merupakan badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarananya.

Kepemimpinan berbasis Tamansiswa yaitu proses memengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan dan bagaimana tugas tersebut dapat dilakukan secara efektif, dan proses memfasilitasi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dilandasi perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat.

BACA JUGA   Membangun Budaya Organisasi yang Kuat di Era Digitalisasi

Kepemimpinan di Tamansiswa di kenal dengan nama Trilogi Kepemimpinan, kepemimpinan ini tiada lain adalah pimpinan daripada ”kebijaksanaan” yaitu nilai kebatinan yang menurut ajaran adab dianggap sebagai pusat gerak kejiwaan yang mengandung unsur-unsur kebenaran dan keadilan. Sedangkan demokrasi di Tamansiswa diberikan arti secara khusus demokrasi tidak bersifat liberalistik atau sebaliknya otoriter atau diktatorial. Demokrasi di Tamansiswa dilengkapi dengan Leadership atau Kepemimpinan.

Trilogi kepemimpinan pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat popular dilingkungan pendidikan Indonesia. Trilogi kepemimpinan tersebut meliputi ing ngarsa sung tuladha, ing madya angun karsa, dan tut wuri handayani. Berikut in adalah penjelasan dari trilogi kepemimpinan :

1. Ing ngarso sung tuladha (di depan memberi teladan)

Seorang pemimpin adalah panutan. Sebagai panutan, orang lain yang ada disekitarnya akan mengikutinya. Seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Dalam hal ini bisa dilihat betapa besarnya tanggungjawab moral seorang pemimpin, karena tindak-tanduknya, tingkah lakunya, cara berfikirnya, bahkan kebiasaannya akan cenderung diikuti.

Dengan demikian maka saat berada di depan, pemimpin harus memberikan teladan atau contoh yang baik. Disini tidak tercermin adanya atasan-bawahan, tetapi jelas menunjukkan siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin. Ini disebutkan oleh Ki Hajar dengan terminologi “ing ngarso sung tulodho”, saat di depan seorang pemimpin harus memberi teladan. Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum pantas menyandang gelar ‘pemimpin.

2. Ing madyo mangun karso (di tengah membangun kehendak atau niat)

Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya, harus mampu menggerakkan, memotivasi, mendorong dan mengatur sumberdaya yang ada (empowering). Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), sehingga ada ataupun tidak adanya motivator tetap saja akan termotivasi. Terkadang motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya.

BACA JUGA   Optimalisasi Budaya Kerja Pada Perusahaan Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Karyawan

Untuk itulah maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap sangat dibutuhkan untuk mendorong supaya kita termotivasi. Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran, kehadirannya membuat orang tergerak untuk bertindak, itulah peran seorang pemimpin. Semboyan kedua ini juga mempunyai makna kebersamaan, kekompakan, dan kerjasama. Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya, melainkan ia juga harus berada di tengah-tengah orang yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa-apa untuk anak buahnya, sehingga mereka berjalan sendiri-sendiri. Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin, sehingga orang yang dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak. Selain itu, seorang pemimpin juga harus selalu melindungi orang yang dipimpinnya.

3. Tut wuri handayani (dari belakang memberikan dorongan)

Seorang pemimpin yang berada di belakang diperlukan kehadirannya dibarisan belakang. Dari belakang seorang pemimpin dapat memberikan dorongan yang dipimpinya untuk terus maju. Pemimpin yang berada di barisan belakang harus pandai-pandai mengikuti barisan di depannya, agar konsisten gerakan dan arahnya bisa bersinergi berbarengan supaya menjadi goal cogruency, suatu keadaan di mana tujuan individu yang berada dalam suatu organisasi konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai organisasi tersebut.

Tanpa adanya goal congruency arah gerakan organisasi menjadi berat karena banyaknya arah yang tidak sama dan mungkin justru saling berlawanan yang mengakibatkan suatu organisasi tersebut tidak bisa mencapai tujuannya.Semboyan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia pendidikan, yang tentunya mempunyai makna yang mendalam. Jika diartikan secara keseluruhan Tut Wuri Handayani memberi pengaruh, bertujuan untuk menciptakan pribadi yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Dengan ini diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin. Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain. Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini, agar pendidikan menjadi sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dan menjadi pribadi yang mandiri, kreatif serta inovatif. ***

Artikel Terkini

Back to top button