Ruang Menulis
Trending

Membangun Budaya Organisasi yang Kuat di Era Digitalisasi

Oleh : Nur Tyastuti Puntorini

Mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

Mediajurnalindonesia.id – Budaya Organisasi  (Organizational culture) memuat tentang nilai-nilai yang dianut, sikap, standard, dan kepercayaan yang membentuk karakter dari Sumber Daya Manusia (SDM) dan menjadi ciri dari Organisasi. Suatu budaya organisasi yang telah terbentuk dan internalisasi dengan kuat akan tercermin pada sikap dan perilaku SDM yang ada di dalamnya.

Budaya organisasi dapat menjadi keunggulan atau ciri khas sebuah Organisasi yang sulit ditiru oleh organisasi lain.Untuk itu, sebuah organisasi harus memiliki budaya yang kokoh agar menjadi benefit tersendiri bagi perusahaan. Kapabilitas organisasi dibentuk dari kerjasama sejumlah SDM yang kompeten, berintegritas tinggi dan dengan kemauan kuat untuk menghasilkan karya terbaik. Hal ini dapat terwujud dengan dukungan pemimpin yang memberikan arahan, keteladanan dan kemampuannya dalam mengerakkan SDM dari jenjang tertinggi hingga pelaksana yang sesuai dengan tujuan, visi, misi dan arah strategis organisasi.

Budaya organisasi dikembangkan sesuai dengan tantangan yang dihadapi sesuai dengan perkembangan zaman dan target, dijalankan melalui sejumlah program kerja dan memiliki sistem pengukur keberhasilan. Pembangunan budaya organisasi berlangsung dalam jangka panjang, perlu pemimpin yang bisa menjadi role model  dan adanya agent of changes yang senantiasa mengkomunikasikan dan menularkan budaya organisasi ke berbagai unit organisasi atau kepada individu.

Diera digitalisasi saat ini mau tidak mau setiap individu dan setiap organisasi dituntut harus mampu beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pelayanan yang diberikan, sehingga budaya organisasi yang kuat penting untuk dimiliki setiap organisasi. Beberapa cara untuk membangun budaya organisasi yang kuat, yakni dengan :

1. Tetapkan dan komunikasikan Visi dan Misi

Seharusnya para pemimpin dan para pemangku kepentingan organisasi duduk bersama dan menetapkan secara bersama kemana arah dan tujuan bersama yang dicapai. Hal ini perlu dilakukan dalam penyesuaian visi dan misi, agar upaya untuk melakukan perubahan akan lebih terlihat nyata serta mendapatkan dukungan dari semua pihak.

Upaya tersebut dilakukan pemimpin dengan harapan untuk melakukan perubahan budaya akan berjalan dengan lebih baik dan terarah. Berawal dari menyusun visi dan misi yang ingin dicapai organisasi, para pemimpin organisasi mendesain dan mengembangakan budaya organisasi, seperti misalnya perubahan simbol-simbol yang lebih menunjukkan jati diri organisasi, perubahan tag line yang lebih menekankan pada komitmen organisasi terhadap kemajuan teknologi, dan lain sebagainya.

Aspek konsistensi, konsistensi menekankan nilai-nilai yang dimiliki organisasi.   Visi merupakan tujuan besar atau goal jangka panjang yang ingin dicapai oleh organisasi. Selanjutnya di turunkan dalam sebuah misi yaitu sejumlah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan bersama tersebut. Setelah itu komunikasikan kepada semua orang agar dapat berjalan beriringan dengan tujuan yang diinginkan.

BACA JUGA   Purnama Sidi Jenggala Manik Berlangsung Dengan Khidmat Dan Penuh Kekeluargaan

2. Menentukan Standard Perilaku Yang Harus Dilakukan Sebagai Nilai Nilai

Perlu adanya pengembangan standar sikap atau prilaku yang menggambarkan bagaimana visi dan misi tersebut diterapkan. Tentukan standard sikap dan perilaku secara tertulis yang dapat diukur. Hal ini perlu dilakukan sebagai pola asumsi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh anggota perusahaan yang berisi sehingga akan menjadikan kualitas kinerja perusahaan yang baik. Apapun jabatannya, semua harus melakukan sikap yang mencerminkan citra organisasi.

Selain itu standard sikap dan perilaku yang merupakan cikal bakal budaya organisasi ini seharunya dilakukan oleh semua orang. Pemimpin organisasi harus bisa menjadi contoh atau role-model bagi seluruh anggota / karyawannya dengan menjalankan standard perilaku tersebut dalam kehidupan sehari – hari mereka. 

3. Komunikasi Efektif

Transformasi budaya bukanlah pekerjaan mudah, namun perlu dilakukan untuk memastikan keberhasilan usaha jangka panjang. Perusahaan perlu menerapkan konsistensi dalam menekankan nilai-nilai budaya yang dimiliki perusahaan termasuk masalah komunikasi, kerjasama dalam melaksanakan pekerjaan, dan toleransi serta pemberian penghargaan terhadap semua anggota perusahaan yang berprestasi.

Hal tersebut memberikan dampak positif terhadap pencapaian tujuan organisasi dan perlu dibangun atau dikembangkan. Perlu komitmen dari seluruh SDM yang ada untuk bersungguh-sungguh menjalankannya. Untuk itu perlu komunikasi yang efektif dengan seluruh SDM, agar mereka sungguh-sungguh menjalankan program kerja transformasi.

4. Implementasi Melalui Pelatihan & Pengembangan

Perlu adanya pelatihan-pelatihan untuk SDM yang ada dengan harapan dapat meningkatkan ketrampilan sesuai target perilaku yang dipersyaratkan. Pelatihan akan membantu mengembangkan ketrampilan dan kemampuan dalam bekerja yang tentu saja hal ini akan mempermudah dalam menerapkan budaya organisasi yang baik.

Pelatihan juga dapat menjadi kesempatan untuk para pemimpin membagi pengalaman mereka untuk memotivasi serta menghidupi nilai-nilai yang ada untuk mencapai kesuksesan.

5. Apresiasi dan Konsekuensi

Terkait dengan pelaksanaan penerapan standar sikap atau prilaku yang seharusnya mereka lakukan dapat diberikan dukungan bagi mereka yaitu dengan pemberian penghargaan atau apresiasi bagi yang menerapkan sikap dan perilaku yang sudah ditentukan dengan baik atau yang di atas standar serta dapat juga dengan pemberikan konsekuensi bagi mereka yang tidak bersikap sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

6. Evaluasi Melalui Penilaian Kinerja Secara Berkala 

BACA JUGA   Optimalisasi Budaya Kerja Pada Perusahaan Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Karyawan

Perlu adanya evaluasi dengan memasukan nilaian sikap dan perilaku yang distandarkan ke dalam penilaian kinerja SDM. Hal ini untuk mengukur kesesuaian antara kinerja dengan sikap atau perilaku SDM sudah sesuai dengan standard perilaku atau nilai – nilai yang sudah ditentukan guna mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan bersama.

Dengan evaluasi secara berkala akan merdorong SDM untuk memberikan perilaku dan sikap kerja terbaiknya. Evaluasi dan penilaian kinerja dapat dilakukan dengan beberapa cara yang hendaknya dilakukan secara transparan dan objektif.

Budaya organisasi dapat disesuaikan sesuai dengan perkembangan usaha, khususnya dalam strategi pencapaian target yang sering kali berubah. Misalnya dalam rencana pengembangan usaha baru, maka proses kerja, sistem teknologi dan kompetensi SDM juga harus mengalami perubahan yang berarti.

Sedangkan untuk perusahaan tradisional yang berubah menjadi perusahaan digital, perlu merubah perilaku karyawan dan mutu layanan agar sesuai dengan tuntutan pelanggan, kondisi pasar dan ekosistem bisnis. Transformasi digital membutuhkan budaya customer centrics, dimana perusahaan harus memahami kebutuhan pelanggan dan memastikan proses service design hingga customer experience yang memuaskan.

Dalam upaya untuk memudahkan proses perubahan strategi tersebut perusahaan dapat memulai dengan melakukan penyesuaian budaya organisasi, karena hal ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan aktivias organisasi, karena budaya organiasi sangat penting dalam meningkatkan pengembangan organisasi dan pengambilan setiap kebijakan yang dilakukan dalam organisasi.

Budaya melayani pelanggan menjadi bersifat personal atau customized, perusahaan harus mampu menawarkan berbagai solusi dan business model yang sesuai dengan kondisi pelanggan. Budaya perusahaan menuntut karyawan untuk senantiasa pro-aktif terhadap pelanggan, menggunakan IT tools untuk data analytics atau karyawan terbiasa menggunakan data dalam bekerja dan mengambil keputusan.

Dibidang organisasi, struktur organisasi menjadi ramping dan birokrasi semakin pendek, namun harus bisa bekerja dan berkolaborasi untuk mengerjakan proyek-proyek secara cepat, mendorong lahirnya inovasi diberbagai bidang kerja, serta menerima kesalahan atau kegagalan atas proyek yang dijalankan.

Pimpinan organisasi hendaknya merumuskan sebuah aturan terhadap proses perubahan budaya, Dibutuhkan pemimpin yang bisa membangun budaya organisasi dengan meletakkan inovasi sebagai kunci keberhasilan usaha yang didukung oleh SDM yang kompeten serta memiliki komitmen yang tinggi.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adaptasi dari semua SDM yang ada di dalam perusahaan. Adaptasi sangatlah penting dalam mempermudah proses penyesuaian di dalam perusahaan terhadap berbagai perubahan lingkungan yang terjadi. Hal ini diperlukan untuk keberlangsungan hidup perusahaan dan juga sebagai tantangan dalam pengembangan perusahaan. ***

Artikel Lainnya

Back to top button